Ini Dia Penyebab Kredit Nganggur Masih Tinggi Menurut Pengawasan OJK

Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mengungkapkan bahwa porsi kredit yang belum disalurkan atau disebut undisbursed loan di perbankan masih cukup besar hingga akhir tahun 2025. Data menunjukkan angka ini mencapai Rp2.439,2 triliun, atau sekitar 22,12% dari total plafon kredit yang tersedia di bank.

Menurut Kepala Eksekutif Pengawas Perbankan OJK, Dian Ediana Rae, hal ini terjadi karena pelaku usaha masih berhati-hati dalam melakukan ekspansi. Kondisi ekonomi global dan domestik serta iklim investasi menjadi faktor utama yang mempengaruhi keputusan mereka untuk mulai menggunakan fasilitas pinjaman tersebut.

Pertumbuhan Kredit dan Faktor Penghambat Penggunaan Kredit

Bank Indonesia (BI) melaporkan bahwa pertumbuhan kredit perbankan pada Desember 2025 mencapai 9,69% secara tahunan, berada di kisaran target otoritas moneter yang berkisar antara 8-11%. Kredit investasi mengalami lonjakan tertinggi dengan pertumbuhan tahunan sebesar 21,06%. Sementara kredit modal kerja dan kredit konsumsi tumbuh masing-masing 4,52% dan 6,58%.

Meski demikian, masih ada cukup banyak kredit yang belum tersalurkan secara penuh. Gubernur BI Perry Warjiyo menjelaskan bahwa kapasitas pembiayaan bank masih memadai dengan rasio Alat Likuid terhadap Dana Pihak Ketiga (AL/DPK) sebesar 28,57% dan pertumbuhan dana pihak ketiga mencapai 13,83%. Ini menandakan bank memiliki dana yang cukup untuk mendukung penyaluran kredit lebih luas.

Kendala dalam Penyaluran Kredit

Salah satu tantangan yang dihadapi adalah risiko kredit yang masih tinggi, terutama pada segmen kredit konsumsi dan Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM). Oleh karena itu, bank cenderung lebih ketat dalam melonggarkan persyaratan pemberian kredit pada sektor tersebut. Sementara untuk sektor lain, pengetatan sudah mulai berkurang sehingga minat penyaluran kredit perbankan mulai membaik.

Selain faktor risiko, pelaku usaha juga masih menunggu kondisi perekonomian dan prospek bisnis menunjukkan perbaikan signifikan agar mereka merasa yakin untuk mengeksekusi penggunaan kredit tersebut. Dian Ediana Rae menyebut bahwa saat prospek ekonomi membaik, pemanfaatan kredit yang tersedia akan segera meningkat.

Prospek dan Harapan Penyaluran Kredit ke Depan

Bank Indonesia memperkirakan pertumbuhan kredit pada tahun 2026 akan berada di kisaran 8-12%. Hal ini didasarkan pada perbaikan kondisi ekonomi dan pelonggaran persyaratan kredit yang secara bertahap dilakukan oleh bank. OJK pun terus mendorong pelaku usaha untuk memanfaatkan fasilitas pinjaman yang belum tersalurkan agar bisa mempercepat ekspansi dan pertumbuhan usaha.

Dengan kapasitas pembiayaan yang masih kuat dan sinyal positif dari perbaikan ekonomi, diharapkan kredit yang belum terealisasi dapat berkurang signifikan dalam waktu dekat. Hal ini penting untuk mendukung pemulihan ekonomi secara keseluruhan serta memperkuat basis investasi dan produktivitas di Indonesia.

Baca selengkapnya di: finansial.bisnis.com

Berita Terkait

Back to top button