Amerika Serikat bersiap menjalankan program asuransi maritim untuk kapal-kapal yang melintasi Selat Hormuz. Langkah ini muncul sebagai upaya menenangkan pasar energi global di tengah ancaman gangguan pasokan minyak dan gas dari kawasan Teluk Persia.
Rencana tersebut diumumkan Menteri Keuangan AS Scott Bessent dalam rapat kabinet Presiden Donald Trump pada Kamis malam waktu setempat, 26 Maret 2026. Menurut Bessent, skema itu dirancang untuk membantu memastikan minyak yang sempat terjebak di laut tetap bisa masuk ke pasar global.
Fokus AS ke jalur energi paling sensitif
Selat Hormuz memegang peran besar dalam perdagangan energi dunia. Sekitar seperlima aliran minyak dan gas global, termasuk LNG, melewati jalur sempit ini setiap hari.
Karena itu, setiap gangguan di selat tersebut biasanya langsung memicu reaksi pasar. Harga minyak sering bergerak naik ketika pelayaran terganggu, terutama saat ketegangan militer meningkat.
Program yang disiapkan Washington disebut akan melibatkan U.S. International Development Finance Corporation atau DFC. Lembaga milik pemerintah AS itu akan memberi jaminan asuransi dengan pengawalan kapal agar tanker minyak dan kapal lain dapat berlayar lebih aman.
Biaya asuransi memang melonjak tajam
Masalah utama pelayaran di Selat Hormuz bukan hanya risiko serangan, tetapi juga kenaikan biaya perlindungan kapal. Saat ini, premi asuransi pelayaran dilaporkan telah naik hingga sekitar 5% dari nilai kapal, atau sekitar lima kali lipat dibanding awal konflik.
Kenaikan itu jauh lebih tinggi dibanding periode normal, ketika biaya pertanggungan biasanya hanya sepersekian persen dari nilai kapal. Namun, CEO Lloyd’s of London menyatakan pihaknya tetap bersedia memberi pertanggungan bagi kapal yang melintasi jalur tersebut.
Data itu menunjukkan persoalan terbesar saat ini bukan ketiadaan asuransi, melainkan kekhawatiran keamanan akibat eskalasi serangan. Banyak kapal komersial tetap memilih rute lain sejak serangan AS-Israel ke Iran dimulai pada 28 Februari 2026.
Mengapa ini penting bagi harga minyak?
Bagi pasar minyak, setiap upaya membuka kembali jalur pengiriman dari Teluk bisa memberi sinyal positif. Jika lebih banyak tanker kembali melintas, risiko kekurangan pasokan bisa menurun dan tekanan pada harga minyak berpotensi mereda.
Bessent mengatakan pasar minyak sejauh ini masih memiliki pasokan yang cukup. Ia menegaskan pemerintah AS berupaya memastikan minyak yang tertahan di laut tetap tersedia bagi pasar global.
Menurutnya, lalu lintas kapal yang keluar masuk Teluk Persia juga mulai bergerak naik. Ia menyebut kondisi itu sebagai awal dari pemulihan, meski pengamanan penuh atas selat tersebut belum tercapai.
Iran tetap memberi pembatasan
Meski AS mendorong skema baru ini, Iran masih mempertahankan sikap keras. Tehran melarang kapal yang terkait dengan AS dan Israel melintas di Selat Hormuz selama serangan ke wilayahnya belum berhenti.
Situasi itu membuat pengiriman energi tetap rentan. Serangan balasan dari kedua pihak juga telah meluas ke area selat, bahkan menyasar kapal yang melintas, sehingga jalur tersebut secara efektif terganggu.
Iran juga menyerang infrastruktur penyulingan dan pemrosesan gas di kawasan. Langkah itu memperumit prospek meredanya konflik dalam waktu dekat dan menambah tekanan pada rantai pasok energi.
Langkah lain untuk menahan gejolak pasar
Pemerintahan Trump tidak hanya mengandalkan program asuransi maritim. Sebelumnya, Washington juga memberi pengecualian atas aturan maritim yang membatasi pengangkutan kargo antarpelabuhan di AS.
Selain itu, pemerintah telah melepas jutaan barel minyak mentah dari cadangan darurat nasional. Tujuannya untuk menjaga ketersediaan pasokan dan meredam lonjakan harga bahan bakar di dalam negeri.
Trump juga masih menyimpan opsi lain yang lebih sensitif secara politik, termasuk kemungkinan penangguhan pajak bensin federal. Kebijakan itu membutuhkan persetujuan legislatif, sehingga baru akan dipakai jika situasi dianggap mendesak.
Daftar langkah AS yang sudah dan mungkin ditempuh
- Menyiapkan program asuransi untuk kapal di Selat Hormuz.
- Melibatkan DFC untuk jaminan asuransi dan pengawalan kapal.
- Memberi pengecualian aturan maritim domestik.
- Melepaskan minyak dari cadangan darurat nasional.
- Menimbang penangguhan pajak bensin federal.
Di sisi lain, Bessent menilai ekonomi AS kini lebih siap menghadapi gangguan energi jangka pendek karena produksi minyak dan gas domestik meningkat. Ia juga menyebut publik AS mungkin menerima harga yang lebih tinggi sementara waktu jika hasil akhirnya adalah keamanan energi yang lebih stabil.
Pernyataan itu menegaskan bahwa Washington sedang menyeimbangkan dua kepentingan sekaligus, yaitu menjaga arus energi global dan menahan dampak politik dari lonjakan harga minyak. Kini pasar menunggu apakah program asuransi ini benar-benar mampu mendorong lebih banyak kapal kembali berlayar melintasi Selat Hormuz dalam beberapa hari ke depan.
Baca selengkapnya di: finansial.bisnis.com




