PT PLN Enjiniring mengambil langkah strategis dengan mengintegrasikan program corporate social responsibility (CSR) ke dalam agenda transisi energi nasional. Transformasi ini menandai perubahan paradigma CSR dari kegiatan filantropi biasa menjadi bagian esensial dalam mendukung transformasi bisnis dan kebijakan energi pemerintah.
Direktur Utama PLN Enjiniring, Chairani Rachmatullah, menegaskan bahwa kebijakan CSR kini dirancang selaras dengan transformasi energi menuju sumber yang lebih bersih. Perusahaan memastikan seluruh proyek infrastrukturnya mendukung transisi energi bersih sesuai dengan arahan PLN sebagai perusahaan induk.
Transformasi Bisnis dengan 6 Pilar Strategis
Sejak 2024, PLN Enjiniring menjalankan program transformasi bisnis yang akan berlangsung hingga 2030. Transformasi ini berlandaskan enam pilar, yang dikenal dengan konsep 6G Transformation:
- Groom Talent and Culture
- Grow Core
- Gain New
- Guard Value
- Go Digital
- Global Partnership
Melalui pilar-pilar tersebut, PLN Enjiniring menguatkan kapasitas organisasi, mengembangkan proyek energi baru terbarukan (EBT), meningkatkan kualitas layanan engineering, menerapkan tata kelola yang baik, serta memperluas kerja sama global.
Pendekatan Keberlanjutan dan Tata Kelola ESG
Selain itu, PLN Enjiniring mengintegrasikan prinsip environmental, social, and governance (ESG) ke dalam tata kelola keberlanjutan perusahaan. Program CSR mengacu pada tujuh subjek inti ISO 26000 yang meliputi tata kelola organisasi, hak asasi manusia, praktik ketenagakerjaan, lingkungan, operasi yang adil, isu konsumen, dan pengembangan masyarakat.
Untuk mengawal implementasi kebijakan ini, perusahaan membentuk Komite Sustainability yang bertanggung jawab memastikan program berjalan efektif dan akuntabel. Hal ini menunjukkan langkah konkret PLN Enjiniring dalam menggabungkan keberlanjutan sosial dan lingkungan dalam prinsip bisnisnya.
Integrasi Risiko ESG dalam Manajemen Perusahaan
Sekretaris Perusahaan PLN Enjiniring, Anita Widyiastuti, menyatakan bahwa risiko terkait ESG kini menjadi bagian dari manajemen risiko perusahaan. Setiap proyek dan investasi dievaluasi dengan mempertimbangkan dampak sosial, lingkungan, dan risiko perubahan iklim. Strategi ini mendukung pelaksanaan Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik (RUPTL) yang menargetkan peningkatan kapasitas energi terbarukan.
Selain itu, perusahaan mengembangkan teknologi canggih seperti smart grid, pembangkit fleksibel, serta sistem penyimpanan energi untuk mitigasi risiko iklim dan mendukung energi rendah karbon.
Program CSR Unggulan dan Pengukuran Dampak Sosial
PLN Enjiniring menjalankan dua program CSR utama, yaitu Engineer Mengajar dan PLNE Pintar. Sepanjang tahun 2025, program tersebut telah dilaksanakan di empat kampus dengan partisipasi sekitar 400 mahasiswa. Untuk keberlanjutan program, PLN Enjiniring mengalokasikan dana sebesar Rp810 juta selama 2024–2025.
Perusahaan juga menerapkan metode Social Return on Investment (SROI) untuk mengukur manfaat sosial dari program CSR. Hasil pengukuran menunjukkan nilai SROI 5,8 pada program bantuan fasilitas pendidikan, yang berarti setiap Rp1 dana yang dikeluarkan menghasilkan manfaat sosial sebesar Rp5,8 bagi masyarakat.
Pengakuan dan Penghargaan atas Komitmen Keberlanjutan
Komitmen PLN Enjiniring dalam mengintegrasikan CSR dengan strategi bisnis mendapat pengakuan publik. Perusahaan meraih berbagai penghargaan bergengsi seperti TOP CSR Awards 2025 #Star 4, TOP Leader on CSR Commitment 2025, dan Best TJSL & CSR Award in Environmental Category. PLN Enjiniring juga menjadi kandidat kuat untuk TOP CSR Awards 2026.
Pendekatan komprehensif ini menegaskan bahwa CSR bukan sekadar bentuk tanggung jawab sosial, melainkan bagian integral dari strategi transisi energi nasional. Langkah PLN Enjiniring menjadi contoh penting bagi perusahaan energi lainnya dalam mendukung pembangunan berkelanjutan dan akselerasi penggunaan energi bersih.
Baca selengkapnya di: mediaindonesia.com