Advertisement

Rupiah Ditutup Melemah Tipis, Kurs Stabil di Level Rp 16.740 Hari Ini

Nilai tukar rupiah kembali mengalami tekanan pada penutupan perdagangan Senin, 5 Januari 2026. Rupiah melemah 0,09 persen atau turun 15 poin ke level Rp16.740 per dolar AS dari posisi penutupan Jumat, 2 Januari 2026 yang berada di Rp16.725 per dolar AS.

Penguatan dolar Amerika Serikat menjadi faktor utama pelemahan rupiah. Indeks dolar AS naik 0,26 persen menjadi 98,68, mencerminkan permintaan global terhadap mata uang Negeri Paman Sam yang meningkat.

Pengaruh Ketidakpastian Geopolitik Global

Pengamat mata uang Ibrahim Assuaibi menyampaikan bahwa tekanan rupiah terutama disebabkan oleh ketegangan geopolitik yang kembali muncul di panggung internasional. Salah satu pemicu signifikan adalah operasi militer AS yang berujung pada penahanan Presiden Venezuela, Nicolas Maduro.

Operasi ini merupakan intervensi AS yang terbesar dalam beberapa dekade terakhir dan memunculkan kecaman dari berbagai negara. Menurut Ibrahim, langkah tersebut meningkatkan kekhawatiran pasar global dan menambah sentimen negatif terhadap mata uang negara berkembang.

Presiden AS Donald Trump menegaskan penangkapan Maduro sebagai tindakan tegas melawan rezim yang dianggap kriminal, sekaligus berjanji mendukung proses transisi pemerintahan yang aman di Venezuela. Selain itu, Trump juga memberikan sinyal ancaman terhadap negara seperti Kolombia dan Iran serta mengangkat kembali wacana pengambilalihan Greenland.

Serangkaian pernyataan politik dan operasi militer ini membuat pasar semakin memilih dolar AS sebagai aset aman, sehingga rupiah dan mata uang negara berkembang lainnya mengalami pelemahan.

Faktor Regional dan Stimulus Ekonomi China

Dari regional Asia, perhatian pasar tertuju pada rencana stimulus ekonomi Cina sebesar 62,5 miliar yuan atau sekitar US$8,94 miliar. Paket stimulus ini bertujuan meningkatkan konsumsi domestik dengan memperpanjang subsidi pada produk elektronik dan barang konsumsi hingga akhir tahun.

Dukungan Beijing terhadap konsumsi domestik ini diharapkan bisa menjaga momentum pertumbuhan ekonomi kawasan. Namun, dampaknya terhadap nilai tukar rupiah masih terbatas karena tekanan eksternal yang lebih dominan.

Kondisi Neraca Perdagangan Indonesia

Di dalam negeri, data Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat neraca perdagangan Indonesia tetap surplus sebesar US$2,66 miliar pada November 2025. Hal ini menandai surplus perdagangan selama 67 bulan berturut-turut sejak Mei 2020.

Rinciannya, nilai ekspor turun 6,6 persen secara tahunan menjadi US$22,52 miliar akibat melemahnya ekspor nonmigas seperti bahan bakar mineral, lemak dan minyak nabati, serta besi dan baja. Sementara impor juga turun 0,46 persen menjadi US$19,86 miliar.

Surplus perdagangan November 2025 terutama didukung sektor nonmigas dengan kontributor utama dari lemak dan minyak hewani nabati, bahan bakar mineral, dan besi baja. Meski surplus masih terjaga, adanya potensi penyempitan surplus patut diwaspadai pada 2026.

Risiko dan Tantangan ke Depan

Ibrahim mengingatkan beberapa risiko yang perlu diperhatikan selama tahun ini. Tekanan terhadap permintaan global yang melemah dan volatilitas harga komoditas berpotensi menekan kinerja perdagangan dan nilai tukar rupiah.

Selain itu, ketidakpastian geopolitik dan kebijakan moneter AS yang mungkin tetap ketat bisa menambah volatilitas pasar. Investor serta pelaku pasar perlu memantau perkembangan global secara seksama untuk mengantisipasi perubahan sentimen pasar.

Penutupan perdagangan Senin ini mencerminkan dinamika interaksi antara faktor eksternal dan domestik yang kompleks. Pergerakan rupiah ke depan akan sangat dipengaruhi oleh perkembangan geopolitik global dan kondisi ekonomi domestik yang terus berkembang.

Baca selengkapnya di: www.beritasatu.com

Berita Terkait

Back to top button