IHSG Menguat Tajam Dorong Optimisme Pasar, Sentimen Fiskal dan Investor Asing Jadi Kunci

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mencatat kenaikan signifikan sebesar 2,75 persen ke level 7.302. Penguatan ini didorong oleh sentimen fiskal domestik yang positif dan masuknya aliran dana asing ke pasar modal Indonesia.

Sentimen positif berasal dari kabar pemangkasan anggaran program makan bergizi gratis (MBG). Kebijakan ini dianggap sebagai langkah pemerintah menjaga disiplin fiskal sehingga kekhawatiran terhadap pelebaran defisit anggaran bisa berkurang.

Menurut Hendra Wardana, analis pasar sekaligus pendiri Republik Investor, penguatan bursa Asia menjadi katalis tambahan yang mendukung momentum positif IHSG. Meski dana asing yang masuk belum terlalu besar, mereka tetap memberikan efek stabilisasi pasar saham domestik.

Stabilitas fiskal sangat krusial bagi investor karena berdampak pada kestabilan rupiah, imbal hasil obligasi, dan rating kredit Indonesia. Ketiga hal ini bersama-sama menciptakan iklim investasi yang lebih kondusif di pasar saham nasional.

Meskipun IHSG menguat, rupiah masih berada di kisaran Rp16.900 per dolar Amerika Serikat. Hal ini menunjukkan tekanan eksternal belum sepenuhnya mereda. Selain itu, pergerakan harga emas yang naik dan harga minyak dunia yang turun menandakan kondisi pasar global masih dalam fase risk on yang belum sepenuhnya kokoh.

Menurut Hendra, pergerakan dana asing dan fluktuasi nilai tukar rupiah akan tetap menjadi faktor utama yang memengaruhi pergerakan IHSG dalam jangka pendek. Investor perlu mewaspadai perkembangan ini untuk mengambil keputusan yang tepat.

Secara teknikal, IHSG berpotensi melanjutkan penguatan dan menguji level moving average 10 hari (MA10) di sekitar 7.339 serta resistance psikologis di angka 7.400. Jika berhasil menembus level ini dengan volume perdagangan yang meningkat, target kenaikan berikutnya ada di kisaran 7.450 hingga 7.500.

Sebaliknya, jika IHSG gagal menembus resistance 7.400, indeks berpeluang bergerak dalam fase konsolidasi di rentang 7.200 sampai 7.400. Kondisi ini membuat investor harus berhati-hati dan siap dengan berbagai kemungkinan pergerakan pasar.

Hendra menyarankan strategi trading yang memanfaatkan saham-saham dengan akumulasi asing yang kuat dan momentum kenaikan. Saham-saham ini biasanya memiliki likuiditas tinggi dan dipengaruhi oleh katalis sektoral, sehingga menjadi pilihan utama terutama bagi investor asing dan institusi.

Dengan memperhatikan sentimen fiskal domestik dan perilaku dana asing, pelaku pasar diharapkan dapat mengoptimalkan peluang investasi di tengah dinamika yang masih dipengaruhi oleh faktor global. Dukungan kebijakan fiskal yang disiplin menjadi kunci utama dalam menjaga stabilitas pasar modal Indonesia ke depan.

Baca selengkapnya di: mediaindonesia.com

Berita Terkait

Back to top button