Gotong royong warga Dusun Pante Geulima, Desa Meunasah Lhok, Kecamatan Mereudu, Kabupaten Pidie Jaya, menjadi motor utama percepatan pemulihan pascabencana banjir di Sumatra. Warga bersama pemerintah dan relawan bahu-membahu membersihkan lingkungan terdampak agar aktivitas sosial dan ekonomi di desa itu segera kembali normal.
Kegiatan pembersihan yang berlangsung pada Kamis, 2 April 2026, itu masuk dalam fase rehabilitasi pascabencana yang kini digencarkan Satuan Tugas Percepatan Rehabilitasi dan Rekonstruksi (Satgas PRR) Pascabencana Sumatera. Program ini berjalan melalui kerja bakti yang difasilitasi Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) dan didukung donasi warga perantauan.
Kolaborasi warga dan pemerintah jadi kunci
Warga setempat menyebut sinergi antara masyarakat, pemerintah, dan donatur membuat pemulihan berjalan lebih cepat. Ahlul Fikri, warga Pante Geulima, mengatakan ada dua dukungan yang bergerak bersamaan di lokasi terdampak.
“Alhamdulillah, saat ini ada dua bentuk dukungan yang berjalan bersamaan. Pertama dari pemerintah melalui program kerja bakti, dan kedua dari donasi teman-teman perantauan yang ikut membantu, termasuk untuk penyewaan armada pengangkutan,” ujarnya dalam siaran pers yang dikutip Jumat, 3 April 2026.
Ia menilai partisipasi warga menjadi tanda kuat bahwa masyarakat masih memiliki semangat untuk bangkit. Menurut dia, keterlibatan langsung warga mempercepat pembersihan sekaligus menjaga rasa memiliki terhadap proses pemulihan desa.
Kerja bakti juga bantu ekonomi keluarga terdampak
Program kerja bakti di Pante Geulima tidak hanya membersihkan sisa banjir, tetapi juga memberi manfaat ekonomi bagi warga yang terdampak. Setiap pekerja menerima upah harian untuk membantu kebutuhan rumah tangga selama masa pemulihan.
Halimah, salah seorang warga, mengatakan kegiatan itu sangat membantu keluarganya. Ia bersama warga lain membersihkan fasilitas umum seperti musala dan saluran sanitasi yang terdampak lumpur serta material sisa banjir.
“Alhamdulillah sangat terbantu. Selain bisa ikut membersihkan, kami juga mendapat penghasilan untuk kebutuhan sehari-hari dan anak-anak yang masih sekolah,” kata Halimah.
Puluhan warga turun bergiliran
Saat ini, puluhan warga terlibat dalam pembersihan yang dilakukan secara bergilir. Pola itu dipakai agar lebih banyak warga mendapat kesempatan bekerja sekaligus menjaga pembagian tugas tetap merata.
Berikut bentuk dukungan yang berjalan di Pante Geulima:
- Program kerja bakti dari pemerintah melalui BPBD.
- Donasi dari warga perantauan untuk mendukung operasional pemulihan.
- Keterlibatan warga lokal dalam membersihkan fasilitas umum dan lingkungan.
- Upah harian bagi pekerja sebagai penopang ekonomi keluarga.
Pola gotong royong ini memperlihatkan bahwa pemulihan pascabencana tidak hanya bergantung pada alat berat atau anggaran, tetapi juga pada solidaritas sosial yang kuat di tingkat kampung. Di banyak daerah terdampak bencana, pendekatan berbasis komunitas seperti ini kerap menjadi langkah awal paling efektif untuk membuka akses, membersihkan fasilitas umum, dan memulihkan kehidupan warga.
Harapan warga agar pemulihan terus berlanjut
Warga berharap kegiatan serupa bisa terus digelar selama kondisi lingkungan masih membutuhkan pembersihan bertahap. Mereka juga menilai keterlibatan lebih banyak warga akan membuat manfaat ekonomi dan sosial dari program itu semakin luas.
Ahlul Fikri menegaskan bahwa kebersamaan menjadi modal utama bagi Pante Geulima untuk bangkit kembali. “Yang terpenting bagi kami adalah kebersamaan. Dengan dukungan semua pihak, kami yakin Pante Geulima bisa bangkit dan pulih seperti sedia kala,” ujarnya.
Dengan dukungan pemerintah, warga, dan para perantau, proses rehabilitasi di Pante Geulima kini bergerak lebih terarah. Semangat gotong royong yang muncul setelah banjir menunjukkan bahwa pemulihan desa dapat berjalan lebih cepat ketika warga ikut terlibat langsung dalam membersihkan lingkungan dan memulihkan fasilitas yang mereka gunakan setiap hari.
Baca selengkapnya di: www.medcom.id




