Wilayah Asia-Oseania tengah mengalami krisis bahan bakar pesawat yang serius dengan harga Jet A-1 mencapai US$ 227 per barel pada Maret 2026. Lonjakan harga ini merupakan rekor tertinggi yang membebani maskapai-maskapai regional secara signifikan.
Kondisi ini memaksa maskapai untuk menambah biaya bahan bakar pada tiket penerbangan domestik dan internasional. Biaya tambahan tersebut kini bisa mencapai jutaan rupiah, sehingga memicu kenaikan harga tiket bagi penumpang di kawasan Asia.
Krisis bahan bakar tidak hanya dirasakan di Asia, tetapi juga menyebar ke Eropa dan negara-negara CIS. Di wilayah tersebut, harga bahan bakar pesawat berkisar di angka US$ 214,34 per barel, setelah sempat menembus US$ 221,74 pada periode sebelumnya.
Amerika Utara dan Amerika Latin juga mencatat kenaikan harga bahan bakar pesawat yang signifikan, mendekati atau melewati angka US$ 200 per barel. Hal ini menandakan bahwa krisis bahan bakar pesawat telah menjadi persoalan global yang memengaruhi semua rute penerbangan dunia.
Indeks harga bahan bakar pesawat global versi Platts pada 21 Maret 2026 mencapai rata-rata US$ 208,43 per barel. Jika dibandingkan dengan awal tahun, harga bahan bakar jet telah naik hampir 80 persen, sehingga beban operasional maskapai semakin berat.
Penyebab utama lonjakan harga ini adalah gangguan besar pada rantai pasok minyak dunia akibat konflik di Timur Tengah. Serangan terhadap kilang Haifa di Israel dan pusat gas di Qatar menciptakan kelangkaan minyak mentah yang berdampak langsung pada harga bahan bakar Jet A-1.
Dampak kenaikan harga bahan bakar juga meluas ke sektor kargo udara. Maskapai besar seperti Lufthansa dan Korean Air menerapkan biaya tambahan pengiriman yang mencapai Rp 17.000 hingga Rp 40.000 per kilogram. Kenaikan biaya pengiriman ini berpotensi menaikkan harga barang impor secara signifikan.
Berbagai pemerintah dan otoritas penerbangan di Asia tengah berupaya mencari cara untuk mengurangi dampak krisis ini. Namun, selama konflik energi di wilayah Timur Tengah berlanjut, harga tiket pesawat diperkirakan akan tetap tinggi dalam jangka waktu yang belum dapat dipastikan.
Para ahli memperingatkan bahwa industri penerbangan global akan menghadapi era biaya tinggi yang mengharuskan maskapai meningkatkan efisiensi dan penghematan. Adaptasi dalam manajemen biaya menjadi kunci utama agar sektor ini dapat bertahan menghadapi ketidakpastian pasokan energi global.
Baca selengkapnya di: www.beritasatu.com




