Alasan Gen Z Mengalami Tantangan Besar dalam Mencari Pekerjaan Saat Ini

Pandemi Covid-19 telah meninggalkan dampak besar pada dunia pendidikan dan kesempatan kerja bagi generasi muda, khususnya Gen Z. Hingga akhir 2025, hampir satu juta orang usia 16-24 tahun di Inggris tercatat sebagai NEET (Not in Education, Employment, or Training), yang menunjukkan mereka tidak sedang bersekolah, bekerja, maupun mengikuti pelatihan. Dari jumlah tersebut, 600.000 di antaranya bahkan tidak aktif mencari pekerjaan, memperlihatkan betapa sulitnya akses kerja bagi generasi ini.

Kesulitan utama yang dihadapi Gen Z adalah kurangnya kesiapan karena pandemi mengurangi pengalaman praktis dan interaksi sosial. Pembelajaran daring dan pembatasan interaksi selama masa lockdown membuat mereka kehilangan pengembangan soft skill penting seperti komunikasi dan kerja sama. Julie Leonard, Chief Impact Officer Shaw Trust, menekankan bahwa kehilangan tahun-tahun pendidikan tatap muka menyebabkan gap besar dalam kesiapan kerja dan keterampilan sosial bagi generasi muda ini.

Kesenjangan Soft Skill dan Kesiapan Kerja

Keterampilan seperti kemampuan memimpin, bekerja sama, dan etiket profesional kini menjadi kunci utama agar Gen Z dianggap layak kerja. Leonard menyebut banyak perusahaan besar, seperti KPMG dan PwC, menemukan bahwa pekerja muda kekurangan soft skill yang esensial ini. PwC bahkan mulai menggelar pelatihan ketahanan mental dan sosial sejak 2025 untuk membantu para lulusan baru beradaptasi dengan dunia kerja yang menuntut.

Menurut Leonard, pengembangan soft skill tidak cukup hanya melalui pembelajaran online. Interaksi langsung, seperti berkomunikasi dengan manajer tokok atau pelanggan, sangat dibutuhkan untuk membangun kepercayaan diri dan ketahanan mental. Dia juga menyarankan generasi muda untuk memakai pendekatan tradisional dalam mencari kerja, misalnya mengunjungi langsung tempat kerja dan berbicara secara langsung, daripada hanya mengirim CV secara digital yang berpotensi ditolak oleh sistem otomatisasi atau AI.

Pengaruh Lanskap Rekrutmen yang Berubah

Pasar kerja di tahun 2026 sangat berbeda dengan sebelumnya. Lanskap rekrutmen kini melibatkan teknologi AI yang memfilter pelamar berdasarkan sejumlah kriteria ketat. Hal ini membuat proses melamar kerja secara konvensional menjadi tidak efektif jika tidak dibarengi dengan keterampilan interpersonal dan pengalaman praktis. Akibatnya, Gen Z menghadapi kesulitan lebih besar dalam mendapatkan pekerjaan pertama mereka dibandingkan dengan generasi sebelumnya.

Selain itu, banyak Gen Z yang menganggap pekerjaan sebagai “situationship” — hubungan jangka pendek yang tidak berkomitmen lama. Survei terbaru menunjukkan hampir 50 persen dari mereka siap meninggalkan pekerjaan dalam waktu setahun. Kondisi ini menambah kompleksitas bagi perusahaan yang membutuhkan pekerja dengan loyalitas dan pengembangan jangka panjang, sekaligus menantang Gen Z untuk membangun karir berkelanjutan.

Strategi Membangun Kesiapan Kerja Gen Z

Untuk mengatasi situasi ini, penting bagi generasi muda mengasah soft skill dan mencari pengalaman kerja praktis secara aktif. Leonard menyarankan langkah berikut:

  1. Buat CV yang menarik dan kunjungi langsung tempat kerja seperti toko atau usaha kecil menengah untuk membangun jaringan.
  2. Berkomunikasi dengan manajer atau pemilik usaha agar memperoleh bimbingan langsung serta pengalaman kerja yang relevan.
  3. Ikuti pelatihan soft skill seperti kemampuan presentasi, kolaborasi, dan etiket profesional yang kini disediakan sejumlah korporasi.
  4. Tingkatkan kemampuan beradaptasi dan ketahanan mental melalui pengalaman langsung di lingkungan kerja.

Upaya ini penting supaya Gen Z mampu bersaing dan menyesuaikan diri dengan pasar kerja yang semakin kompleks di tahun 2026. Meskipun tantangan besar, peluang tetap ada bagi mereka yang mau belajar dan beradaptasi dengan perubahan yang ada.

Berita Terkait

Back to top button