Advertisement

IHSG Diprediksi Tembus Level Tinggi, Faktor Pendukung Jadi Katalis Reli Pasar Modal

Penguatan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) pada awal tahun 2026 menunjukkan optimisme pasar modal domestik. Laporan keuangan perusahaan tercatat yang membaik menjadi faktor utama penggerak IHSG ke level lebih tinggi.

Guru Besar Universitas Indonesia, Budi Frensidy, memperkirakan kinerja keuangan emiten tahun 2025 lebih baik dibandingkan 2024. Ekspektasi ini memperkuat sentimen positif yang memicu reli pasar saham.

Sentimen Positif dari Laporan Keuangan Emiten
Budi menyampaikan bahwa laba dan kinerja keuangan perusahaan yang makin solid diharapkan mendorong IHSG menempuh tren naik. Hal ini sejalan dengan penguatan IHSG yang sempat menyentuh angka mendekati 9.000 dalam dua hari pertama perdagangan tahun ini.

Rully Arya Wisnubroto, Head of Research & Chief Economist Mirae Asset Sekuritas Indonesia, juga menegaskan bahwa tren positif IHSG diperkirakan berlanjut di tahun 2026. Rully menargetkan IHSG dapat menembus level 10.500 dalam waktu dekat.

Data Perdagangan yang Menunjukkan Aktivitas Pasar yang Ramai
Pada perdagangan Selasa, 6 Januari 2026, IHSG menguat 68,28 poin atau 0,77% ke level 8.927,47. Aktivitas pasar sangat tinggi dengan lebih dari 4 juta frekuensi transaksi. Tercatat sekitar 62,91 miliar saham berpindah tangan dengan nilai transaksi mencapai Rp30,54 triliun.

Dari keseluruhan saham yang diperdagangkan, 402 saham menguat, 264 saham melemah, dan 145 saham stagnan, menggambarkan dominasi sentimen positif yang cukup kuat pada pasar modal domestik.

Faktor Global yang Juga Mendorong IHSG
Selain faktor domestik, sentimen global turut memberikan angin segar bagi IHSG. Stabilitas harga minyak dunia menjadi faktor kunci di tengah ketegangan geopolitik yang terjadi antara Amerika Serikat dan Venezuela.

Menurut Budi Frensidy, pasar keuangan mendapat sinyal positif dari harga minyak yang relatif stabil walau konflik geopolitik meningkat. Namun, ia juga mengingatkan risiko eskalasi ketegangan yang dapat membuat pelaku pasar melakukan diversifikasi aset dengan menjual saham dan beralih ke emas atau kripto.

Potensi Risiko Geopolitik dan Respons Pasar
Situasi ketegangan geopolitik menyebabkan ketidakpastian di pasar global. Jika konflik antara negara besar semakin meluas, risiko pergeseran aset akan meningkat dan dapat memperlemah pasar saham secara global.

Budi menilai reaksi pasar terhadap konflik tersebut bisa berupa pelemahan saham dan pergerakan dana ke instrumen safe haven seperti emas. Hal ini harus tetap diwaspadai oleh investor sebagai bagian dari strategi pengelolaan risiko investasi.

Rangkuman Data Kunci: Perdagangan IHSG 6 Januari 2026

  1. IHSG menguat 0,77% ke angka 8.927,47.
  2. Frekuensi transaksi mencapai 4.047.267 kali.
  3. Total volume perdagangan mencapai 62,91 miliar saham.
  4. Nilai transaksi mencapai Rp30,54 triliun.
  5. Jumlah saham menguat sebanyak 402, melemah 264, dan stagnan 145.

Sentimen optimistis yang didukung oleh fundamental emiten yang membaik dan faktor global yang relatif kondusif mendorong IHSG berpotensi menembus level psikologis 10.500 pada tahun ini. Namun, investor perlu tetap memperhatikan dinamika geopolitik yang dapat memengaruhi pergerakan pasar di waktu mendatang.

Berita Terkait

Back to top button