Rupiah Melemah Terus, Nilai Tukar Sentuh Level Lemah Terhadap Dolar AS

Rupiah kembali melemah terhadap dolar AS pada perdagangan Kamis, 12 Februari 2026. Nilai tukar rupiah tercatat di posisi Rp 16.828 per dolar AS, menjadi satu-satunya mata uang Asia yang tertekan di tengah pasar regional yang cenderung menguat.

Menurut data Bloomberg, rupiah melemah sekitar 0,25 persen dibandingkan posisi sehari sebelumnya yang ada di Rp 16.786 per dolar AS. Sementara itu, data dari JISDOR Bank Indonesia menunjukkan kurs rupiah berada pada level Rp 16.826 per dolar AS. Pelemahan ini mencerminkan posisi rupiah yang cukup rentan terhadap sentimen ekonomi global maupun domestik.

Faktor Pelemahan Rupiah

Analis Doo Financial Futures, Lukman Leong, menilai pelemahan rupiah terutama dipicu oleh sentimen "risk off" di pasar domestik. Kekhawatiran atas efek penilaian indeks MSCI dan potensi downgrade pada pasar modal menjadi faktor utama yang membuat investor cenderung enggan mengambil risiko.

"Rupiah ditutup melemah terhadap dolar AS akibat kembali munculnya kekhawatiran mengenai efektivitas MSCI dan risiko downgrade," ujar Lukman saat dihubungi. Kondisi ini membuat rupiah sulit untuk menguat meskipun dolar AS sendiri menunjukkan kecenderungan tertekan secara global.

Lukman menambahkan bahwa rebound dolar AS secara internasional juga memberikan tekanan tambahan bagi rupiah. Dolar yang menguat biasanya menjadi pilihan aman sehingga membuat mata uang berkembang, termasuk rupiah, menjadi kurang diminati oleh pelaku pasar.

Pergerakan Mata Uang Asia Lainnya

Berbeda dengan kondisi rupiah, sejumlah mata uang utama Asia justru mengalami penguatan. Won Korea tercatat menguat paling signifikan sebesar 0,44 persen terhadap dolar AS. Peso Filipina juga naik 0,32 persen, diikuti yen Jepang yang menguat 0,20 persen.

Mata uang lainnya yang menguat antara lain:

  1. Ringgit Malaysia: +0,14 persen
  2. Yuan China: +0,13 persen
  3. Baht Thailand: +0,10 persen
  4. Rupee India: +0,09 persen
  5. Dolar Taiwan: +0,08 persen
  6. Dolar Hong Kong: +0,01 persen
  7. Dolar Singapura tercatat stagnan

Penguatan sebagian besar mata uang ini menunjukkan adanya perbedaan sentimen pasar regional yang cukup kontras dengan kondisi rupiah.

Indeks Dolar AS dan Implikasinya

Indeks dolar AS yang mengukur kekuatan dolar terhadap sekelompok mata uang utama dunia juga mencatat kenaikan tipis menjadi 96,89 dari tingkat sebelumnya 96,83. Kenaikan indeks dolar ini biasanya menjadi tekanan tersendiri untuk mata uang negara berkembang termasuk rupiah.

Kondisi tersebut perlu mendapatkan perhatian khusus oleh otoritas moneter Indonesia. Mengingat tekanan rupiah terjadi di tengah situasi di mana pasar menunjukkan preferensi tinggi terhadap aset berisiko rendah, upaya menjaga stabilitas rupiah menjadi tantangan yang harus ditangani secara hati-hati.

Dengan latar belakang tersebut, rupiah masih menghadapi risiko koreksi lebih lanjut jika kondisi sentimen pasar tidak membaik. Para pelaku pasar dan pengambil kebijakan harus memperhatikan dinamika global dan domestik secara bersamaan agar mampu mengantisipasi dampak negatif terhadap nilai tukar dan perekonomian secara keseluruhan.

Baca selengkapnya di: www.suara.com

Berita Terkait

Back to top button