Saham bank-bank besar mengalami tekanan pada hari kedua perdagangan tahun 2026. Sebagian besar saham perbankan besar melemah, kecuali PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) yang mampu mencatatkan penguatan pada sesi perdagangan Senin (5/1/2026).
PT Bank Mandiri (Persero) Tbk (BMRI) mencatat penurunan sebesar 0,49% ke harga Rp5.050 per saham. Secara year to date (YtD), saham BMRI telah terkoreksi sebesar 1,46%. Begitu juga dengan PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk (BBNI) yang turun 0,7% ke level Rp4.230 per saham, dengan koreksi YtD mencapai 2,53%. PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BBRI) juga melemah 0,27% ke Rp3.630 per saham, dengan penurunan YtD sebesar 0,82%.
Sementara itu, BBCA menutup perdagangan dengan kenaikan 0,62% atau 50 poin, berada di angka Rp8.075 per saham. Meski demikian, pergerakan saham BBCA secara YtD masih relatif datar. Pelemahan ini merupakan kelanjutan tren negatif yang dialami saham perbankan sepanjang tahun 2025.
Analis dari Kiwoom Sekuritas, Miftahul Khaer, menyatakan bahwa koreksi saham big banks di tahun lalu justru memberikan peluang menarik. “Valuasi saham bank besar setelah koreksi 2025 sudah masuk area yang lebih menarik secara historis,” katanya. Menurut Miftahul, perbaikan valuasi terutama berlaku bagi bank dengan kualitas aset yang kuat dan profitabilitas stabil.
Miftahul menambahkan bahwa peluang rebound saham perbankan sangat terbuka pada 2026. Namun, volatilitas jangka pendek tetap harus diwaspadai, terutama dipengaruhi oleh tren suku bunga global dan dinamika likuiditas pasar.
Faktor utama yang diyakini bakal menggerakkan pemulihan saham bank besar meliputi beberapa aspek penting:
1. Kebijakan moneter yang lebih akomodatif dari otoritas keuangan.
2. Normalisasi biaya dana (cost of fund) yang lebih baik.
3. Peningkatan margin bunga bersih (net interest margin/NIM).
4. Pertumbuhan kredit berkualitas sejalan dengan pemulihan daya beli masyarakat.
Para investor disarankan untuk mencermati dinamika tersebut dengan hati-hati. Meski prospek fundamental cukup positif, sentimen pasar yang dipengaruhi kondisi makroekonomi global masih bisa menjadi faktor risiko jangka pendek.
Saham bank besar memang menjadi sektor yang layak diamati pada tahun ini. Koreksi yang sudah terjadi memberikan indikator bahwa harga sudah memasuki level yang lebih masuk akal untuk investasi jangka menengah hingga panjang. Namun, keputusan investasi tetap harus didasarkan pada analisa menyeluruh dan profil risiko masing-masing investor.
Kondisi ini menunjukkan bahwa saham big banks masih belum lepas sepenuhnya dari tekanan, tetapi memiliki landasan untuk potensi kenaikan di masa mendatang apabila kondisi makro dan kebijakan mendukung. Pergerakan pasar di awal tahun akan menjadi barometer penting untuk menilai arah saham perbankan pada 2026.
Baca selengkapnya di: finansial.bisnis.com




