Memasuki pekan kedua Januari 2026, harga ayam ras segar di pasar tradisional Indonesia menunjukkan stabilitas dengan angka rata-rata nasional sebesar Rp38.528 per kilogram. Meskipun harga tersebut masih berada di atas harga normal, pergerakan harga mulai konsisten tanpa lonjakan signifikan.
Data terbaru dari Badan Pangan Nasional (Bapanas) per 13 Januari 2026 mencatat fluktuasi harga yang berbeda-beda di tiap wilayah. Hal ini menggambarkan dinamika pasokan dan permintaan yang beragam di berbagai daerah di Indonesia.
Pergerakan Harga Ayam di Beberapa Wilayah
Di Yogyakarta, terjadi penurunan harga ayam ras dari Rp35.250 menjadi Rp34.750 per kilogram. Tren penurunan ini menandai adanya kelonggaran pasokan atau penurunan permintaan sementara di wilayah tersebut.
Wilayah Semarang dan Malang mencatat harga relatif stabil di kisaran Rp37.000 dan Rp38.000 per kilogram. Harga ini menggambarkan kondisi pasar yang cukup stabil dengan keseimbangan antara stok dan konsumsi.
Batam masih menjadi wilayah dengan harga ayam potong segar tertinggi di sekitar Rp45.000 per kilogram. Harga ayam beku di Batam berada di angka Rp42.000 per kilogram, menunjukkan perbedaan harga yang cukup signifikan antara segar dan beku.
Sulawesi Barat tercatat memiliki harga ayam terendah nasional dengan Rp30.950 per kilogram. Harga ini jauh di bawah rata-rata nasional dan bisa menjadi indikator kelebihan pasokan ayam di wilayah tersebut.
Papua Barat berada di posisi sebaliknya dengan harga ayam tertinggi nasional mencapai Rp56.750 per kilogram. Tingginya harga di Papua Barat mengindikasikan tantangan distribusi dan biaya logistik yang lebih tinggi dibanding wilayah lain.
Daftar Harga Ayam Ras Segar per 13 Januari 2026
- Yogyakarta: Rp34.750 per kg (menurun)
- Semarang: Rp37.000 per kg
- Malang: Rp38.000 per kg
- Batam: Rp45.000 per kg (segar) / Rp42.000 per kg (beku)
- Sulawesi Barat: Rp30.950 per kg (terendah nasional)
- Papua Barat: Rp56.750 per kg (tertinggi nasional)
Perbedaan harga yang signifikan di berbagai daerah menggambarkan ketimpangan distribusi dan biaya operasional yang beragam. Selain itu, faktor cuaca serta kebijakan lokal turut memengaruhi ketersediaan dan harga ayam di pasar.
Penting untuk terus memantau perkembangan harga ayam karena komoditas ini sangat menyumbang pada inflasi pangan dan berdampak langsung pada daya beli masyarakat. Pemerintah melalui Bapanas dan PIHPS rutin mengeluarkan data yang diharapkan dapat membantu produsen dan konsumen mengambil keputusan pasokan dan pembelian yang tepat sesuai kondisi pasar saat ini.
Baca selengkapnya di: mediaindonesia.com




