Advertisement

Laba Bank Swasta Meningkat Signifikan, Bank BUMN Alami Penurunan Periode Terbaru

Perubahan kinerja laba perbankan hingga November 2025 menunjukkan pola yang kontras antara bank swasta dan bank BUMN. Bank-bank swasta justru mencatatkan kenaikan laba bersih, sementara bank-bank BUMN mengalami penurunan laba jika dibandingkan dengan periode yang sama tahun lalu.

PT Bank Central Asia Tbk. (BBCA) menjadi bank dengan laba terbesar pada November 2025, mencapai Rp52,66 triliun atau naik 4,35% dibandingkan dengan Rp50,47 triliun pada November 2024. Di sisi lain, bank pelat merah seperti PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk. (BBRI), PT Bank Mandiri (Persero) Tbk. (BMRI), dan PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk. (BBNI) mencatat penurunan laba masing-masing sebesar 9,12%, 6,41%, dan 6,01% secara tahunan.

Faktor Penurunan Laba pada Bank BUMN

Penurunan laba pada bank BUMN terutama dipicu oleh tiga faktor utama. Pertama, pertumbuhan pendapatan inti mengalami perlambatan. Kedua, biaya dana meningkat sehingga margin bunga bersih menyempit. Ketiga, beban kerugian penurunan nilai kredit yang membengkak akibat kenaikan kredit bermasalah.

Kepala Ekonom PT Bank Permata Tbk., Josua Pardede, menjelaskan bahwa bank pelat merah memiliki porsi pembiayaan yang signifikan pada sektor prioritas pemerintah seperti UMKM dan Kredit Usaha Rakyat (KUR). Namun, kini pertumbuhan kredit UMKM dan KUR sudah memasuki wilayah negatif. Rasio kredit bermasalah UMKM masih tinggi di angka 4,51%, sedangkan kredit KUR terkontraksi 2,25% secara tahunan.

Kondisi ini memaksa bank-bank BUMN meningkatkan pencadangan kredit. Beban kerugian penurunan nilai aset keuangan tercatat mencapai Rp37,84 triliun, meskipun pendapatan bunga bersih tetap besar sekitar Rp103,41 triliun. Peningkatan pencadangan ini menjadi salah satu penyebab utama menurunnya laba bersih hingga Rp45,45 triliun pada November 2025.

Selain itu, faktor lain yang menekan laba bank BUMN adalah kenaikan biaya operasional yang wajar terjadi pada bank dengan jaringan besar dan agenda transformasi masif. Normalisasi pendapatan nonbunga yang tidak berulang juga memberi tekanan tambahan pada profitabilitas.

Josua menekankan bahwa penurunan laba bank BUMN lebih mencerminkan pengetatan kualitas laba melalui pencadangan ketat dan tekanan margin bunga, bukan karena hilangnya pendapatan inti secara drastis.

Bank Swasta Tunjukkan Performa Positif

Sementara itu, bank-bank swasta mencatatkan pertumbuhan laba yang cukup solid sampai November 2025. PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk. (BTN) bahkan mencatat kenaikan laba tertinggi, sebesar 21,10% YoY. PT Bank Permata Tbk. menyusul dengan pertumbuhan laba 12,72% YoY, kemudian PT Bank Syariah Indonesia Tbk. (BRIS) naik 8,20%, dan PT Bank Danamon Indonesia Tbk. (BDMN) tumbuh 7,61%.

Bank swasta berhasil mengelola biaya dana lebih efisien dan fokus pada pertumbuhan pendapatan berbasis jasa. Struktur pendanaan yang didominasi oleh giro dan tabungan dengan bunga rendah meningkatkan daya saing margin bunga bersih. Beban kerugian penurunan nilai kredit juga lebih terkendali bahkan ada bank yang mencatat pemulihan kualitas aset.

Fokus pada segmen kredit yang risikonya terukur dan disiplin penetapan harga kredit menjadi kunci keberhasilan. Pendapatan jasa terkait transaksi nasabah, pembiayaan perdagangan, dan layanan treasury turut mendorong profitabilitas bank swasta.

Bank syariah besar memperoleh manfaat dari pertumbuhan pembiayaan syariah dan dana murah berbasis tabungan. Peningkatan manajemen risiko juga menurunkan kebutuhan pencadangan, sehingga laba dapat tumbuh positif.

Bagi bank yang menekankan pembiayaan perumahan, pertumbuhan laba didukung oleh perbaikan biaya risiko, perbaikan struktur pendanaan, serta stabilisasi margin kredit kepemilikan rumah. Hal ini membuat portofolio pembiayaan perumahan tidak hanya besar, tapi juga berkualitas.

Rangkuman Data Laba Per November 2025

  1. BBCA: Rp52,66 triliun (naik 4,35% YoY)
  2. BBRI: Rp45,44 triliun (turun 9,12% YoY)
  3. BMRI: Rp44,14 triliun (turun 6,41% YoY)
  4. BBNI: Rp18,62 triliun (turun 6,01% YoY)
  5. BRIS: Rp6,70 triliun (naik 8,20% YoY)
  6. BNGA: Rp6,15 triliun (naik 5,19% YoY)
  7. NISP: Rp4,62 triliun (naik 2,66% YoY)
  8. BNLI: Rp3,43 triliun (naik 12,72% YoY)
  9. BDMN: Rp3,09 triliun (naik 7,61% YoY)
  10. BBTN: Rp2,91 triliun (naik 21,10% YoY)

Kinerja laba yang beragam ini menunjukkan pengaruh kuat dari struktur portofolio dan siklus pencadangan masing-masing bank. Bank swasta yang mengutamakan efisiensi biaya dana dan kualitas kredit memiliki peluang lebih besar meraih laba tumbuh positif. Sebaliknya, bank BUMN yang fokus pada program prioritas pemerintah perlu menghadapi tantangan pencadangan dan tekanan margin bunga.

Dengan ini, gambaran kondisi industri perbankan Indonesia per November 2025 memberikan indikasi bahwa adaptasi terhadap dinamika kredit dan efisiensi operasional adalah kunci keberhasilan profitabilitas dalam kondisi pasar yang kompetitif.

Baca selengkapnya di: finansial.bisnis.com

Berita Terkait

Back to top button