NASA resmi meluncurkan misi berawak Artemis II pada Kamis malam waktu Indonesia barat, menandai langkah besar Amerika Serikat kembali mengirim manusia menuju orbit Bulan setelah lebih dari 50 tahun. Roket Space Launch System (SLS) lepas landas dari Launch Complex 39B di Kennedy Space Center membawa kapsul Orion bernama Integrity dengan empat astronaut di dalamnya.
Peluncuran ini menjadi ujian penting bagi NASA untuk memvalidasi sistem penerbangan berawak ke luar angkasa dalam misi yang dirancang berdurasi sekitar 10 hari. Misi Artemis II juga dipandang sebagai fondasi menuju pendaratan manusia di Kutub Selatan Bulan lewat Artemis III pada tahap berikutnya.
Peluncuran Sempurna dari Florida
NASA mengirim SLS dengan dorongan sebesar 8,8 juta pon yang dihasilkan mesin RS-25 dan dua roket pendorong padat. Setelah lepas landas, wahana itu melaju cepat menembus kecepatan supersonik dan melewati fase tekanan maksimum atau Max Q tanpa gangguan berarti.
Sekitar dua menit setelah lepas landas, kedua booster berhasil terpisah sesuai urutan penerbangan yang telah dirancang. Tidak lama kemudian, panel pelindung kapsul Orion dilepaskan untuk membuka jalan bagi sistem wahana bekerja optimal di luar atmosfer.
Tahap Inti Mengantar Orion ke Orbit Awal
Pada pukul 18:43 EDT, mesin utama dimatikan dalam fase Main Engine Cutoff dan menandai keberhasilan tahap inti roket menyelesaikan tugasnya. Setelah itu, Orion memasuki orbit awal sebelum akhirnya berpisah dari tahap atas roket untuk melanjutkan penerbangan mandiri.
Pemisahan yang berlangsung mulus memperlihatkan kesiapan sistem Artemis II untuk membawa manusia dalam perjalanan ruang angkasa jarak jauh. NASA menilai tahapan awal ini sangat penting karena setiap urutan peluncuran harus berjalan akurat sebelum kru melanjutkan manuver berikutnya.
Panel Surya Orion Mengembang Penuh
Salah satu momen krusial terjadi pada pukul 18:59 EDT ketika empat sayap susunan surya Orion mengembang sepenuhnya. Panel dengan bentang sekitar 63 kaki atau 19 meter itu berisi 15.000 sel surya yang mengubah cahaya matahari menjadi listrik bagi sistem pendukung kehidupan dan avionik.
Panel tersebut dapat bergerak pada dua sumbu agar selalu mengarah ke Matahari. Dengan begitu, Orion dapat menjaga pasokan daya tetap stabil selama perjalanan ke sekitar Bulan.
Empat Astronaut di Dalam Orion
Kru Artemis II terdiri dari empat astronaut yang akan mencatat sejarah sebagai awak pertama yang terbang dalam misi berawak NASA ke orbit Bulan sejak era Apollo. Mereka adalah Reid Wiseman sebagai komandan, Victor Glover sebagai pilot, Christina Koch sebagai spesialis misi, dan Jeremy Hansen dari Badan Antariksa Kanada sebagai spesialis misi.
Formasi ini juga menarik perhatian karena memadukan pengalaman tinggi dan kerja sama internasional. Kehadiran Hansen menunjukkan bahwa Artemis tidak hanya menjadi program NASA, tetapi juga bagian dari kolaborasi antariksa yang lebih luas dengan mitra global.
Daftar Awak Artemis II
- Reid Wiseman — Komandan
- Victor Glover — Pilot
- Christina Koch — Spesialis misi
- Jeremy Hansen — Spesialis misi, CSA
Sebelum berangkat, keempat astronaut menjalani tradisi khas NASA di ruang suit-up. Mereka juga sempat bermain kartu sebagai bagian dari kebiasaan tim untuk mencairkan ketegangan sebelum misi besar dimulai.
Misi Uji Manuver Dekat dan Kontrol Manual
Setelah peluncuran, kru tidak langsung menuju Bulan, tetapi akan menjalani serangkaian manuver orbit termasuk perigee raise maneuver. Salah satu uji paling penting adalah demonstrasi operasi jarak dekat untuk menguji kemampuan Orion bermanuver terhadap tahap atas roket Interim Cryogenic Propulsion Stage yang sudah terpisah.
Tes ini penting karena NASA ingin memastikan kru mampu mengendalikan wahana secara manual dalam kondisi darurat. Kemampuan tersebut juga akan menjadi bekal untuk misi mendatang yang melibatkan pertemuan dan dok antariksa di orbit Bulan.
Arti Strategis Artemis II bagi Program Artemis
Artemis II tidak dirancang untuk mendarat di Bulan, tetapi perannya sangat menentukan bagi masa depan eksplorasi manusia. Misi ini menjadi pembuktian bahwa NASA dapat membawa awak manusia mengelilingi Bulan dengan sistem baru yang lebih modern dan lebih aman.
Keberhasilan ini juga memperkuat target NASA untuk pendaratan berawak di wilayah Kutub Selatan Bulan melalui Artemis III. Kawasan itu menjadi incaran karena diyakini menyimpan es air dan potensi sumber daya penting untuk eksplorasi jangka panjang.
NASA menempatkan Artemis II sebagai jembatan antara sejarah dan tahap baru eksplorasi antariksa. Dengan roket SLS, kapsul Orion, dan empat astronaut di dalamnya, misi ini membuka kembali babak penerbangan manusia menuju orbit Bulan dengan standar teknologi yang berbeda dari era Apollo.
Baca selengkapnya di: www.medcom.id