Iran semakin memperketat blokade di Selat Hormuz sejak 28 Februari 2026, memicu gangguan serius pada lalu lintas kapal pengangkut minyak dan barang. Selat ini menjadi jalur utama ekspor minyak mentah dan gas alam dari negara Teluk ke pasar global, terutama Asia, sehingga penutupan berdampak signifikan pada pasokan energi dunia.
Sebagai respons atas gejolak pasokan tersebut, 32 negara anggota Badan Energi Internasional (IEA) sepakat melepaskan cadangan minyak strategis mereka. Cadangan ini adalah simpanan minyak mentah yang dikuasai pemerintah sebagai antisipasi krisis pasokan. Namun, langkah pelepasan cadangan strategis ini belum mampu menurunkan harga minyak secara signifikan. Harga minyak mentah Brent bahkan sempat melonjak hingga mencapai US$100 per barel.
Dampak Blokade Selat Hormuz terhadap Pasar Minyak
Selat Hormuz memegang peranan besar dalam perdagangan minyak dunia, mengingat sekitar 20 persen dari minyak mentah global melewati wilayah ini. Penutupan selat menyebabkan terganggunya ekspor minyak dari Arab Saudi, Irak, Kuwait, dan Uni Emirat Arab, yang juga mulai menurunkan produksi karena keterbatasan kapasitas penyimpanan domestik. Situasi ini menimbulkan kekhawatiran terhadap stabilitas dan kelangsungan pasokan energi global.
Menurut analis, gangguan berkepanjangan di Selat Hormuz dapat menyebabkan kerugian yang jauh melebihi total cadangan minyak strategis yang dimiliki negara anggota IEA. Blokade juga mendorong ketidakpastian pasar, meningkatkan volatilitas harga minyak, dan berpotensi memicu dampak ekonomi yang lebih luas pada berbagai negara pengimpor energi.
Cadangan Minyak Strategis sebagai Upaya Menstabilkan Pasar
Cadangan minyak strategis mulai dikembangkan sejak 1975 oleh Amerika Serikat setelah krisis embargo minyak Arab, sebagai bentuk jaminan ketahanan energi. Saat ini, anggota IEA memiliki total cadangan sekitar 1,2 miliar barel, ditambah 600 juta barel di sektor industri. China, meskipun bukan anggota penuh IEA, memiliki cadangan darurat terbesar diperkirakan sebanyak 1,3 miliar barel yang dapat menopang pasokan selama tiga hingga empat bulan.
Rencana pelepasan cadangan minyak oleh anggota IEA mencapai 400 juta barel, lebih tinggi dibandingkan saat krisis Ukraina dengan pelepasan 182 juta barel. Amerika Serikat memimpin pelepasan dengan 172 juta barel yang akan berlangsung selama kurang lebih 120 hari, disusul Jepang yang akan melepas 80 juta barel. Negara lain seperti Jerman, Australia, Prancis, Korea Selatan, dan Inggris juga turut berkontribusi.
Efektivitas Pelepasan Cadangan Minyak
Meskipun pelepasan cadangan strategis dapat menambah pasokan sementara dan memberikan sinyal persatuan negara pengguna energi, efeknya terhadap penurunan harga minyak biasanya terbatas. Stok yang dilepaskan IEA hanya cukup menutupi kekurangan pasokan sekitar tiga sampai empat pekan, sementara kebutuhan minyak global mencapai 100 juta barel per hari.
Seorang analis dari perusahaan pialang Inggris Trade Nation, David Morrison, mengatakan bahwa harga minyak berpotensi terus meningkat selama blokade Selat Hormuz berlanjut. Ia menambahkan bahwa konflik jangka panjang akan menimbulkan kerugian yang jauh lebih besar daripada cadangan minyak strategis yang dimiliki saat ini.
Respon Global terhadap Ketegangan di Selat Hormuz
PBB menyuarakan desakan agar Iran menghentikan serangan di wilayah sekitarnya dan membuka kembali jalur Selat Hormuz untuk memastikan stabilitas regional. Namun, beberapa negara Eropa seperti Austria dan Belgia menolak keterlibatan dalam operasi militer pengamanan selat, sehingga situasi tetap terjaga dalam kondisi yang penuh ketegangan.
Di sisi lain, China fokus pada pengamanan pasokan minyak domestiknya dengan menambah cadangan strategis dan menghentikan ekspor bahan bakar olahan. Hal ini menunjukkan adanya perubahan dinamika dalam pengelolaan ketahanan energi dunia seiring dengan meningkatnya ketegangan di kawasan Teluk.
Secara keseluruhan, krisis di Selat Hormuz menguji kemampuan negara-negara dunia dalam mengelola stabilitas pasokan minyak mentah. Pelepasan cadangan strategis menjadi salah satu langkah mitigasi yang signifikan, namun ketidakpastian geopolitik dan ketegangan regional masih menjadi faktor dominan yang mempengaruhi harga dan ketersediaan energi global.





