Kredit Naik Kencang, Likuiditas Bank Tetap Solid di Tengah Gejolak Ekonomi

Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mencatat kredit perbankan terus tumbuh stabil pada Februari 2026. Hingga akhir bulan itu, penyaluran kredit naik 9,37% secara tahunan menjadi Rp8.559 triliun, sejalan dengan aktivitas intermediasi bank yang masih terjaga.

Kepala Eksekutif Pengawas Perbankan OJK, Dian Ediana Rae, mengatakan capaian tersebut menunjukkan fungsi penyaluran dana oleh perbankan tetap berjalan di tengah dinamika ekonomi. Data ini juga memperlihatkan bahwa permintaan pembiayaan masih aktif, terutama dari sektor investasi dan korporasi.

Kredit investasi jadi penggerak utama

Dari sisi jenis kredit, pembiayaan investasi menjadi pendorong paling kuat dengan pertumbuhan 20,72% secara tahunan. Kenaikan ini mengindikasikan bahwa dunia usaha masih melanjutkan ekspansi, baik untuk pembangunan kapasitas baru maupun perluasan usaha.

Pada segmen debitur, kredit korporasi mencatat kenaikan tertinggi sebesar 14,74% secara tahunan. Kondisi ini menunjukkan perusahaan besar masih menjadi motor penting dalam penyerapan pembiayaan perbankan pada awal 2026.

Bank BUMN memimpin pertumbuhan penyaluran kredit

Jika dilihat berdasarkan kelompok bank, bank Badan Usaha Milik Negara atau BUMN membukukan pertumbuhan kredit tertinggi sebesar 12,78% secara tahunan. Angka ini menegaskan peran besar bank pelat merah dalam menopang pembiayaan ekonomi nasional.

Pertumbuhan pada bank BUMN umumnya berkaitan dengan jangkauan jaringan yang luas dan portofolio pembiayaan yang besar. Dalam kondisi ekonomi yang masih menyesuaikan diri, kontribusi kelompok bank ini menjadi penting untuk menjaga ketersediaan dana bagi pelaku usaha dan rumah tangga.

Dana pihak ketiga ikut menguat

Di sisi pendanaan, dana pihak ketiga atau DPK juga tumbuh kuat 13,18% secara tahunan menjadi Rp10.102 triliun. Peningkatan ini terutama ditopang oleh giro yang naik 18,56%, deposito tumbuh 13%, dan tabungan bertambah 8,12%.

Kenaikan DPK memberi ruang lebih luas bagi bank untuk menyalurkan kredit tanpa menekan likuiditas secara berlebihan. Kondisi ini penting karena pertumbuhan dana simpanan yang sehat biasanya menjadi penopang utama stabilitas intermediasi perbankan.

Likuiditas perbankan masih aman

OJK menilai kondisi likuiditas industri perbankan masih solid dan berada pada level yang aman. Hal itu terlihat dari rasio alat likuid terhadap non-core deposit atau AL/NCD yang mencapai 121,29%, serta alat likuid terhadap DPK atau AL/DPK sebesar 27,4%.

Selain itu, liquidity coverage ratio atau LCR juga tercatat sangat kuat di level 195,64%. Rasio ini menunjukkan bank memiliki bantalan likuiditas yang cukup besar untuk menghadapi kebutuhan dana jangka pendek.

Kualitas kredit dan permodalan tetap terkendali

Dari sisi risiko, kualitas aset perbankan masih terjaga dengan baik. Rasio kredit bermasalah atau NPL gross berada di 2,17%, sementara NPL net tercatat 0,83%, dan loan at risk atau LaR di level 9,24%.

Kinerja profitabilitas juga masih stabil, tercermin dari return on assets atau ROA sebesar 2,37%. Di saat yang sama, permodalan perbankan tetap sangat kuat dengan capital adequacy ratio atau CAR mencapai 25,83%.

1. Data penting per Februari 2026

  1. Kredit perbankan tumbuh 9,37% yoy menjadi Rp8.559 triliun.
  2. DPK naik 13,18% yoy menjadi Rp10.102 triliun.
  3. Kredit investasi tumbuh 20,72% yoy.
  4. Kredit korporasi naik 14,74% yoy.
  5. Kredit bank BUMN tumbuh 12,78% yoy.

2. Indikator kesehatan perbankan

  1. AL/NCD: 121,29%.
  2. AL/DPK: 27,4%.
  3. LCR: 195,64%.
  4. NPL gross: 2,17%.
  5. NPL net: 0,83%.
  6. LaR: 9,24%.
  7. ROA: 2,37%.
  8. CAR: 25,83%.

Optimisme industri masih terjaga

Hasil Survei Perbankan OJK pada triwulan I-2026 menunjukkan industri perbankan tetap sehat dan tingkat risikonya terkendali. Survei itu juga memperlihatkan optimisme pelaku industri masih tinggi terhadap prospek usaha ke depan.

Dengan pertumbuhan kredit yang masih kuat, likuiditas yang aman, serta permodalan yang tebal, perbankan nasional dinilai masih memiliki ruang untuk mendukung pembiayaan ekonomi. Tantangan global tetap perlu dicermati, tetapi fondasi industri perbankan pada awal 2026 masih terlihat cukup kokoh untuk menjaga laju intermediasi.

Baca selengkapnya di: www.medcom.id
Exit mobile version