Budi Herawan kembali dipercaya memimpin Asosiasi Asuransi Umum Indonesia (AAUI) untuk periode 2026-2030 setelah Kongres VIII AAUI Tahun 2026 menetapkannya sebagai ketua. Dalam kongres yang digelar di Jakarta, Budi juga ditunjuk sebagai formatur tunggal untuk menyusun kepengurusan baru AAUI.
Penetapan itu menjadi penegasan arah lanjutan organisasi industri asuransi umum di tengah tantangan ekonomi, perubahan regulasi, dan percepatan teknologi. AAUI menempatkan agenda besar periode baru pada transformasi digital, penguatan SDM, riset berbasis data, serta kolaborasi yang lebih erat dengan regulator dan pemangku kepentingan industri.
Agenda utama kongres
Kongres VIII AAUI tidak hanya memilih ketua baru, tetapi juga mengesahkan sejumlah agenda penting organisasi. Proses itu mencakup penetapan tata tertib kongres, penyampaian dan pengesahan laporan pertanggungjawaban pengurus periode 2023-2026, perubahan Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah Tangga, serta pengesahan program kerja pokok untuk lima tahun ke depan.
Langkah tersebut menunjukkan bahwa AAUI memasuki periode baru dengan dasar organisasi yang diperbarui. Pada saat yang sama, anggota juga memberi mandat agar arah kebijakan AAUI lebih adaptif terhadap perubahan industri asuransi umum dan reasuransi.
Fokus kepemimpinan Budi Herawan
Budi menyampaikan bahwa periode 2026-2030 akan tetap melanjutkan transformasi reformasi sumber daya manusia yang sudah berjalan. Ia menilai tantangan utama industri saat ini tidak hanya soal pasar, tetapi juga kesiapan kompetensi tenaga kerja untuk menghadapi ketidakpastian geopolitik dan dinamika ekonomi.
Menurut Budi, ruang pengembangan produk asuransi umum masih sangat luas. Ia menilai cara pandang industri jangan berhenti pada lingkup yang sempit, karena kebutuhan perlindungan terus berkembang seiring perubahan sektor usaha, perdagangan, dan pembiayaan.
“Pemikiran asuransi umum masih dalam circle yang terbatas, padahal banyak sekali produk-produk yang bisa dikembangkan,” ujarnya di kantor AAUI, Jakarta, Kamis (2/4/2026).
Ia juga menyoroti tekanan yang masih dirasakan sektor korporasi, khususnya pelaku usaha berbasis ekspor. Budi menambahkan, sektor ritel seperti kendaraan dan pembiayaan kredit juga belum sepenuhnya pulih sesuai harapan industri.
Program kerja pokok AAUI 2026-2030
AAUI menetapkan sejumlah prioritas yang akan menjadi panduan kerja organisasi selama lima tahun mendatang. Berikut pokok agenda yang diumumkan dalam kongres:
- Percepatan adopsi teknologi untuk efisiensi operasional dan pelayanan pelanggan, termasuk platform terintegrasi untuk klaim digital, underwriting, analisis data, dan pemanfaatan AI.
- Peningkatan kualitas SDM melalui sertifikasi profesi, standardisasi kompetensi, penguatan LSP AAUI, dan program capacity building.
- Penguatan kolaborasi dengan regulator agar kebijakan lebih adaptif terhadap kondisi pasar.
- Dukungan kepada Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) dalam penyusunan, sosialisasi, dan implementasi Program Penjaminan Polis yang efektif mulai 2028.
- Pembentukan forum diskusi rutin dengan regulator untuk membahas kepatuhan industri dan penerapan manajemen risiko, termasuk risiko teknologi informasi.
- Penguatan kerja sama dengan Asean Insurance Council (AIC) dan negara anggota melalui sharing best practice insurtech, webinar, dan pertukaran pengalaman.
- Pengembangan riset industri bersama PT Pusat Informasi dan Data Asuransi Indonesia (PT PINDI) agar anggota dapat mengakses analisis dan profil risiko berbasis data.
- Peningkatan literasi dan inklusi masyarakat agar semakin memahami pentingnya asuransi umum dan reasuransi untuk perlindungan aset dan usaha.
- Penguatan peran AAUI sebagai wadah koordinasi dan konsolidasi seluruh stakeholder industri.
- Melanjutkan transformasi dan reformasi yang telah dijalankan sebelumnya.
Dalam kerangka itu, digitalisasi menjadi salah satu fokus paling menonjol. AAUI menilai teknologi dapat mempercepat proses klaim, memperbaiki akurasi underwriting, dan memperkuat analisis data yang dibutuhkan pelaku industri.
Tantangan industri yang dihadapi
Kepemimpinan baru AAUI hadir di tengah situasi ekonomi yang belum sepenuhnya stabil. Tekanan terhadap sektor ekspor, perubahan pola konsumsi, serta kebutuhan pembiayaan yang belum pulih menjadi faktor yang ikut memengaruhi ruang tumbuh asuransi umum.
Model bisnis asuransi umum juga menghadapi tuntutan untuk lebih cepat beradaptasi dengan perkembangan teknologi. Selain itu, industri perlu menjaga kepatuhan, memperkuat manajemen risiko, dan menyiapkan SDM yang mampu bekerja dalam ekosistem digital yang makin kompleks.
AAUI memandang bahwa pengembangan produk harus menyesuaikan kondisi ekonomi dan kebutuhan pasar. Dengan strategi itu, asosiasi berharap industri dapat menangkap peluang baru di luar segmen tradisional yang selama ini mendominasi pasar.
Arah baru untuk industri asuransi umum
Salah satu aspek penting dari periode kepemimpinan Budi Herawan adalah dorongan agar industri lebih berbasis data. Kolaborasi dengan PT PINDI diharapkan menghasilkan analisis yang bisa dipakai anggota untuk membaca tren risiko dan mengambil keputusan bisnis yang lebih tajam.
Di sisi lain, kerja sama regional juga diposisikan sebagai alat untuk mempercepat transfer pengetahuan. Melalui AIC, AAUI ingin memperluas akses pelaku industri terhadap praktik terbaik, terutama dalam insurtech, literasi digital, dan pengembangan kapasitas lintas negara.
AAUI juga memberi perhatian pada Program Penjaminan Polis yang akan mulai efektif pada 2028. Keterlibatan asosiasi dalam proses penyusunan dan implementasi aturan itu dinilai penting agar industri siap sejak awal dan masyarakat memperoleh perlindungan yang lebih kuat.
Pada periode barunya, Budi Herawan membawa mandat besar untuk menjaga kesinambungan reformasi sambil membuka ruang inovasi yang lebih luas bagi industri asuransi umum Indonesia. Fokus pada digitalisasi, SDM, riset, literasi, dan kolaborasi regulator menjadi fondasi utama AAUI dalam menghadapi lima tahun mendatang.
Baca selengkapnya di: finansial.bisnis.com




