Airbus mencatat pengiriman pesawat komersial terendah sejak 2009 pada kuartal pertama, hanya 114 unit jet yang diserahkan ke pelanggan. Kinerja ini turun 16% dibandingkan periode yang sama pada tahun sebelumnya dan memunculkan pertanyaan baru soal kemampuan produsen pesawat asal Prancis itu mengejar target tahunan yang telah dipasang lebih dulu.
Tekanan terhadap Airbus datang saat industri penerbangan masih menghadapi biaya operasional tinggi, gangguan rantai pasok, dan dampak konflik Iran yang memengaruhi aktivitas sejumlah maskapai. Target awal sekitar 870 pengiriman sepanjang tahun kini terlihat lebih berat dicapai, karena angka tersebut disusun sebelum situasi geopolitik terbaru menekan industri.
Tekanan pada target pengiriman
Airbus membutuhkan akselerasi produksi yang besar dalam sembilan bulan tersisa agar bisa mendekati target tahunannya. Christophe Menard, analis senior Deutsche Bank, menilai perusahaan harus menjalankan jadwal yang sangat padat pada akhir periode, meski secara teori peluang masih terbuka.
Juru bicara perusahaan juga mengonfirmasi bahwa capaian terbaru itu merupakan yang terendah sejak Airbus mengirim 116 pesawat pada kuartal pertama 2009. Data ini penting karena menunjukkan bahwa perlambatan kali ini bukan sekadar fluktuasi biasa, melainkan penurunan yang masuk ke level historis.
Faktor-faktor yang menekan produksi
Sejumlah hambatan produksi masih membayangi Airbus dan mempersulit pemulihan pengiriman. Masalah ini tidak hanya datang dari sisi permintaan, tetapi juga dari sisi manufaktur dan komponen yang masih terbatas.
- Kekurangan mesin yang menghambat produksi pesawat tertentu.
- Cacat produksi yang memicu inspeksi tambahan dan menunda pengiriman.
- Lonjakan harga bahan bakar jet yang menekan operasional maskapai.
- Pembatasan operasional oleh sejumlah maskapai besar akibat konflik Iran.
Kombinasi faktor tersebut membuat rantai pasok Airbus bekerja di bawah tekanan. Dalam industri penerbangan, keterlambatan satu komponen saja bisa berdampak pada seluruh jadwal perakitan dan penyerahan pesawat.
Riwayat penyesuaian target
Tahun lalu, Airbus memang sudah memangkas target pengiriman menjadi 790 pesawat setelah menemukan panel badan pesawat yang rusak pada model A320. Temuan itu memaksa inspeksi tambahan dan menunda laju produksi, namun perusahaan akhirnya tetap menutup tahun dengan 793 pengiriman.
Kondisi itu memberi gambaran bahwa Airbus masih mampu mengejar target yang direvisi, tetapi margin kesalahannya kecil. Bila gangguan produksi kembali muncul dalam skala lebih besar, ruang untuk mengejar target tahunan akan semakin sempit.
Perbandingan dengan Boeing
Di sisi lain, Boeing belum merilis data penjualan kuartalan terbarunya, tetapi pesaing asal Amerika Serikat itu dilaporkan mengirim lebih banyak pesawat pada bulan sebelumnya. Boeing juga unggul dalam penjualan jet pada 2025 dan berhasil mengakhiri tren penurunan selama tujuh tahun, sehingga persaingan dua raksasa aviasi ini kembali memanas.
Perbedaan performa tersebut menambah tekanan bagi Airbus untuk memulihkan ritme produksi. Pasar kini menunggu apakah perusahaan dapat mempercepat pengiriman pada kuartal selanjutnya atau justru harus kembali menyesuaikan target bila gangguan operasional berlanjut.







