Tekanan pada segmen UMKM diperkirakan masih akan berlanjut sepanjang 2026. Kondisi ini disebabkan oleh ketidakpastian geopolitik global dan belum pulihnya permintaan pembiayaan secara menyeluruh.
Meski demikian, beberapa bank besar di Indonesia tetap optimistis terhadap potensi pertumbuhan kredit UMKM. Mereka mempersiapkan strategi yang adaptif dengan kondisi pasar dan perkembangan teknologi digital.
Optimisme Permata Bank dalam Pertumbuhan Kredit UMKM
Direktur Utama Permata Bank, Meliza M. Rusli, menyatakan bahwa bank tetap optimistis melihat pertumbuhan UMKM meskipun kondisi pasar menantang. Permata Bank mengedepankan strategi prudent growth dengan memberikan prioritas pada segmen mikro dan UMKM yang memiliki rekam jejak digital yang baik.
Permata Bank juga mengimplementasikan Innovative Credit Scoring (ICS) untuk menilai debitur secara lebih akurat. Selain itu, kolaborasi dalam ekosistem bisnis diharapkan mampu memperkuat rantai pasok UMKM secara menyeluruh.
Meliza menegaskan komitmen bersama Bangkok Bank untuk mendukung nasabah melalui wawasan, solusi, dan konektivitas antar negara di kawasan Asia Tenggara. Upaya ini diarahkan agar pertumbuhan domestik dapat didorong kembali sekaligus menguatkan ketahanan ekonomi nasional.
Strategi dan Analisis Risiko Allo Bank
Direktur Risiko, Kepatuhan, dan Hukum Allo Bank, Ganda Raharja Rusli, memaparkan bahwa tekanan pada UMKM akan tetap ada di tahun 2026. Risiko tersebar merata di sektor industri, baik UMKM konsumsi maupun produksi yang tergabung dalam ekosistem usaha yang lebih besar.
Ganda menilai peluang usaha cukup terbuka, terutama bagi UMKM yang mendukung industri besar yang sedang berkembang. Oleh sebab itu, lembaga jasa keuangan (LJK) harus menerapkan strategi filtering yang ketat dan pemantauan usaha secara berkelanjutan.
Dengan demikian, bank dapat mengelola keseimbangan antara peluang dan risiko yang ada dalam penyaluran pembiayaan kepada segmen UMKM.
Pendekatan Ecosystem Based Financing oleh BSI
Direktur Retail Banking BSI, Kemas Erwan Husainy, melihat peluang besar bagi UMKM untuk bangkit (rebound) sejalan dengan membaiknya stabilitas ekonomi. Strategi utama BSI adalah menerapkan ecosystem based financing sebagai pendekatan utama.
BSI fokus pada rantai pasok (value chain) industri halal, pesantren, dan komunitas. Cara ini berbeda dengan metode konvensional yang mengandalkan debitur satu per satu secara acak.
Untuk mengatasi risiko yang tetap ada, BSI memitigasinya dengan digitalisasi proses bisnis dan sistem scoring yang lebih akurat. Digitalisasi ini memungkinkan penilaian risiko kredit dilakukan secara cepat dan tepat sasaran.
Data Penyaluran Kredit UMKM pada November 2025
Menurut laporan Bank Indonesia (BI) terkait Perkembangan Uang Beredar, penyaluran kredit UMKM pada November 2025 mengalami kontraksi sebesar 0,7% secara tahunan (YoY). Kondisi ini memburuk dibanding Oktober 2025 yang mencatatkan kontraksi sebesar 0,1% YoY.
Penurunan kredit tersebut terutama terjadi pada segmen mikro dan menengah, masing-masing terkontraksi 5,5% YoY dan 0,6% YoY. Sementara kredit skala kecil justru masih mencatat pertumbuhan sebesar 5,9% YoY, meskipun laju pertumbuhannya melambat jika dibandingkan dengan bulan sebelumnya yang mencapai 6,4% YoY.
Menurut jenis penggunaan, kontraksi kredit UMKM didominasi oleh kredit modal kerja yang turun sebesar 4,1% YoY. Hal ini menunjukkan adanya tekanan pada pembiayaan aktivitas operasional sehari-hari pelaku UMKM.
Faktor Pendukung Pertumbuhan Kredit UMKM
- Regulasi baru yang mendukung kemudahan akses pembiayaan bagi UMKM.
- Penerapan digitalisasi proses kredit yang mempercepat evaluasi dan pengambilan keputusan.
- Penguatan ekosistem usaha melalui kolaborasi berbagai sektor industri.
- Penggunaan teknologi seperti Innovative Credit Scoring yang meningkatkan akurasi penilaian risiko.
- Fokus pada rantai pasok dalam ekosistem industri khusus, seperti halal dan komunitas pesantren.
Strategi yang diterapkan oleh Permata Bank, Allo Bank, dan BSI menunjukkan upaya berkelanjutan untuk mengatasi tantangan pembiayaan UMKM. Digitalisasi dan kolaborasi menjadi kata kunci dalam memanfaatkan peluang sekaligus mengelola risiko yang kompleks pada segmen ini.
Meski kondisi saat ini menunjukkan perlambatan kredit terutama di segmen mikro dan menengah, pendekatan yang tepat dan inovasi produk kredit diyakini akan memperkuat posisi UMKM sebagai penopang utama ekonomi domestik ke depan.
Baca selengkapnya di: finansial.bisnis.com




