Bank Indonesia (BI) membuka peluang bagi dunia perbankan untuk menurunkan suku bunga kredit pada tahun ini. Kebijakan pelonggaran moneter, terutama melalui penurunan BI Rate, mendorong bank-bank menyesuaikan suku bunga secara bertahap dan selektif.
Menurut Advisor Banking & Finance Development Center, Moch Amin Nurdin, penurunan suku bunga kredit tidak akan dilakukan secara agresif. Bank akan fokus menurunkan bunga secara perlahan dan mempertimbangkan berbagai faktor fundamental.
Faktor utama yang memengaruhi keputusan penurunan suku bunga antara lain tekanan nilai tukar rupiah dan kebutuhan menjaga stabilitas sistem keuangan. Selain itu, pengelolaan likuiditas perbankan juga menjadi perhatian penting agar kestabilan sektor tetap terjaga.
Ketidakpastian ekonomi global turut membuat perbankan lebih berhati-hati dalam menurunkan suku bunga. Risiko dari dinamika global diprediksi masih membayangi perekonomian nasional, sehingga manajemen risiko menjadi wajib dalam kebijakan suku bunga.
Bank diperkirakan akan memprioritaskan penurunan bunga pada segmen dengan risiko rendah dan sektor-sektor prioritas. Debitur dengan kualitas kredit yang baik juga mendapat perhatian khusus dalam penyesuaian suku bunga guna mendorong pertumbuhan tanpa mengorbankan stabilitas.
Data BI pada Desember 2025 menunjukkan tren penurunan suku bunga yang cukup signifikan. Suku bunga deposito tenor 1 bulan turun 56 basis poin dari 4,81% menjadi 4,25%, sementara suku bunga kredit melemah 39 basis poin dari 9,20% menjadi 8,81%.
Pendekatan akomodatif dengan kehati-hatian menjadi kunci kebijakan perbankan tahun ini. Bank tetap berusaha mendorong pemulihan ekonomi secara berkelanjutan tanpa mengabaikan aspek stabilitas sistem keuangan yang vital.
Secara keseluruhan, diprediksi tren penurunan suku bunga kredit akan berlangsung bertahap dan selektif sepanjang tahun 2026. Hal ini mencerminkan upaya bank menjaga keseimbangan antara akselerasi pertumbuhan ekonomi dan mitigasi risiko keuangan.
Baca selengkapnya di: finansial.bisnis.com




