Penguatan harga emas yang terus terjadi belakangan ini dipicu oleh pergeseran pola investasi akibat memanasnya tensi geopolitik global. Konflik antara Amerika Serikat (AS) dan Uni Eropa membuat para pelaku pasar beralih dana dari instrumen saham ke aset yang dianggap lebih aman seperti emas dan obligasi.
Risiko geopolitik yang meningkat membuat investor melakukan diversifikasi dengan mengalihkan modal ke instrumen yang lebih stabil. Hal ini menyebabkan tertekannya pasar saham, terutama karena aksi jual bersih (net sell) oleh investor asing di bursa saham Indonesia. Pada perdagangan Rabu (21/1), tercatat aksi jual bersih asing sebesar Rp1,90 triliun.
Pengaruh Ketegangan Geopolitik Terhadap Pasar Saham
Ketegangan akibat pernyataan Presiden AS Donald Trump yang berniat mengakuisisi Greenland serta ancaman tarif terhadap negara-negara anggota NATO memicu kekhawatiran pasar. Uni Eropa menyatakan dukungan penuh untuk Greenland dan Denmark, sementara pasukan negara-negara Eropa Utara bersiap menghadapi potensi operasi di kawasan Arktik. Kondisi ini menimbulkan volatilitas tinggi di pasar saham global, termasuk Indonesia.
Investor global cenderung mengurangi risiko dengan menjual saham, terutama di emerging market seperti Indonesia. Dampaknya, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) menurun signifikan menjadi 9.010,33 pada 21 Januari 2026, turun 1,36 persen. Sektor-sektor yang paling terdampak yaitu perbankan, properti, dan konsumer karena sensitivitasnya terhadap siklus ekonomi.
Perilaku Investor Saat Ketegangan Meningkat
Pengamat pasar modal Reydi Octa menjelaskan saat risiko membesar, investor lebih memilih aset yang dianggap lebih aman seperti emas dan obligasi. Perubahan preferensi ini juga diikuti oleh aksi profit taking dan cut loss di pasar saham, menekan indeks secara keseluruhan. Artinya, emas sebagai aset pelindung nilai (safe haven) menjadi pilihan utama ketika kondisi pasar tidak menentu.
Di pasar modal Indonesia, frekuensi perdagangan saham mencapai lebih dari 4 juta transaksi dengan volume perdagangan sebesar 61,67 miliar lembar saham senilai Rp34,22 triliun pada hari yang sama. Namun volume ini tidak mampu meredam tekanan aksi jual asing yang dominan, memperkuat tren kenaikan harga emas akibat permintaan yang meningkat.
Faktor-Faktor Pendukung Kenaikan Harga Emas
- Ketegangan geopolitik global yang meningkat, memacu investor untuk mengalihkan investasi ke emas.
- Penurunan daya tarik pasar saham akibat aksi jual bersih, khususnya di negara emerging market.
- Sentimen negatif terkait potensi perang dagang dan tarif impor yang merugikan negara-negara utama.
- Dukungan sentimen safe haven dari investor yang ingin melindungi nilai asetnya dari volatilitas pasar.
Secara keseluruhan, harga emas saat ini mencerminkan kekhawatiran pasar terhadap ketidakpastian global. Investor yang mencari stabilitas cenderung meningkatkan porsi emas dalam portofolionya. Perkembangan geopolitik ke depan akan tetap menjadi faktor utama yang menentukan arah pergerakan harga emas dan dinamika pasar modal dunia.
Dengan memahami mekanisme ini, pelaku pasar dapat lebih bijak dalam mengambil keputusan investasi. Kenaikan harga emas bukan semata karena faktor ekonomi dalam negeri, melainkan dipengaruhi sangat kuat oleh sentimen global yang sedang bergejolak.
Baca selengkapnya di: mediaindonesia.com




