Bank CIMB Niaga dan Allo Bank Indonesia sama-sama mencatat perlambatan pertumbuhan kredit konsumer pada Desember 2025. Fenomena ini menunjukkan adanya indikasi pelemahan daya beli masyarakat dalam beberapa bulan terakhir.
Data resmi dari Bank Indonesia mengungkapkan kredit konsumsi pada Desember 2025 mencapai Rp2.351,9 triliun. Angka tersebut tumbuh 6,4% secara tahunan, tapi mengalami perlambatan dibandingkan bulan sebelumnya.
Penurunan Permintaan Kredit Konsumer
Presiden Direktur CIMB Niaga, Lani Darmawan, menilai perlambatan ini dikarenakan menurunnya permintaan kredit konsumer. Dia menjelaskan banyak nasabah, termasuk kalangan primer yang kondisi keuangannya baik, cenderung memilih menyimpan uang tunai. Uang tunai dianggap lebih likuid dan siap digunakan untuk kebutuhan darurat daripada mengikat diri dengan cicilan.
Lani menambahkan bahwa kondisi ini membuat perbankan lebih berhati-hati dalam memberikan kredit. Bank harus menjaga kualitas aset agar tetap sehat. Bila terjadi kredit macet, bank harus menyediakan Cadangan Kerugian Penurunan Nilai (CKPN) yang berdampak pada biaya besar dan menimbulkan beban jangka panjang. Oleh sebab itu, penerapan seleksi kredit yang prudent menjadi hal penting.
Dampak Perlambatan Kredit terhadap Daya Beli
Direktur Risiko, Kepatuhan, dan Hukum Allo Bank, Ganda Raharja Rusli, mengonfirmasi perlambatan kredit konsumer sebagai tanda masyarakat mengurangi pengeluaran. Penurunan daya beli dan penundaan keputusan pembelian barang jadi faktor penyebab utama.
Padahal, menurut Ganda, periode Desember hingga Februari biasanya menjadi masa tersibuk untuk belanja. Momen Natal, Tahun Baru, dan persiapan Ramadan-Lebaran biasanya meningkatkan kebutuhan konsumen. Kondisi ini yang membuat perlambatan kredit konsumer menjadi sinyal adanya perubahan perilaku belanja masyarakat.
Faktor yang Perlu Diperhatikan oleh Bank dan Pemerintah
Dari sisi perbankan, tetap melakukan seleksi ketat pada kelayakan kredit menjadi prioritas. Bank juga harus waspada terhadap potensi risiko kredit bermasalah agar kualitas portofolio kredit tetap terjaga. Selanjutnya, pengawasan terhadap perkembangan daya beli harus terus dipantau agar kebijakan moneter dan fiskal dapat disesuaikan.
Untuk pemerintah, pelambatan ini menjadi alarm bagi kondisi ekonomi mikro di masyarakat. Kebijakan stimulus yang tepat sasaran mungkin diperlukan untuk mengangkat kembali daya beli konsumen. Fokus pada perlindungan pendapatan dan mendorong konsumsi domestik perlu menjadi perhatian utama demi mendukung pertumbuhan ekonomi.
Proyeksi ke Depan
Memperhatikan musim belanja dan kebutuhan konsumsi berikutnya, pangsa pasar kredit konsumer mungkin masih menghadapi tantangan. Bank dan pelaku ekonomi harus bersiap menghadapi kemungkinan perubahan pola pengeluaran masyarakat. Strategi inovatif dan pemantauan ketat terhadap tren konsumsi menjadi kunci agar perlambatan kredit tidak berujung pada dampak ekonomi yang lebih luas.
Dengan kondisi saat ini, baik perbankan maupun otoritas perlu terus mencermati dinamika daya beli dan permintaan kredit konsumer. Langkah-langkah adaptif sekaligus antisipatif menjadi kunci dalam menjaga stabilitas sektor keuangan dan mendukung pemulihan ekonomi nasional.
Baca selengkapnya di: finansial.bisnis.com