BRI Finance menunjukkan optimisme tinggi terhadap pertumbuhan pembiayaan modal kerja pada tahun 2026. Hal ini didukung oleh tren positif kebutuhan modal kerja, khususnya dari sektor UMKM dan sektor produktif yang menjadi fokus utama peningkatan likuiditas untuk mendorong kelangsungan serta perluasan usaha.
Direktur Utama BRI Finance, Wahyudi Darmawan, menegaskan bahwa prospek pembiayaan modal kerja sangat sejalan dengan pandangan OJK. Otoritas Jasa Keuangan memperkirakan permintaan pembiayaan modal kerja akan terus meningkat, terutama didorong oleh kebijakan pemerintah yang mendukung pertumbuhan ekonomi dan kemudahan akses pembiayaan.
Pertumbuhan Pembiayaan Modal Kerja di BRI Finance
Per November 2025, BRI Finance mencatat pertumbuhan pembiayaan modal kerja sebesar 11,40% secara year-on-year (YoY). Sektor perdagangan menjadi dominasinya dengan kenaikan disburse hingga 76,67% dibandingkan total pembiayaan modal kerja yang disalurkan. Kontribusi pembiayaan modal kerja terhadap total portofolio BRI Finance mencapai 3,38%, menandakan peran penting produk tersebut dalam kinerja perusahaan.
Faktor kunci yang membuat BRI Finance optimistis adalah stabilitas ekonomi domestik dan penerapan pengelolaan risiko yang prudent. Di samping itu, perusahaan terus mengembangkan inovasi produk pembiayaan yang sesuai dengan kebutuhan debitur dan dinamisnya kondisi pasar.
Tantangan dan Strategi Pengelolaan Risiko
Wahyudi mengakui bahwa terdapat sejumlah tantangan signifikan yang harus dihadapi dalam penyaluran pembiayaan modal kerja. Fluktuasi kondisi ekonomi, kualitas dan transparansi laporan keuangan debitur, serta risiko arus kas dan ketepatan pembayaran menjadi perhatian utama.
Selain itu, karakteristik usaha yang beragam dan siklus bisnis yang berbeda menuntut pendekatan pembiayaan yang lebih selektif dan fleksibel. BRI Finance merespon hal ini dengan memperkuat proses analisis dan underwriting. Perusahaan juga memanfaatkan teknologi dan data untuk menilai profil risiko debitur secara lebih akurat serta melakukan pemantauan portofolio secara berkelanjutan. Pendekatan ini diharapkan mampu menjaga kesehatan portofolio sekaligus mendorong pertumbuhan yang berkelanjutan.
Dukungan dari Pemerintah dan Regulasi OJK
Kebijakan pemerintah yang pro-pertumbuhan menjadi fondasi penting bagi berkembangnya pembiayaan modal kerja. Kemudahan akses pembiayaan dan stabilitas ekonomi nasional mendukung aktivitas usaha produktif dan UMKM agar tetap bertahan sekaligus tumbuh.
Otoritas Jasa Keuangan melaporkan bahwa pembiayaan modal kerja masih menjadi tulang punggung pertumbuhan industri multifinance. Data OJK menunjukkan pembiayaan modal kerja tumbuh 9,28% secara YoY hingga Oktober 2025 dengan nilai mencapai Rp53,19 triliun. Angka ini menyumbang 10,53% dari total piutang pembiayaan di industri multifinance, memperkuat posisi pembiayaan modal kerja sebagai motor utama pendorong ekspansi sektor pembiayaan.
Potensi Pertumbuhan Pembiayaan Modal Kerja 2026
Berdasarkan kondisi tersebut, BRI Finance menyiapkan strategi jangka panjang untuk penetrasi pasar pembiayaan modal kerja. Mereka fokus pada segmen UMKM dan usaha produktif yang memiliki potensi besar untuk tumbuh, di tengah upaya stabilisasi ekonomi nasional. Penyaluran pembiayaan yang terintegrasi dengan pengelolaan risiko yang baik menjadi kunci keberhasilan dalam menghadapi tantangan makroekonomi serta memperkuat fundamental pembiayaan.
Pemantauan data pasar dan respons cepat terhadap perubahan kondisi juga menjadi prioritas utama. BRI Finance memanfaatkan teknologi finansial untuk meningkatkan kecepatan, transparansi, dan efisiensi proses pembiayaan modal kerja. Langkah ini diharapkan dapat meningkatkan daya saing perusahaan dan memperluas jaringan debitur berkualitas.
Dengan berbagai faktor penunjang dan manajemen risiko yang matang, BRI Finance memproyeksikan pembiayaan modal kerja akan tumbuh positif dan menjadi kontributor utama dalam pencapaian target pertumbuhan industri multifinance pada tahun 2026.
Baca selengkapnya di: finansial.bisnis.com




