Gelombang PHK di sektor teknologi kembali menguat pada kuartal pertama 2026, dan kali ini dorongannya datang dari investasi besar-besaran perusahaan pada kecerdasan buatan atau AI. Berdasarkan data Challenger, Gray & Christmas, total pemutusan hubungan kerja di industri teknologi berbasis Amerika Serikat mencapai 52.050 kasus hingga Maret 2026.
Dalam laporan yang sama, jumlah PHK di sektor teknologi naik 40 persen secara tahunan. Sepanjang Maret 2026 saja, perusahaan teknologi mengumumkan 18.720 pemangkasan tenaga kerja, jauh di atas 37.097 kasus pada periode yang sama tahun lalu.
AI Jadi Faktor Utama di Balik PHK
Laporan Challenger, Gray & Christmas menempatkan AI sebagai salah satu pemicu terbesar hilangnya pekerjaan di berbagai industri. Dari total PHK pada Maret, sekitar 15.341 pekerjaan atau 25 persen disebut berkaitan langsung dengan AI.
Angka itu lebih tinggi dibandingkan pemicu lain seperti penutupan perusahaan atau lokasi kerja yang mencapai 13.931 kasus. Restrukturisasi menyumbang 8.726 kasus, sementara kondisi ekonomi dan pasar yang tidak menguntungkan memicu 6.597 kasus PHK.
Andy Challenger dari Challenger, Gray & Christmas mengatakan perusahaan kini mengalihkan anggaran ke investasi AI dengan mengorbankan pekerjaan. Ia menilai dampak AI terhadap tenaga kerja sudah mulai terlihat jelas, terutama di sektor teknologi.
Perusahaan Besar Ikut Merapikan Struktur
Sejumlah raksasa teknologi turut masuk dalam gelombang efisiensi ini. Dell tercatat memangkas sekitar 11.000 karyawan sepanjang tahun berjalan, sementara Meta memangkas 700 pekerja di divisi Reality Labs pada Maret.
Oracle juga memberhentikan ribuan karyawan saat memperbesar investasi di bidang AI. Di saat yang sama, Epic Games memangkas sekitar 1.000 pekerja karena tekanan finansial yang ikut memperberat kondisi industri.
Data Challenger menunjukkan sektor teknologi mencatat jumlah PHK tertinggi dibandingkan sektor lain pada bulan lalu. Posisi berikutnya ditempati sektor transportasi dengan 32.241 kasus, kesehatan 23.520 kasus, dan keuangan 9.397 kasus.
Peran yang Paling Rentan Terdampak
Tekanan paling besar terlihat pada pekerjaan yang dekat dengan proses otomasi dan pengembangan perangkat lunak. Laporan itu menyebut bidang rekayasa perangkat lunak dan pengembangan sebagai area yang paling rentan terdampak oleh adopsi AI.
- Rekayasa perangkat lunak
- Pengembangan aplikasi
- Pekerjaan coding rutin
- Tugas operasional yang mudah diotomatisasi
- Fungsi teknis yang bisa digantikan sistem AI
Andy Challenger menjelaskan bahwa AI sudah mampu menggantikan sebagian fungsi pengkodean di perusahaan teknologi. Meski belum bisa sepenuhnya menggantikan manusia, teknologi ini sudah menekan kebutuhan tenaga kerja di sejumlah lini.
Tren PHK karena AI Terus Naik
Sepanjang 2025, perusahaan menyebut AI sebagai penyebab 54.836 PHK atau sekitar 5 persen dari total pemutusan kerja. Pada 2026, jumlah itu sudah melonjak dengan AI dikaitkan dengan 12.304 PHK, atau sekitar 8 persen dari total kasus sejauh ini.
Jika dihitung sejak pelacakan dimulai pada 2023, AI telah disebut dalam 99.470 pengumuman PHK. Porsi itu setara sekitar 3,5 persen dari seluruh rencana pemutusan kerja dalam periode tersebut.
Kenaikan ini memperlihatkan bahwa AI tidak lagi hanya dipandang sebagai alat bantu produktivitas. Dalam praktiknya, perusahaan mulai memakai AI untuk menekan biaya, meningkatkan efisiensi, dan menyesuaikan struktur organisasi dengan kebutuhan baru.
Mengapa Sektor Teknologi Paling Terpapar
Sektor teknologi menjadi yang paling cepat merasakan dampak karena perusahaan di dalamnya juga paling agresif mengadopsi AI. Perubahan ini menciptakan pola baru, di mana belanja modal untuk infrastruktur, model AI, dan otomasi meningkat, sementara kebutuhan terhadap sebagian tenaga kerja justru menyusut.
Selain itu, perusahaan teknologi menghadapi tekanan untuk menjaga profitabilitas di tengah perlambatan pasar dan kompetisi yang makin ketat. Kondisi itu membuat efisiensi tenaga kerja menjadi salah satu langkah yang paling cepat diambil.
Dalam laporan tersebut, disebutkan bahwa gelombang PHK di sektor teknologi masih berpotensi berlanjut sepanjang 2026. Selama perusahaan terus mengalokasikan anggaran ke pengembangan AI, tekanan terhadap pekerjaan teknis dan operasional diperkirakan tetap tinggi.





