Dermaga Jadi Kunci Atasi Kepadatan Lebaran, Kapal Banyak Tak Cukup Tanpa Infrastruktur

Gabungan Pengusaha Nasional Angkutan Sungai, Danau, dan Penyeberangan atau Gapasdap menilai kepadatan yang terjadi pada Angkutan Lebaran 2026 di sejumlah lintasan utama tidak terutama dipicu oleh kurangnya kapal. Organisasi itu menyebut persoalan utama justru ada pada keterbatasan dermaga yang membuat arus kendaraan dan kapal tidak bisa bergerak seimbang.

Ketua Umum Gapasdap Khoiri Soetomo menjelaskan, evaluasi pada lintasan Merak–Bakauheni dan Ketapang–Gilimanuk menunjukkan jumlah kapal yang tersedia tidak sebanding dengan kemampuan sandar pelabuhan. Ia meminta penyelenggaraan angkutan penyeberangan ke depan dibuat lebih fleksibel, adaptif, dan berbasis kondisi real-time agar kemacetan tidak berulang.

Kapasitas dermaga jadi titik lemah

Gapasdap menyebut lintasan Merak–Bakauheni memiliki sekitar 74 kapal yang mengantongi izin operasi, tetapi kapasitas ideal dermaganya hanya mampu menampung sekitar 28 kapal per hari. Kondisi itu membuat lebih dari 40 kapal tidak dapat beroperasi setiap hari secara optimal.

Situasi serupa terjadi di Ketapang–Gilimanuk. Dari sekitar 56 kapal yang tersedia, hanya sekitar 28 kapal yang bisa beroperasi dengan baik karena keterbatasan slot sandar dan pengaturan arus di pelabuhan.

Ketika jumlah kapal ditambah hingga 40 unit, situasi di lintasan tersebut tidak otomatis membaik. Waktu tunggu sandar justru menjadi lebih lama, lebih banyak kapal mengapung di laut, trip berkurang, dan penumpang merasakan ketidaknyamanan selama masa puncak perjalanan Lebaran.

Dampak yang muncul di lapangan

Kepadatan pada periode mudik dan balik memang selalu menekan sistem penyeberangan karena lonjakan kendaraan terjadi dalam waktu singkat. Namun, menurut Gapasdap, kondisi tahun ini memperlihatkan bahwa infrastruktur pelabuhan belum cukup kuat untuk menyeimbangkan volume kendaraan dengan pergerakan kapal.

Dampak di lapangan terlihat dari antrean panjang di akses pelabuhan, penumpukan kendaraan di area masuk, dan rendahnya utilisasi kapal yang semestinya bisa melayani penumpang lebih cepat. Di sisi lain, operator kapal juga menghadapi tekanan ekonomi karena sistem yang berjalan belum efisien.

Berbagai kebijakan operasional ikut menambah beban operator. Di antaranya penerapan skema Tiba–Bongkar–Berangkat atau TBB, serta jarak operasi yang lebih jauh dari kondisi normal.

Operator tetap bekerja di tengah tekanan

Gapasdap menegaskan bahwa para pihak yang terlibat dalam angkutan Lebaran sudah bekerja maksimal. Kementerian Perhubungan, Korlantas Polri, ASDP Indonesia Ferry, KSOP, BPTD, dan operator kapal dinilai telah berupaya menjaga layanan tetap berjalan selama masa puncak arus penyeberangan.

Meski begitu, Gapasdap menilai kerja keras itu belum didukung sistem yang sepenuhnya efisien. Karena itu, organisasi pengusaha penyeberangan tersebut meminta evaluasi menyeluruh agar penanganan arus Lebaran tidak hanya fokus pada jumlah kapal, tetapi juga pada kemampuan dermaga dan integrasi manajemen di darat maupun di laut.

  1. Pembangunan dermaga harus diprioritaskan sebagai program nasional.
  2. Penambahan dermaga perlu dilakukan bertahap sesuai kebutuhan lintasan.
  3. Merak–Bakauheni perlu diposisikan sebagai pelabuhan backbone.
  4. Kebijakan operasional harus lebih fleksibel dan adaptif.
  5. Skema TBB perlu dievaluasi kembali.
  6. Manajemen trafik darat dan laut harus terintegrasi.

Mengapa optimalisasi dermaga dianggap penting

Dalam penyeberangan, kapasitas kapal tidak selalu menjadi pembatas utama jika dermaga belum memadai. Saat fasilitas sandar terbatas, kapal bisa menumpuk di perairan, waktu putar berkurang, dan arus kendaraan di pelabuhan ikut tersendat.

Kondisi itu membuat penambahan kapal tidak selalu efektif jika tidak dibarengi percepatan layanan di dermaga. Karena itu, Gapasdap menilai solusi jangka panjang harus berfokus pada peningkatan infrastruktur pelabuhan, bukan hanya penambahan armada menjelang mudik.

Pakar transportasi laut kerap menekankan bahwa titik kritis pelabuhan penyeberangan ada pada sinkronisasi antara kapasitas dermaga, jadwal sandar, dan distribusi kendaraan dari jalan akses. Jika salah satu komponen tertinggal, maka kemacetan akan berpindah dari jalan ke laut atau sebaliknya.

Dalam konteks Lebaran, kebutuhan itu semakin mendesak karena mobilitas masyarakat meningkat tajam dalam waktu singkat. Tanpa optimalisasi dermaga, pelabuhan penyeberangan rawan kembali menghadapi antrean panjang dan pelayanan yang tidak efektif pada musim puncak berikutnya.

Fakta penting dari evaluasi arus Lebaran 2026

  1. Merak–Bakauheni memiliki sekitar 74 kapal berizin operasi, tetapi kapasitas ideal dermaga hanya sekitar 28 kapal per hari.
  2. Ketapang–Gilimanuk memiliki sekitar 56 kapal tersedia, namun hanya sekitar 28 yang bisa beroperasi optimal.
  3. Penambahan kapal hingga 40 unit di Ketapang–Gilimanuk tidak otomatis memperbaiki layanan karena waktu sandar justru lebih lama.
  4. Dampak di lapangan mencakup antrean panjang, kapal menunggu di laut, penurunan trip, dan ketidaknyamanan penumpang.
  5. Gapasdap mendorong penambahan dermaga dan integrasi manajemen trafik darat-laut sebagai solusi utama.

Kondisi tersebut menunjukkan bahwa pembenahan angkutan penyeberangan tidak cukup dengan menambah armada saat musim puncak. Optimalisasi dermaga, penataan trafik, dan penyesuaian kebijakan operasional menjadi kunci agar layanan Lebaran berikutnya bisa bergerak lebih lancar dan lebih efisien bagi penumpang maupun operator.

Exit mobile version