Rupiah Terseret Ketegangan Timur Tengah, Israel Langgar Gencatan Senjata Tekan Kurs

Nilai tukar rupiah kembali berada di bawah tekanan pada perdagangan Kamis pagi setelah pasar merespons memanasnya konflik di Timur Tengah. Mata uang Indonesia tercatat melemah 18 poin atau 0,11 persen ke level Rp17.030 per dolar AS, dari posisi sebelumnya Rp17.012 per dolar AS.

Pelemahan ini terjadi ketika pelaku pasar mencermati meningkatnya ketidakpastian global usai muncul laporan pelanggaran kesepakatan gencatan senjata. Sentimen negatif juga menguat setelah serangan Israel ke Lebanon kembali memicu kekhawatiran atas eskalasi konflik dan pergerakan harga energi dunia.

Tekanan dari geopolitik kembali dominan

Analis Bank Woori Saudara, Rully Nova, menilai kondisi rupiah saat ini sangat dipengaruhi sentimen eksternal yang memburuk. Ia mengatakan serangan Israel ke Lebanon memicu kekhawatiran baru di pasar, terutama karena konflik itu berpotensi mendorong harga minyak naik dan menekan mata uang negara berkembang.

Dalam situasi seperti ini, investor biasanya mencari aset yang dianggap lebih aman. Aliran dana pun cenderung keluar dari pasar negara emerging market, termasuk Indonesia, sehingga rupiah ikut tertekan.

Perbedaan tafsir gencatan senjata menambah ketidakpastian

Ketegangan di kawasan itu juga dipicu perbedaan pandangan atas kesepakatan antara Amerika Serikat dan Iran. Donald Trump sebelumnya menyebut kesepakatan damai tidak mencakup konflik di Lebanon, sedangkan Iran menilai penghentian permusuhan berlaku di seluruh wilayah.

Perbedaan tafsir ini membuat pasar menilai situasi belum benar-benar stabil. Ketika kepastian geopolitik melemah, risiko lonjakan harga minyak dan kebutuhan hedging valas ikut meningkat.

Serangan udara di Beirut perkuat sentimen risk-off

Laporan serangan udara besar di wilayah Beirut dan sekitarnya turut menambah tekanan pada pasar keuangan global. Kondisi ini membuat investor kembali bersikap hati-hati karena potensi konflik meluas dapat berdampak pada suplai energi dan stabilitas kawasan.

Berikut faktor utama yang menekan rupiah hari ini:

  1. Meningkatnya ketegangan di Timur Tengah.
  2. Laporan pelanggaran gencatan senjata.
  3. Serangan Israel ke Lebanon.
  4. Potensi kenaikan harga minyak dunia.
  5. Meningkatnya permintaan dolar AS sebagai aset aman.

Faktor domestik belum cukup kuat menopang rupiah

Dari dalam negeri, pasar juga memantau sejumlah indikator yang belum memberi dorongan kuat bagi penguatan rupiah. Cadangan devisa Indonesia tercatat turun 3,7 miliar dolar AS menjadi US$148,2 miliar pada akhir Maret 2026.

Selain itu, realisasi surplus perdagangan yang hanya mencapai US$1,2 miliar juga dinilai belum optimal. Angka ini lebih rendah dari ekspektasi pasar sebesar US$1,5 miliar, sehingga belum cukup memberi katalis positif bagi mata uang domestik.

Proyeksi pergerakan rupiah masih sensitif

Dengan kombinasi tekanan global dan data domestik yang belum sepenuhnya solid, rupiah diperkirakan bergerak hati-hati dalam jangka pendek. Pasar menimbang kemungkinan lanjutan volatilitas jika ketegangan geopolitik terus berlanjut dan harga komoditas energi kembali naik.

Dalam perdagangan hari ini, rupiah diperkirakan berada di kisaran Rp17.020 hingga Rp17.080 per dolar AS. Pergerakan kurs akan sangat bergantung pada arah sentimen global, perkembangan konflik di Timur Tengah, dan respons pelaku pasar terhadap data ekonomi domestik terbaru.

Baca selengkapnya di: mediaindonesia.com

Berita Terkait

Back to top button