958 Sumur Bor Siap Mengalirkan Harapan, Satgas PRR Kejar Air Bersih Korban Banjir Sumatra

Satgas Percepatan Rehabilitasi dan Rekonstruksi (PRR) Pascabencana Sumatera mempercepat pembangunan sumur bor untuk memastikan pasokan air bersih bagi warga terdampak banjir dan longsor di Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat. Hingga 31 Maret, dari target 1.490 sumur bor di tiga provinsi itu, 958 unit sudah selesai dibangun dan 548 unit masih dikerjakan.

Fasilitas ini menjadi prioritas karena jaringan air bersih dan sanitasi banyak rusak akibat bencana yang melanda akhir tahun lalu. Pemerintah menempatkan sumur bor sebagai solusi cepat agar kebutuhan dasar penyintas tetap terpenuhi, terutama untuk minum, memasak, mandi, dan aktivitas ibadah.

Percepatan di Tiga Provinsi

Data Satgas PRR menunjukkan kemajuan paling besar terjadi di Aceh. Dari total 1.091 sumur bor yang direncanakan, 728 unit telah rampung dibangun.

Di Sumatera Utara, dari 218 sumur bor yang ditargetkan, 135 unit sudah selesai. Sementara di Sumatera Barat, dari 181 sumur bor yang direncanakan, 95 unit telah tersedia untuk warga.

Jika dibandingkan dengan data per 1 Maret, lompatan pembangunan ini terlihat signifikan. Saat itu, Aceh baru memiliki 369 sumur bor, Sumut 84 unit, dan Sumbar 21 unit.

Tito: Air Bersih Harus Diprioritaskan

Ketua Satgas PRR Pascabencana Sumatera Muhammad Tito Karnavian menegaskan bahwa percepatan penyediaan air bersih menyentuh kebutuhan paling dasar masyarakat terdampak. Ia menyebut langkah ini penting untuk mencegah masalah kesehatan dan membantu pemulihan kehidupan warga.

“Terima kasih banyak kepada PLN, Danantara, Kementerian ESDM ada pembuatan sumur bor dan MCK. Untuk MCK 80%, sumur bornya masih perlu banyak, karena ini ada masalah air minum, jaringan-jaringan yang putus,” kata Tito dalam siaran pers yang dikutip Rabu, 1 April 2026.

Pernyataan itu ia sampaikan dalam Rapat Koordinasi Tingkat Menteri tentang perkembangan percepatan rehabilitasi dan rekonstruksi pascabencana alam di Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat, yang digelar di Kantor Kemenko PMK, Jakarta.

Kolaborasi Lintas Sektor Diperluas

Percepatan pembangunan sumur bor tidak hanya bertumpu pada satu instansi. Sejumlah lembaga ikut terlibat dalam kerja bersama, mulai dari TNI AD, Kementerian Pekerjaan Umum, BNPB, hingga Polri.

Kolaborasi itu juga mendapat dukungan dari PLN, Danantara, dan Kementerian ESDM, yang ikut mendorong penyediaan fasilitas air bersih serta MCK di wilayah terdampak. Pola kerja lintas sektor ini dinilai krusial karena kerusakan infrastruktur dasar pascabencana membutuhkan penanganan cepat dan terkoordinasi.

Kenapa Sumur Bor Jadi Prioritas

Sumur bor dibutuhkan karena banyak jaringan distribusi air bersih mengalami kerusakan berat. Dalam kondisi seperti itu, warga tidak bisa mengandalkan layanan air rumah tangga seperti biasa, sehingga sumber air alternatif harus disediakan lebih cepat.

Secara praktis, sumur bor membantu memenuhi kebutuhan harian warga dengan rincian berikut:

  1. Air minum dan memasak.
  2. Mandi dan kebersihan tubuh.
  3. Keperluan sanitasi keluarga.
  4. Kebutuhan ibadah dan aktivitas rumah tangga.

Ketersediaan air bersih juga berkaitan langsung dengan pencegahan penyakit pascabencana. Saat pasokan air terganggu, risiko gangguan kesehatan seperti diare, penyakit kulit, dan infeksi bisa meningkat di lokasi pengungsian maupun permukiman terdampak.

Dukungan Pemulihan Warga Masih Berlanjut

Pembangunan 958 sumur bor hingga akhir Maret menunjukkan bahwa pemulihan layanan dasar di Sumatera bergerak cepat, meski pekerjaan di lapangan masih berlangsung. Dengan 548 sumur bor lainnya dalam proses, pemerintah masih mengejar pemenuhan target agar kebutuhan air bersih warga terpenuhi lebih merata.

Fokus berikutnya adalah memastikan titik-titik yang belum terlayani segera mendapat akses air layak, terutama di wilayah yang kerusakan infrastrukturnya paling berat. Satgas PRR menempatkan kebutuhan air bersih sebagai bagian penting dari pemulihan pascabencana, karena tanpa layanan dasar itu, proses bangkitnya warga akan berjalan jauh lebih lambat.

Baca selengkapnya di: www.medcom.id
Exit mobile version