Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Airlangga Hartarto, menyatakan bahwa dalam dua tahun ke depan Indonesia berpotensi mencapai pertumbuhan ekonomi sebesar 8 persen. Hal ini didasarkan pada rencana reformasi struktural yang akan dilaksanakan secara berkelanjutan dan didukung oleh berbagai kebijakan yang harmonis.
Airlangga menjelaskan, pencapaian target tersebut memerlukan optimalisasi berbagai mesin pertumbuhan ekonomi. Beberapa faktor kunci antara lain peningkatan belanja pemerintah dan masyarakat, investasi dari pelaku usaha, serta peran harmonis lembaga pendukung seperti Danantara yang bergerak saling mendukung.
Strategi dan Faktor Pendukung Pertumbuhan Ekonomi
Pertumbuhan ekonomi juga akan ditopang oleh kebijakan yang prediktif dan sistem keuangan yang lebih dalam baik dari sektor perbankan maupun pasar finansial. Pemerintah terus mendorong peningkatan ekspor dengan membuka akses pasar ke berbagai negara, yang diharapkan dapat memperbesar kontribusi sektor perdagangan terhadap perekonomian.
Sebagai contoh, sektor tekstil diperkirakan dapat meningkat hingga sepuluh kali lipat dalam kurun waktu 10 tahun ke depan jika akses pasar dibuka secara penuh. Hal ini tentu berimplikasi positif pada peningkatan lapangan kerja yang signifikan bagi masyarakat.
Airlangga menekankan bahwa fondasi yang kuat dibangun melalui investasi yang kokoh, penyederhanaan birokrasi, dan penegakan hukum yang konsisten sesuai arahan Presiden RI Prabowo Subianto. Langkah ini akan memperkuat kesiapan Indonesia menuju fase pertumbuhan ekonomi yang lebih tinggi atau yang disebut sebagai lepas landas ekonomi.
Kinerja Ekonomi Nasional dan Posisi Indonesia di G20
Di tengah perlambatan ekonomi global, Indonesia tetap menunjukkan kinerja yang kuat. Pada kuartal keempat tahun 2025, pertumbuhan ekonomi Indonesia mencapai 5,11 persen secara tahunan (year-on-year), menjadikan negara ini sebagai negara dengan pertumbuhan tertinggi kedua di antara anggota G20 setelah India.
Pertumbuhan ini sangat didukung oleh konsumsi rumah tangga yang kokoh serta stimulus ekonomi yang tepat sasaran. Stabilitas harga dan peningkatan mobilitas masyarakat khususnya selama periode hari besar keagamaan turut berkontribusi dalam menjaga permintaan domestik.
Selain konsumsi rumah tangga, lembaga nonprofit, investasi, dan belanja modal pemerintah juga mencatatkan kenaikan yang signifikan. Stimulus yang diarahkan ke sektor-sektor prioritas mampu menjadi penyangga efektif bagi risiko perlambatan yang mungkin terjadi.
Perkembangan Sektor dan Indikator Sosial
Sektor ekspor kembali tumbuh positif dengan peningkatan nilai dan volume ekspor yang stabil. Sektor pariwisata pun mencatat kenaikan kunjungan wisatawan yang membantu mempertahankan pertumbuhan industri terkait. Di sisi lain, sektor pertanian, industri pengolahan, serta transportasi dan akomodasi juga memberikan kontribusi kuat terhadap PDB.
Perbaikan indikator sosial tercermin dari penurunan tingkat kemiskinan dan pengangguran, serta membaiknya rasio distribusi pendapatan (Gini ratio). Penyerapan tenaga kerja yang meningkat menunjukkan adanya pertumbuhan lapangan kerja yang lebih merata dan inklusif.
Proyeksi Tahun 2026 dan Sektor Prioritas
Untuk tahun 2026, pemerintah menargetkan pertumbuhan ekonomi di kisaran 5,4-5,6 persen dengan fokus pada sektor pertanian, manufaktur, digital, dan energi. Program prioritas nasional seperti Makan Bergizi Gratis (MBG), Koperasi Desa Merah Putih (KDMP), dan proyek pembangunan tiga juta rumah menjadi bagian strategi untuk mendorong akselerasi produktivitas serta penyediaan lapangan kerja.
Sektor keuangan dan pasar modal diharapkan memainkan peran lebih besar sebagai fasilitator pembiayaan non-APBN. Pendalaman pasar modal, peningkatan porsi saham publik, serta penguatan transparansi kepemilikan menjadi fokus demi memperluas ruang investasi lembaga dana pensiun dan asuransi.
Penguatan Diplomasi Ekonomi dan Kerja Sama Internasional
Dari sisi diplomasi ekonomi, Indonesia memperkuat posisi melalui berbagai perjanjian perdagangan dan kemitraan strategis. Contohnya termasuk Indonesia-European Union Comprehensive Economic Partnership Agreement (IEU-CEPA) dan Indonesia-Canada Comprehensive Economic Partnership Agreement (ICA-CEPA).
Indonesia juga membangun hubungan ekonomi dengan kawasan Eurasia, serta melanjutkan kemitraan melalui Economic Growth Partnership (EGP) dengan Inggris. Upaya penyelesaian kerja sama dengan Amerika Serikat turut menjadi fokus untuk memperkuat integrasi dan daya saing ekonomi nasional di pasar global.
Langkah-langkah tersebut menunjukkan komitmen pemerintah dalam mempersiapkan Indonesia untuk “lepas landas” secara ekonomi. Dengan fondasi yang kokoh dan kebijakan yang terkoordinasi, Airlangga meyakini Indonesia mampu mencapai target pertumbuhan tinggi dalam beberapa tahun ke depan.
Baca selengkapnya di: www.suara.com