Blackrock kembali menambah eksposur di saham PT Barito Renewables Energy Tbk (BREN), di tengah pergerakan harga yang sempat terkoreksi lalu pulih cukup cepat. Langkah ini menarik perhatian pasar karena dilakukan saat saham emiten energi milik Prajogo Pangestu itu masih bergerak volatil dan menjadi sorotan investor institusi global.
Data perdagangan yang dihimpun Bloomberg menunjukkan Blackrock membeli 945.900 lembar saham BREN pada awal April dengan harga rata-rata Rp4.821 per saham. Aksi beli itu memperkuat posisi Blackrock yang sejak akhir tahun lalu memang terus mengakumulasi saham BREN secara bertahap.
Aksi Akumulasi di Tengah Fluktuasi Harga
Pembelian Blackrock terjadi ketika saham BREN sempat tertekan mengikuti pelemahan IHSG. Namun, saham tersebut kemudian bangkit dan ditutup di level Rp5.800 per saham pada sesi I Jumat, menguat 20,83% dalam sepekan setelah sempat menyentuh titik terendah Rp4.260 per saham.
Pergerakan ini menunjukkan minat investor besar tetap tinggi meski harga bergerak liar. Kondisi seperti ini kerap dimanfaatkan manajer investasi global untuk menambah posisi saat valuasi dianggap lebih menarik.
Porsi Kepemilikan Blackrock Meningkat
Sepanjang kuartal I, Blackrock tercatat mengakumulasi sekitar 45,63 juta saham BREN dengan rata-rata harga pembelian Rp8.160 per lembar. Volume pembelian terbesar justru terjadi pada kuartal IV sebelumnya, ketika Blackrock menambah 187,48 juta saham dengan harga rata-rata Rp9.665 per lembar.
Hingga awal April, Blackrock memegang 328,99 juta saham BREN atau setara 0,25% dari total saham beredar. Nilai kepemilikannya sekitar Rp1,88 triliun, dengan basis biaya rata-rata Rp8.721 per saham selama 2,25 tahun terakhir.
Berikut ringkasan posisi investor besar di BREN:
| Investor | Kepemilikan Saham | Nilai Kepemilikan | Catatan |
|---|---|---|---|
| Blackrock | 328,99 juta | Rp1,88 triliun | Basis biaya Rp8.721 |
| Credit Agricole Group | 37,39 juta | Rp213,13 miliar | Tambah 6,71 juta sejak awal tahun |
| Vanguard Group Inc. | 16,28 juta | Rp92,82 miliar | Tambah 681.300 saham sejak awal tahun |
Investor Global Lain Ikut Menambah Porsi
Langkah Blackrock tidak berdiri sendiri. Credit Agricole Group, bank terbesar kedua di Prancis, juga menambah 218.018 lembar saham BREN pada awal April dengan harga rata-rata Rp4.950 per saham.
Sejak awal tahun, Credit Agricole menambah 6,71 juta lembar dan kini memegang 37,39 juta saham BREN. Valuasi kepemilikannya mencapai Rp213,13 miliar, dengan rata-rata perolehan Rp9.366 per lembar.
Vanguard Group Inc. juga memperbesar kepemilikan. Manajer investasi global itu menambah 681.300 saham BREN sejak awal tahun dan kini menggenggam 16,28 juta saham dengan valuasi Rp92,82 miliar.
Fundamental BREN Tetap Jadi Daya Tarik
Minat investor institusi datang seiring perkembangan operasional BREN yang dinilai solid. Sepanjang 2025, kapasitas terpasang pembangkit listrik panas bumi perusahaan naik menjadi 910 megawatt, tumbuh 2,7% secara tahunan.
Kenaikan itu ditopang proyek retrofit dan optimalisasi aset yang sudah ada, termasuk penyelesaian retrofit Salak yang menyumbang 7,7 MW. Perseroan juga menyebut Unit Binary Salak ikut memperkuat peningkatan kapasitas tersebut.
CEO Barito Renewables, Hendra Soetjipto Tan, menyampaikan bahwa portofolio panas bumi tetap menjadi tulang punggung bisnis perseroan. Ia menegaskan kinerja sektor ini masih stabil dan menjadi kontributor utama terhadap hasil perusahaan.
Di sisi lain, BREN berhasil menyelesaikan dua sumur eksplorasi di prospek Gunung Hamiding pada Desember sebelumnya. Hasilnya mengonfirmasi potensi sumber daya listrik panas bumi sekitar 55 MW hingga 60 MW.
Kinerja Keuangan dan Prospek Ekspansi
Dari sisi profitabilitas, BREN membukukan EBITDA US$518 juta dengan margin 85,6%. Laba bersih yang diatribusikan kepada pemilik entitas induk mencapai US$132,19 juta atau sekitar Rp2,2 triliun, tumbuh 8,26% secara tahunan.
Perseroan juga menyiapkan ekspansi lanjutan melalui Salak Unit 7 dan Wayang Windu Unit 3. Kedua proyek itu dijadwalkan mulai beroperasi secara komersial pada akhir 2026.
Analis Sucor Sekuritas, Andreas Yordan Tarigan, menilai keberhasilan eksplorasi Hamiding memperkuat peluang pertumbuhan BREN ke proyek greenfield. Ia menyebut prospek tersebut memberi landasan bagi pertumbuhan laba majemuk tahunan atau CAGR 28% dalam delapan tahun ke depan, dengan target laba mencapai US$810 juta pada 2033.
Dalam risetnya, Sucor Sekuritas mempertahankan rekomendasi buy dengan target harga Rp19.800 per saham. Kombinasi antara akumulasi investor global, pertumbuhan kapasitas, dan ekspansi proyek baru membuat saham BREN tetap menjadi salah satu emiten energi yang mendapat perhatian besar di pasar.







