Harga emas global mencatat rekor tertinggi sepanjang masa pada perdagangan Kamis, 23 Januari 2026. Emas spot memecahkan level US$4.900 per ons dan mencapai US$4.917,65, atau sekitar Rp 82,7 juta per ons dengan kurs Rp 16.830 per dolar AS.
Lonjakan harga emas ini dipicu oleh sejumlah faktor utama. Ketegangan geopolitik masih berlangsung, sementara dolar AS melemah 0,4 persen sehingga meningkatkan daya tarik emas sebagai aset safe haven. Selain itu, pasar makin yakin The Fed akan memangkas suku bunga sebanyak dua kali pada paruh kedua tahun ini.
Peter Grant, Wakil Presiden dan Senior Metals Strategist di Zaner Metals, menegaskan bahwa pelemahan dolar dan ekspektasi pelonggaran kebijakan moneter AS menjadi pendorong penting permintaan emas. “Tren makro de-dolarisasi masih berlangsung dan meningkatkan minat investor terhadap logam mulia,” jelasnya saat diwawancarai CNBC Internasional.
Dari sisi geopolitik, pernyataan Presiden AS Donald Trump yang mengklaim telah mengamankan akses permanen AS ke Greenland melalui kesepakatan dengan NATO menambah ketidakpastian pasar. Namun, Denmark menegaskan kedaulatannya atas wilayah tersebut sehingga situasi ini tetap menjadi sumber risiko geopolitik.
Data ekonomi AS juga berperan dalam mendorong harga emas. Laporan Personal Consumption Expenditures (PCE) menunjukkan belanja konsumen meningkat secara signifikan pada kuartal terakhir 2025. Hal ini memperkuat ekspektasi pasar bahwa Federal Reserve akan melonggarkan kebijakan moneter melalui pemangkasan suku bunga untuk mendorong pertumbuhan ekonomi.
Peter Grant memperkirakan harga emas bisa menembus US$5.000 per ons dalam waktu dekat. Ia juga melihat level US$5.187,79 sebagai target berikutnya berdasarkan analisis teknikal proyeksi Fibonacci. Dalam skenario ini, setiap penurunan harga emas jangka pendek akan dianggap peluang beli oleh investor.
Tak hanya emas, logam mulia lain juga mencatat kenaikan signifikan. Platina spot melesat 4,6 persen ke US$2.601,03 per ons, sementara paladium menguat 3,3 persen menjadi US$1.900,59 per ons. Harga perak juga menembus rekor tertinggi di US$96,58 per ons karena didorong narasi fundamental yang kuat.
Senior Market Analyst di Tradu, Nikos Tzabouras, mengatakan perak meski bukan aset cadangan, masih banyak diuntungkan oleh arus safe haven dan pelemahan dolar. Hal ini mendukung perak sebagai pilihan investasi alternatif bagi para pelaku pasar.
Di Indonesia, harga emas pun bergerak naik signifikan dan telah menyentuh Rp3 juta per gram. Analis memperkirakan tren kenaikan ini akan berlanjut dengan target berikutnya bisa mencapai Rp118 juta per gram. Lonjakan harga emas domestik ini dipengaruhi oleh pergerakan harga emas dunia yang terus menguat.
Dengan berbagai faktor internasional dan domestik yang mendukung, momentum reli harga logam mulia kemungkinan besar akan berlanjut dalam waktu dekat. Para investor dianjurkan untuk memanfaatkan volatilitas harga sebagai peluang masuk pasar, khususnya saat ada koreksi harga jangka pendek.
Berbagai dinamika geopolitik, data ekonomi AS, serta kebijakan moneter The Fed menjadi faktor kunci yang terus menggerakkan harga emas dan logam mulia lainnya di pasar global. Proyeksi harga emas mencapai atau bahkan melampaui US$5.000 per ons semakin menguat seiring meningkatnya ketidakpastian di pasar keuangan.





