ESDM Kunci Lima Langkah Jaga Migas Nasional, Saat Jalur Pasok Global Bergejolak

Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) menyiapkan lima strategi untuk menjaga pasokan minyak dan gas bumi di tengah gejolak global yang memicu gangguan rantai pasok energi. Langkah ini muncul saat ketidakpastian akibat konflik di Timur Tengah, terutama di jalur penting seperti Selat Hormuz, mulai memengaruhi arus impor energi ke Indonesia.

Sekretaris Direktorat Jenderal Migas Kementerian ESDM Muhammad Rizwi Jilanisaf Hisjam mengatakan pemerintah bergerak cepat agar kebutuhan BBM dan LPG nasional tetap terpenuhi. Dalam rapat bersama Komisi XII DPR di Jakarta, Rabu (8/4/2026), ia menyebut pasokan BBM dan LPG nasional saat ini masih aman berkat serangkaian langkah mitigasi yang sudah dijalankan.

1. Mengatur konsumsi BBM dan LPG agar lebih bijak

Pemerintah meminta penggunaan BBM dan LPG berlangsung lebih terukur agar tekanan terhadap pasokan bisa ditekan. Kebijakan ini sudah dituangkan dalam surat resmi yang diterbitkan Direktorat Jenderal Migas bersama BPH Migas sebagai regulator sektor hilir.

Langkah pengendalian konsumsi menjadi penting karena lonjakan permintaan sering memperbesar risiko gangguan distribusi saat pasokan global tidak stabil. Dengan pengaturan yang lebih disiplin, pemerintah menahan agar kebutuhan rumah tangga dan sektor vital tetap mendapat prioritas.

2. Mengalihkan sumber impor ke wilayah yang lebih aman

ESDM juga memperluas sumber impor energi ke luar kawasan Timur Tengah yang kini terdampak gangguan, terutama di jalur Selat Hormuz. Pemerintah mulai membangun pasokan dari Amerika Serikat, Afrika, Asia, dan Asia Tenggara untuk mengurangi ketergantungan pada satu kawasan.

Rizwi menegaskan perubahan jalur impor ini dilakukan karena kondisi geopolitik membuat pasokan dari Timur Tengah tidak lagi bisa diandalkan sepenuhnya. Diversifikasi sumber impor memberi ruang bagi Indonesia untuk menjaga fleksibilitas logistik ketika satu wilayah mengalami hambatan.

3. Memprioritaskan kebutuhan dalam negeri daripada ekspor

Pemerintah juga memberi instruksi kepada seluruh Kontraktor Kontrak Kerja Sama atau KKKS agar mengutamakan kebutuhan domestik. Minyak mentah produksi nasional diarahkan untuk memenuhi kebutuhan kilang dalam negeri terlebih dahulu sebelum mempertimbangkan ekspor.

Kebijakan ini penting untuk menjaga ketersediaan bahan baku bagi kilang saat pasar global bergejolak. Dengan menahan suplai di dalam negeri, pemerintah mengurangi risiko kekurangan pasokan yang bisa berdampak pada BBM di tingkat konsumen.

4. Mengoptimalkan kapasitas kilang nasional

Optimalisasi kilang menjadi strategi berikutnya untuk memperkuat ketahanan energi dari sisi pengolahan. Pemerintah terus mendorong penyesuaian produksi, termasuk di Kilang RDMP Balikpapan, agar kapasitas pengolahan nasional bisa meningkat.

Penguatan kilang sangat penting karena Indonesia masih menghadapi tantangan ketergantungan terhadap produk olahan impor. Ketika kapasitas kilang naik, negara bisa menekan kebutuhan impor dan menjaga pasokan BBM lebih stabil dalam jangka menengah.

5. Menambah pasokan LPG dari impor dan produksi domestik

Di sektor LPG, pemerintah menambah pasokan melalui dua jalur, yakni impor dan produksi dalam negeri. ESDM juga mulai mengalihkan sebagian LPG yang sebelumnya dipakai industri untuk membantu memenuhi kebutuhan LPG 3 kg bagi masyarakat.

Selain itu, pemerintah mendorong kilang LPG swasta agar memprioritaskan pasokan ke Pertamina Patra Niaga. Pola ini diharapkan membuat distribusi lebih terfokus pada kebutuhan publik, terutama saat konsumsi rumah tangga tetap tinggi dan pasar global mengalami ketegangan.

Fokus ESDM menjaga pasokan nasional tetap stabil

Langkah-langkah tersebut menunjukkan pemerintah tidak hanya bereaksi terhadap krisis, tetapi juga membangun sistem antisipasi yang lebih luas. Strategi ini menyentuh sisi konsumsi, impor, produksi, pengolahan, hingga distribusi agar pasokan migas tetap aman di tengah gejolak global.

Berikut ringkasan lima strategi yang dijalankan ESDM:

  1. Mengatur konsumsi BBM dan LPG agar lebih hemat dan terukur.
  2. Mendiversifikasi sumber impor ke Amerika Serikat, Afrika, Asia, dan Asia Tenggara.
  3. Mengutamakan kebutuhan dalam negeri dibanding ekspor produksi nasional.
  4. Mengoptimalkan kapasitas kilang, termasuk RDMP Balikpapan.
  5. Menambah pasokan LPG melalui impor, produksi domestik, dan penyesuaian distribusi.

Di tengah kondisi geopolitik yang belum pasti, ketahanan energi menjadi salah satu fokus utama pemerintah agar aktivitas masyarakat dan industri tidak terganggu. Selama rantai pasok global masih rentan, pengendalian konsumsi, diversifikasi impor, dan penguatan kilang akan terus menjadi tumpuan utama dalam menjaga ketersediaan BBM dan LPG nasional.

Baca selengkapnya di: www.beritasatu.com

Berita Terkait

Back to top button