BPOM Tingkatkan Jamu Indonesia agar Jadi Warisan Tradisional dengan Daya Saing Global

Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) terus menguatkan peran jamu sebagai warisan budaya nusantara yang memiliki potensi besar untuk bersaing di pasar global. Upaya ini merupakan bagian dari komitmen BPOM dalam mendukung pengembangan herbal Indonesia yang kaya akan sejarah dan khasiat kesehatan.

Kepala BPOM, Taruna Ikrar, menegaskan bahwa jamu tidak hanya produk tradisional biasa, melainkan hasil kearifan lokal yang telah digunakan selama ribuan tahun. Dia menyebutkan bahwa praktik pengobatan herbal sudah ada sejak 31.000 tahun lalu di Kalimantan, termasuk penggunaan tanaman obat untuk membantu penyembuhan dan anestesi.

BPOM mendorong transformasi jamu dari sekadar tradisi menjadi produk yang aman, bermutu, dan inovatif sesuai dengan gaya hidup modern. Jamu dianggap sebagai kekayaan biodiversitas Indonesia yang sangat berharga dan dapat dikembangkan sebagai bagian dari ekonomi kreatif nasional.

Indonesia memiliki kekayaan tumbuhan yang luar biasa, dengan lebih dari 31.000 spesies, di mana ribuan di antaranya memiliki potensi farmakologis. Tak hanya itu, terdapat sekitar 18.000 jenis jamu dan lebih dari 600.000 ragam kuliner tradisional yang menjadi modal kuat dalam pengembangan obat bahan alam berkualitas tinggi.

Nilai ekonomi jamu diperkirakan bisa mencapai Rp350 triliun per tahun jika pengembangannya dilakukan secara optimal. Namun, realisasi industri jamu saat ini masih belum maksimal. Oleh sebab itu, BPOM aktif mendampingi pelaku usaha, terutama UMKM, agar mampu menghasilkan produk jamu yang memenuhi standar keamanan, mutu, dan manfaat.

Pengawasan obat tradisional juga terus diperketat untuk memastikan jamu Indonesia bisa bersaing di kancah internasional. BPOM menegaskan bahwa penerapan standar global bukan untuk membatasi inovasi, melainkan untuk menjaga identitas dan kualitas jamu sebagai simbol budaya dan ekonomi kreatif Indonesia.

Taruna Ikrar mengungkapkan optimisme bahwa pada tahun 2026, ratusan ribu UMKM akan mendapatkan pendampingan dari BPOM. Hal ini diharapkan dapat menjadi semangat baru yang mendorong kemajuan produk jamu dalam negeri dan memperkuat daya saingnya.

Dalam rangka memperkenalkan jamu secara lebih menarik dan modern, BPOM mendukung keberadaan Kafe Jamu Acaraki di kawasan PIK 2 Tangerang. Kafe ini mengusung konsep Jamu Experience Cafe yang estetis dan edukatif, ditujukan untuk menarik minat generasi muda yang hidup di era globalisasi.

Menurut Founder dan Director Acaraki Nusantara Persada, Jony Yuwono, inisiatif ini berfungsi untuk mendekatkan kembali jamu dengan kehidupan sehari-hari masyarakat tanpa menghilangkan nilai tradisionalnya. Pengunjung dapat memahami filosofi jamu, mulai dari aspek spiritual hingga manfaat kesehatan, melalui penyajian yang inovatif dan kekinian.

Implementasi strategi ini menegaskan sinergi antara regulator dan pelaku usaha dalam mengembangkan jamu menjadi produk herbal yang tidak hanya dikenal di dalam negeri, tetapi juga memiliki reputasi di pasar internasional. BPOM terus mendorong inovasi sekaligus menjaga keaslian jamu agar warisan leluhur ini tetap hidup dan berkembang secara berkelanjutan.

Dengan berbagai langkah konkret tersebut, jamu Indonesia berpeluang menjadi duta budaya sekaligus sumber ekonomi yang kuat. Modernisasi dan pendampingan berkelanjutan dari BPOM menjadi faktor kunci dalam menjadikan jamu sebagai komoditas global yang mampu bersaing dan mengangkat nama Indonesia di dunia.

Baca selengkapnya di: www.beritasatu.com

Berita Terkait

Back to top button