Prabowo Kirim Tim ke Korea, Nasib KF-21 Kini Bergantung Pada Negosiasi Teknis

Presiden Prabowo Subianto membahas kelanjutan proyek jet tempur KF-21 Boramae dalam kunjungan bilateral ke Korea Selatan. Pemerintah Indonesia juga menyiapkan pengiriman tim teknis dan engineering untuk menyelesaikan sejumlah kendala spesifikasi yang masih membayangi kerja sama pertahanan tersebut.

Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto menyebut pembahasan itu masuk dalam agenda pertemuan bilateral Prabowo dengan pemerintah Korea Selatan. Dalam keterangan yang dikutip dari video Sekretariat Presiden, Airlangga mengatakan isu IFX atau KF-21 menjadi salah satu topik yang diangkat langsung oleh Presiden RI.

Tim teknis akan dikirim untuk bereskan isu spesifikasi

Airlangga menjelaskan, pemerintah ingin membawa pembahasan proyek ini ke tahap yang lebih konkret. Menurut dia, tim yang dikirim ke Korea Selatan akan terdiri dari unsur teknis dan engineering agar masalah detail pesawat bisa dibahas secara lebih mendalam.

Ia menegaskan, sejumlah isu teknis memang masih menjadi pekerjaan rumah dalam kerja sama pengembangan pesawat tempur tersebut. Karena itu, pemerintah berharap pendekatan langsung melalui tim ahli bisa membantu menyelesaikan perbedaan spesifikasi dan membuka jalan bagi kelanjutan proyek.

“Memang ada isu-isu teknis terkait dengan spesifikasi dan yang lain, tetapi harapannya ini akan diselesaikan dengan dikirimnya tim ke sana,” ujar Airlangga dalam pernyataannya yang dikutip Jumat (3/4/2026).

Proyek yang sudah dibahas sejak era SBY

Kerja sama Indonesia dalam proyek KF-21 bukan hal baru. Airlangga menyebut pembahasan mengenai pesawat tempur itu sudah berlangsung sejak masa pemerintahan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, lalu diteruskan pada era Presiden Joko Widodo.

Riwayat panjang itu membuat proyek KF-21 dipandang sebagai salah satu program strategis yang membutuhkan kepastian lanjutan. Pemerintah kini berupaya memastikan pembahasan tidak berhenti di level diplomasi, tetapi masuk ke penyelesaian teknis dan skema kerja sama yang lebih jelas.

Dalam konteks itu, kehadiran tim teknis dinilai penting untuk menjaga komunikasi antarpihak tetap terbuka. Langkah ini juga memberi sinyal bahwa Indonesia masih melihat proyek ini sebagai bagian dari agenda modernisasi alutsista dan penguatan industri pertahanan.

Ada pembahasan pembayaran proyek

Airlangga juga menyinggung harapan agar pengiriman tim ke Korea Selatan bisa mendorong penyelesaian pembayaran proyek. Ia menyebut aspek itu ikut menjadi perhatian karena proyek ini sudah berjalan cukup lama dan memerlukan kejelasan tindak lanjut.

Pernyataan tersebut menunjukkan bahwa selain isu teknologi, aspek pembiayaan tetap menjadi bagian penting dari negosiasi. Dalam proyek pertahanan lintas negara, detail pembayaran, porsi partisipasi industri, serta pembagian hak teknologi biasanya menjadi faktor yang menentukan kelancaran kerja sama.

Berikut poin penting yang disampaikan Airlangga terkait proyek KF-21:

  1. Indonesia akan mengirim tim teknis dan engineering ke Korea Selatan.
  2. Tim akan membahas isu spesifikasi dan kendala teknis lainnya.
  3. Pemerintah berharap pembahasan ini turut membantu menyelesaikan pembayaran proyek.
  4. Proyek KF-21 telah dibahas sejak era SBY dan dilanjutkan pada era Jokowi.

MoU senilai Rp 173 triliun ikut mewarnai kunjungan

Selain isu KF-21, kunjungan Prabowo ke Korea Selatan juga menghasilkan penandatanganan 10 nota kesepahaman antara Indonesia dan Korea Selatan. Nilai keseluruhan kerja sama itu disebut mencapai 10,2 miliar dolar AS atau sekitar Rp 173 triliun.

Airlangga menyampaikan angka itu dalam siaran pers pemerintah pada Kamis (2/4/2026). Kesepakatan tersebut mencakup sektor ekonomi, energi, digital, kesehatan, hingga industri masa depan, sehingga memperlihatkan skala hubungan bilateral yang semakin luas.

Prabowo sendiri menyaksikan langsung pengumuman dan pertukaran 10 MoU tersebut. Dalam pernyataannya, ia menekankan bahwa kunjungan kenegaraan pertamanya memiliki arti penting karena Korea Selatan dipandang sebagai mitra dekat Indonesia.

Kerja sama meluas ke energi, AI, dan industri masa depan

Isi MoU yang ditandatangani kedua negara tidak hanya menyentuh pertahanan, tetapi juga sektor strategis lain. Pemerintah Indonesia dan Korea Selatan sepakat memperkuat dialog strategis komprehensif, kerja sama ekonomi 2.0, kemitraan mineral kritis, serta pengembangan kecerdasan buatan untuk kesehatan dasar dan pembangunan manusia.

Ada pula fokus pada energi bersih, penangkapan dan penyimpanan karbon atau CCS, serta industri jasa pembangkit lepas pantai. Dalam sektor keuangan, kedua negara juga memperkuat kolaborasi lewat kemitraan Danantara Indonesia dengan Export-Import Bank of Korea.

Rangkaian kerja sama itu memperlihatkan bahwa hubungan Indonesia-Korea Selatan tidak berdiri pada satu proyek saja. Di tengah itu, KF-21 tetap menjadi salah satu agenda yang menyita perhatian karena menyangkut teknologi pertahanan tinggi dan posisi Indonesia dalam rantai industri kedirgantaraan.

Mengapa KF-21 penting bagi Indonesia

KF-21 Boramae merupakan jet tempur generasi baru yang dikembangkan Korea Selatan bersama mitra internasionalnya. Bagi Indonesia, keterlibatan dalam proyek ini pernah dipandang sebagai peluang untuk memperkuat kemampuan industri pertahanan nasional sekaligus memperdalam transfer teknologi.

Karena itu, kelanjutan proyek ini menjadi isu yang sensitif sekaligus strategis. Jika pembahasan teknis berjalan lancar, Indonesia berpeluang mempertahankan perannya dalam kerja sama pengembangan pesawat tempur modern yang nilainya besar dan berdampak panjang bagi sektor pertahanan.

Dalam situasi sekarang, pengiriman tim teknis ke Korea Selatan menjadi langkah penting untuk menjaga agar komunikasi antarnegara tetap produktif. Pemerintah tampak ingin memastikan bahwa isu spesifikasi, pembiayaan, dan kelanjutan proyek bisa diselesaikan secara bertahap melalui jalur diplomasi dan teknis yang lebih intensif.

Baca selengkapnya di: www.suara.com

Berita Terkait

Back to top button