Dua kapal tanker raksasa asal China mulai melintasi Selat Hormuz pada Sabtu (11/4/2026) setelah sebelumnya mendapat izin dari Iran untuk melewati jalur strategis itu. Berdasarkan data pelayaran LSEG Marine Traffic, dua kapal very large crude carrier (VLCC) bernama Cospearl Lake dan He Rong Hai yang disewa Unipec, unit perdagangan Sinopec, tercatat masuk dan keluar dari jalur uji coba di sekitar Pulau Larak, Iran.
Di saat yang sama, tanker milik Pertamina masih belum melintas keluar dari kawasan Teluk Persia. Kapal Pertamina Pride tercatat berstatus berlabuh atau at anchor di Ras Tanura, Arab Saudi, meski tujuan akhirnya menuju Cilacap, Indonesia.
Pergerakan kapal di jalur paling sensitif dunia
Selat Hormuz kembali menjadi titik perhatian pasar energi global karena jalur ini menjadi pintu utama keluar-masuk minyak dari kawasan Teluk. Sekitar sepertiga perdagangan minyak dunia melewati selat sempit ini, sehingga setiap gangguan langsung memicu perhatian pelaku pasar dan pemerintah negara importir energi.
Data pelayaran menunjukkan Cospearl Lake dan He Rong Hai sempat bergerak di sekitar perairan dekat Pulau Larak sebelum melanjutkan lintasan melalui jalur tersebut. Pergerakan ini menandakan masih adanya lalu lintas tanker besar yang berhasil melewati kawasan yang kerap sensitif secara geopolitik.
Kapal Pertamina belum bergerak keluar dari Teluk Persia
Berbeda dengan dua kapal China itu, Pertamina Pride masih tertahan di wilayah Teluk Persia dan belum melanjutkan pelayaran menuju Selat Hormuz. Data terakhir menunjukkan kapal itu berada pada posisi aman di Ras Tanura dengan kecepatan rendah dan belum masuk ke jalur keluar menuju laut lepas.
Kapal tanker lain milik Pertamina, Gamsunoro, juga belum bergerak keluar dari area Teluk Persia. Kapal itu terpantau berada di sekitar Dubai, Uni Emirat Arab, sehingga belum menempuh rute yang sama seperti dua kapal asal China tadi.
Mengapa Selat Hormuz selalu jadi perhatian
Selat Hormuz hanya menjadi jalur pelayaran, tetapi juga simbol stabilitas pasokan energi dunia. Saat jalur ini terganggu, pasar biasanya bereaksi cepat karena risiko keterlambatan pengiriman minyak dan naiknya biaya pengapalan.
Dalam beberapa kasus sebelumnya, ketegangan di kawasan ini telah memicu volatilitas harga minyak global. Kondisi itu membuat setiap pergerakan tanker di Selat Hormuz dipantau ketat oleh perusahaan pelayaran, trader minyak, dan otoritas maritim.
Kronologi singkat pergerakan kapal
- Cospearl Lake dan He Rong Hai mulai melintasi Selat Hormuz pada Sabtu, 11 April 2026.
- Dua tanker itu terdata dalam sistem pelayaran LSEG Marine Traffic saat masuk dan keluar jalur uji coba di sekitar Pulau Larak, Iran.
- Pertamina Pride masih berstatus at anchor di Ras Tanura, Arab Saudi.
- Gamsunoro juga belum meninggalkan kawasan Teluk Persia dan masih terpantau di sekitar Dubai, UEA.
Dampak bagi jalur distribusi minyak
Kondisi ini menunjukkan bahwa akses laut menuju pasar Asia masih sangat bergantung pada dinamika di Selat Hormuz. Ketika kapal besar dari China bisa melintas, tetapi kapal lain seperti milik Pertamina masih tertahan, pasar membaca situasi ini sebagai sinyal bahwa kondisi pelayaran belum sepenuhnya stabil.
Bagi Indonesia, kelancaran tanker menuju Cilacap penting untuk menjaga rantai pasok energi domestik. Selama kapal belum bergerak keluar dari kawasan Teluk Persia, jadwal kedatangan dan distribusi kargo masih berpotensi terdampak oleh situasi di lapangan.
Baca selengkapnya di: www.beritasatu.com