BI Tegaskan Outlook Negatif dari Fitch Tidak Gambarkan Kondisi Ekonomi Indonesia Sebenarnya

Bank Indonesia (BI) menegaskan bahwa perubahan outlook sovereign credit rating Indonesia oleh Fitch Ratings dari stabil menjadi negatif tidak menunjukkan adanya penurunan fundamental ekonomi nasional. Gubernur BI Perry Warjiyo menyatakan bahwa prospek ekonomi Indonesia tetap tangguh dan mampu bertahan dalam ketidakpastian global saat ini.

Menurut Perry, kondisi ekonomi domestik masih menunjukkan kinerja yang solid dengan pertumbuhan yang stabil dan inflasi yang tetap terkontrol, termasuk inflasi inti yang rendah. Selain itu, stabilitas nilai tukar rupiah dijaga dengan kebijakan yang efektif melalui pasar NDF offshore serta transaksi spot dan DNDF di dalam negeri.

Stabilitas Sistem Keuangan yang Terjaga

Sistem keuangan Indonesia juga tetap stabil dan sehat. Hal ini didukung oleh likuiditas yang cukup, tingkat permodalan perbankan yang kuat, serta risiko kredit yang relatif rendah. Digitalisasi sistem pembayaran yang berkembang pesat dan struktur industri keuangan yang sehat juga menjadi faktor pendukung utama dalam menjaga pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan.

Revisi Outlook oleh Fitch Ratings

Fitch Ratings mengubah outlook sovereign credit rating Indonesia menjadi negatif karena meningkatnya ketidakpastian kebijakan dan kekhawatiran mengenai konsistensi serta kredibilitas regulasi pemerintah. Namun, lembaga pemeringkat ini mempertahankan rating Indonesia di level BBB. Fitch menilai bahwa afirmasi rating tersebut mencerminkan rekam jejak kuat Indonesia dalam menjaga stabilitas makroekonomi, prospek pertumbuhan menengah yang menjanjikan, rasio utang pemerintah terhadap PDB yang relatif rendah, serta ketahanan eksternal yang memadai.

“Rating BBB Indonesia mencerminkan kepercayaan dunia internasional terhadap fundamental ekonomi yang kuat,” kata Perry mengutip pernyataan resmi Fitch.

Proyeksi Ekonomi Indonesia 2026-2027

BI memperkirakan pertumbuhan ekonomi Indonesia pada 2026 akan berada di kisaran 4,9% hingga 5,7%. Pada 2027, laju pertumbuhan diperkirakan meningkat, dengan inflasi tetap berada dalam batas target yang telah ditetapkan. Ketahanan eksternal tetap kokoh, tercermin dari neraca pembayaran Indonesia yang sehat serta kinerja neraca perdagangan yang positif.

Cadangan devisa Indonesia pada akhir Januari 2026 tercatat sebesar US$154,6 miliar. Angka ini setara dengan pembiayaan impor selama 6,3 bulan dan pembayaran utang luar negeri pemerintah selama 6,1 bulan. Rasio tersebut jauh lebih baik dibandingkan standar kecukupan internasional yang umumnya hanya sekitar 3 bulan impor.

Untuk tahun 2026, defisit transaksi berjalan diperkirakan tetap rendah, yaitu sekitar 0,9% hingga 0,1% terhadap PDB. Kondisi ini menunjukkan pengelolaan neraca eksternal yang hati-hati dan berkelanjutan.

Langkah BI Memperkuat Stabilitas Makroekonomi

Ke depan, BI akan terus memperkuat bauran kebijakan untuk menjaga stabilitas makroekonomi dan sistem keuangan nasional. Bank sentral akan bekerja sama erat dengan Komite Stabilitas Sistem Keuangan (KSSK) serta mendukung Program Asta Cita dari pemerintah. Sinergi ini bertujuan memelihara kepercayaan pasar di tengah dinamika dan ketidakpastian global yang masih berlangsung.

Dengan upaya tersebut, BI optimis kondisi ekonomi Indonesia tetap kokoh dan mampu menghadapi berbagai tantangan dari lingkungan ekonomi dunia. Keseimbangan antara pertumbuhan, inflasi, serta stabilitas nilai tukar menjadi fokus utama guna memastikan keberlanjutan pembangunan nasional yang inklusif.

Baca selengkapnya di: www.beritasatu.com

Terkait