Indonesia Design District (IDD) PIK 2 akan membawa 13 brand desain Indonesia ke Salone del Mobile Milano, salah satu pameran furnitur dan desain terbesar di dunia. Ajang tersebut dijadwalkan berlangsung pada 21-26 April di Milan, Italia, dan menjadi panggung penting untuk memperkenalkan karya desainer Tanah Air ke pasar global.
Langkah ini menegaskan upaya IDD PIK 2 membangun ekosistem desain yang lebih kuat, bukan sekadar memamerkan produk. Melalui keikutsertaan itu, desainer, brand, dan manufaktur Indonesia diharapkan bisa terhubung dalam rantai industri yang lebih kompetitif dan relevan di level internasional.
Dorongan untuk desain Indonesia di pasar global
CEO IDD PIK 2, Ipeng Widjojo, menyebut partisipasi ini sejalan dengan visi perusahaan untuk membuat produk desain Indonesia lebih dikenal luas. Ia menegaskan bahwa IDD ingin menghadirkan sebuah ekosistem yang mampu membawa karya lokal menembus pasar dunia.
“Kami punya visi membuat satu ekosistem agar produk desain dari Indonesia bisa dikenal lebih luas dan mendunia,” ujar Ipeng dalam acara di Elmirai Showroom, PIK 2, Kamis (9/4/2026). Pernyataan ini memperlihatkan bahwa strategi IDD tidak berhenti pada pameran, tetapi juga pada pembangunan jejaring industri.
IDP Pavilion usung tema “House of Indonesia”
Di Salone del Mobile Milano, IDD PIK 2 akan menampilkan IDD Pavilion dengan tema “House of Indonesia”. Konsep ini dirancang untuk merepresentasikan ekosistem desain terintegrasi yang mempertemukan kreativitas, produksi, dan identitas desain Indonesia dalam satu ruang pamer.
Paviliun tersebut akan menampilkan karya dari 13 brand desain Indonesia yang telah melewati proses kurasi ketat. Kurator IDD Pavilion, Alvin Tjitrowirjo, mengatakan kurasi dilakukan untuk menonjolkan spektrum kemampuan desainer Indonesia secara utuh.
Fokus kurasi pada ragam kemampuan desain
Alvin menjelaskan bahwa tim kurasi tidak hanya mencari produk yang menarik secara visual. Proses itu juga menilai kekuatan craftsmanship, kekayaan ide, serta keberagaman pendekatan desain yang dimiliki para peserta.
Ia menyebut strategi kurasi diarahkan agar produk yang terpilih bisa menunjukkan “range kemampuan desainer Indonesia” sekaligus menghadirkan harmoni dari keragaman tersebut. Dengan pendekatan ini, paviliun Indonesia diharapkan tampil sebagai etalase yang mewakili kualitas serta karakter desain nasional.
Peran desain interior dalam memperkuat narasi
Desain interior IDD Pavilion dikerjakan oleh Santi Alaysius dari Domisilium Studio. Ia menata ruang dengan fokus pada eksplorasi material dan narasi visual agar pesan kolaborasi dalam ekosistem desain Indonesia terasa kuat bagi pengunjung.
Pendekatan interior seperti ini penting di ajang internasional karena pengunjung biasanya menilai bukan hanya produk, tetapi juga pengalaman ruang dan pesan yang dibawa. Dalam konteks Salone del Mobile, tampilan paviliun bisa menjadi faktor yang memperkuat daya tarik brand Indonesia di hadapan pembeli, kurator, dan pelaku industri global.
Daftar peserta dan dukungan untuk desainer muda
Selain 13 brand utama, sejumlah desainer muda Indonesia juga akan tampil di SaloneSatellite, platform khusus bagi talenta baru di dunia desain. Berikut nama yang disebut ikut berpartisipasi:
- Studio Banda
- Zulyo Kumara
- Cynthia Margaret
IDD juga memberikan dukungan untuk pengiriman karya mereka ke Milan. Dukungan seperti ini penting karena biaya logistik, presentasi, dan partisipasi di pameran internasional kerap menjadi tantangan besar bagi desainer muda.
Apresiasi dari pemerintah dan kolaborasi lintas lembaga
Direktur Arsitektur dan Desain Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif, Sabar Norma Megawati Panjaitan, mengapresiasi inisiatif tersebut. Ia menilai langkah IDD PIK 2 menjadi bukti bahwa desain Indonesia semakin diperhitungkan di kancah global.
“Partisipasi ini menjadi kebanggaan sekaligus bukti bahwa pemerintah terus mendukung desainer Indonesia untuk tampil dan bersaing di panggung global,” ujar Sabar. Dukungan juga datang dari Kementerian Ekonomi Kreatif, Kementerian Perdagangan RI, Indonesia Design Development Centre (IDDC), Indonesian Trade Promotion Center (ITPC) Milan, serta Kedutaan Besar Republik Indonesia di Roma.
Keterlibatan banyak lembaga menunjukkan bahwa kehadiran 13 brand Indonesia di Milan tidak berdiri sendiri. Langkah ini menjadi bagian dari strategi promosi yang lebih luas untuk membuka peluang kolaborasi baru, memperkuat reputasi desain Indonesia, dan memperbesar kesempatan masuk ke pasar internasional yang lebih kompetitif.
