Industri pembiayaan multifinance untuk mobil baru mengalami penurunan sebesar 4,65% secara year-on-year (YoY) hingga November 2025. Minimisnya peluncuran model mobil baru yang menarik menjadi salah satu penyebab utama lesunya permintaan pembiayaan ini.
Direktur Center of Economic and Law Studies (Celios), Bhima Yudhistira, menyatakan pasar mobil baru saat ini belum menunjukkan inovasi signifikan setelah dominasi produk Low Cost Green Car (LCGC). Akibatnya, minat konsumen terutama kelas menengah untuk membeli mobil baru menurun cukup tajam.
Faktor daya beli masyarakat kelas menengah juga semakin terbatas. Sebagian besar dana mereka lebih diutamakan untuk kebutuhan pokok selain membayar cicilan kendaraan bermotor.
Selain itu, tren pemutusan hubungan kerja (PHK) yang mencapai sekitar 88.000 pekerja sepanjang 2025 turut memperlemah permintaan pembiayaan mobil baru. Kesulitan mendapatkan pekerjaan baru berimbas pada pendapatan dan kemampuan membayar cicilan maupun uang muka kendaraan.
Bhima menyarankan pabrikan otomotif untuk menghadirkan model-model baru yang lebih inovatif guna membangkitkan minat konsumen kembali. Segmen mobil keluarga seperti SUV dan MPV dianggap potensial untuk diprioritaskan karena relevansi dan kebutuhan pasar yang masih besar.
Selain itu, evaluasi kebijakan insentif juga perlu dilakukan. Selama 2025, insentif besar justru lebih banyak dialokasikan untuk mobil hybrid yang menyasar kalangan menengah atas. Hal ini membuat insentif kurang menyentuh segmen mobil tipe menengah yang menyumbang volume signifikan pasar.
Kondisi industri pembiayaan mobil bekas justru menunjukkan pertumbuhan 0,42% YoY. Fenomena ini mencerminkan penurunan daya beli konsumen yang beralih ke pilihan mobil bekas sebagai alternatif. Segmen mobil bekas yang paling diminati didominasi oleh kendaraan berbahan bakar bensin, utamanya produk LCGC dan SUV.
Pasar mobil listrik bekas masih belum berkembang optimal. Konsumen masih memiliki kekhawatiran terkait kualitas baterai dan kurangnya indeks harga jual mobil listrik bekas yang stabil di pasaran.
Pengamat industri pembiayaan Jodjana Jody menilai pasar otomotif, khususnya pembiayaan mobil baru dan segmen LCGC, akan terus berada dalam tekanan pada tahun 2026. Tingginya rasio kredit bermasalah (non-performing financing/NPF) sekitar 2,7% membuat perusahaan pembiayaan semakin selektif menyalurkan kredit.
Kondisi tersebut menyebabkan pertumbuhan pembiayaan mobil baru tetap rendah dan cenderung stagnan. Di sisi lain, pasar mobil bekas yang memiliki ukuran dua kali lipat dari mobil baru, masih memberi ruang pertumbuhan meski terbatas.
Jodjana memprediksi sektor pembiayaan mobil akan mengalami pertumbuhan terbatas di kisaran satu digit sepanjang tahun 2026. Oleh karena itu, perusahaan multifinance perlu melakukan diversifikasi usaha untuk memperkuat pertumbuhan.
Strategi yang disarankan adalah memperkuat penetrasi di segmen otomotif yang prospektif, melakukan ekspansi ke segmen non-otomotif, serta menerapkan strategi akuisisi yang hati-hati dan selektif. Pendekatan ini dianggap dapat memperbaiki kinerja industri multifinance di tengah kondisi pasar yang menantang.
Selain itu, ada peluang positif pada segmen mobil niaga dan logistik, termasuk mobil niaga bekas. Ekspansi kawasan industri baru dan pembangunan di wilayah Indonesia Timur membuka potensi pasar baru yang cukup besar untuk kendaraan komersial.
Industri multifinance disarankan fokus menggarap pasar ini agar dapat memanfaatkan kebutuhan kendaraan niaga yang meningkat seiring perkembangan ekonomi regional. Dorongan ke segmen kendaraan niaga juga dianggap bisa mengurangi tekanan di segmen mobil penumpang yang sedang lesu.
Secara keseluruhan, kondisi pembiayaan mobil baru pada kuartal terakhir 2025 dan awal 2026 menunjukkan tantangan signifikan. Namun, dengan inovasi produk, kebijakan insentif yang tepat sasaran, dan strategi bisnis yang adaptif, industri multifinance masih memiliki ruang untuk mencari peluang pertumbuhan di tengah dinamika pasar otomotif yang berubah.
Baca selengkapnya di: finansial.bisnis.com




