PT Pyridam Farma Tbk atau PYFA membukukan penjualan bersih Rp2,76 triliun pada 2025, naik 43,7% dibandingkan Rp1,92 triliun pada 2024. Capaian ini menunjukkan permintaan yang terus menguat, terutama dari lini Contract Development and Manufacturing Organization atau CDMO yang kini menjadi salah satu motor utama pertumbuhan perseroan.
Berdasarkan laporan keuangan konsolidasi tahun buku 2025, PYFA juga mulai memperlihatkan perbaikan di level operasional. Perseroan mencatat laba bruto Rp583 miliar dan EBITDA Rp203,7 miliar, seiring naiknya skala bisnis dan kontribusi dari lini usaha dengan margin yang lebih baik.
Lonjakan Permintaan Dorong Kinerja
Kinerja PYFA sepanjang 2025 banyak ditopang oleh ekspansi pada bisnis CDMO, yang melayani kebutuhan manufaktur bagi perusahaan farmasi domestik maupun global. Permintaan jasa maklon farmasi yang meningkat memberi ruang bagi PYFA untuk memperkuat posisinya sebagai mitra produksi yang terintegrasi.
Tren ini sejalan dengan arah industri farmasi yang makin menuntut efisiensi, spesialisasi, dan kecepatan produksi. Dalam konteks itu, kapasitas manufaktur menjadi faktor strategis yang menentukan kemampuan perusahaan menangkap peluang pasar.
Sejalan dengan pertumbuhan tersebut, PYFA terus memperluas infrastruktur produksi dalam lima tahun terakhir. Ekspansi ini membantu perseroan menyesuaikan kapasitas dengan kebutuhan pasar yang berkembang, khususnya pada segmen bernilai tambah tinggi.
Produk dan Fasilitas Jadi Penopang
Pertumbuhan PYFA juga didukung oleh sejumlah produk inovatif, termasuk Cytoflavin, Reamberin, Syalox, serta lini steril injeksi. Portofolio ini memberi kontribusi pada diversifikasi pendapatan dan memperkuat daya saing perseroan di tengah perubahan kebutuhan pasar.
- Cytoflavin
- Reamberin
- Syalox
- Lini steril injeksi
Tak hanya dari sisi produk, PYFA juga menggenjot penguatan aset produksi. Pada 2025, perseroan menyelesaikan konsolidasi fasilitas Probiotec di Kemps Creek, New South Wales, Australia, dan membangun fasilitas Line 3 di Cikarang.
Fasilitas di Kemps Creek sudah beroperasi penuh pada akhir 2025. Sementara itu, Line 3 di Cikarang memiliki kapasitas produksi dua kali lipat lebih besar dibandingkan Line 2 dan siap digunakan untuk kegiatan komersial pada 2026.
Perbaikan Operasional Masih Berjalan
Meski mencatat pertumbuhan penjualan yang tinggi, PYFA masih membukukan rugi bersih. Perseroan menyebut kondisi itu dipengaruhi oleh beban operasional yang masih tinggi dan investasi strategis yang sedang berlangsung.
Direktur PYFA Sinta Ningsih menegaskan bahwa 2025 menjadi tahun yang penuh tantangan, tetapi pencapaian perusahaan membuktikan resiliensi fundamental PYFA. Ia menyampaikan bahwa fokus berikutnya bergeser pada optimalisasi profitabilitas melalui efisiensi operasional yang lebih ketat dan terukur.
“Memasuki fase berikutnya, fokus utama Perseroan bergeser pada optimalisasi profitabilitas,” ujar Sinta Ningsih. Ia menambahkan bahwa PYFA akan menjalankan langkah efisiensi yang lebih disiplin di seluruh lini bisnis agar pertumbuhan jangka panjang tetap sehat.
Arah Ekspansi 2026
Memasuki 2026, PYFA menyiapkan tiga prioritas pertumbuhan utama. Ketiganya mencerminkan strategi perseroan untuk memperkuat ekosistem kesehatan dari hulu ke hilir.
- Ekspansi fasilitas produksi steril di Cikarang melalui Line 4 dan 5
- Penguatan layanan CDMO
- Fokus pada portofolio produk terapeutik bernilai tinggi dan berlisensi
Strategi tersebut didukung aksi korporasi selektif yang membuat PYFA semakin terintegrasi di rantai nilai industri kesehatan. Dengan basis manufaktur yang makin kuat, akses kemitraan global, dan ekspansi yang terukur, perseroan melihat peluang untuk memainkan peran lebih besar di pasar domestik maupun internasional.
Perseroan menilai kombinasi kapasitas produksi, peningkatan layanan CDMO, dan pengembangan produk bernilai tinggi akan menjadi kunci untuk menjaga momentum bisnis. Di saat yang sama, pasar akan terus mencermati apakah efisiensi operasional dan rampungnya investasi strategis dapat mendorong PYFA menuju profitabilitas yang lebih solid pada tahun berjalan.
Baca selengkapnya di: mediaindonesia.com