13 Startup Indonesia Bertahan Saat Dunia Melemah, Rahasia Tumbuh Ada Di Efisiensi

Sebanyak 13 startup asal Indonesia dan kawasan berhasil menonjol di tengah tekanan ekonomi global yang membuat banyak perusahaan teknologi menekan belanja dan menahan ekspansi. Mereka dipilih Endeavor Indonesia ke dalam daftar Endeavor Outliers 2026 karena mampu menjaga pertumbuhan sambil memperkuat efisiensi, profitabilitas, dan fondasi bisnis.

Pencapaian ini menunjukkan bahwa model pertumbuhan startup Indonesia mulai bergerak ke fase yang lebih matang. Di saat pasar global lebih berhati-hati, para founder justru dituntut membuat keputusan yang lebih cepat, lebih tepat, dan lebih disiplin dalam mengelola modal serta arah bisnis.

Strategi yang membuat startup tetap bertahan

Startup yang masuk daftar Outliers tidak hanya besar dari sisi skala, tetapi juga dinilai dari kemampuannya menavigasi risiko. Penilaian tersebut menempatkan efisiensi dan kualitas pertumbuhan sebagai faktor penting, bukan sekadar jumlah pendanaan atau kecepatan ekspansi.

Monika Rudijono, Managing Director Endeavor Indonesia, menilai capaian para Outliers dari Indonesia menjadi bukti bahwa membangun bisnis berskala besar dari Indonesia tetap sangat mungkin. Ia menekankan bahwa peran founder dalam mengambil keputusan krusial menjadi pembeda utama di tengah kondisi pasar yang berubah cepat.

Berikut pola yang terlihat dari startup yang mampu bertahan dan tumbuh:

  1. Menyesuaikan model bisnis lebih cepat saat permintaan pasar berubah.
  2. Mengutamakan efisiensi operasional ketimbang ekspansi agresif.
  3. Memperkuat profitabilitas agar bisnis lebih tahan terhadap tekanan eksternal.
  4. Mengandalkan keputusan founder pada momen genting.
  5. Memanfaatkan jaringan mentor untuk masukan strategis dan validasi arah bisnis.

Dukungan jaringan global ikut memperkuat langkah founder

Endeavor menyebut jaringan mentornya yang terdiri dari lebih dari 2.000 mentor di 50 negara ikut membantu para founder melewati fase penting dalam perjalanan bisnis. Dukungan ini dinilai relevan karena banyak startup kini menghadapi situasi pasar yang lebih selektif dan penuh ketidakpastian.

Dalam ekosistem seperti ini, akses ke pengalaman lintas negara menjadi nilai tambah. Founder dapat belajar dari pola ekspansi, strategi efisiensi, hingga cara menjaga bisnis tetap sehat ketika pendanaan tidak lagi mudah didapatkan.

Daftar Outliers juga memperlihatkan bahwa startup Indonesia berada di jalur yang semakin diperhitungkan dalam percakapan regional. Nama-nama seperti Edward Tirtanata dan James Prananto dari Kopi Kenangan, Umang Rustagi dan Akshay Garg dari Kredivo, Vince Iswara dari DANA, Achmad Zaky dari Bukalapak, serta Aldi Haryopratomo dari GoPay masuk dalam jajaran founder yang dinilai berhasil membangun bisnis dengan daya tahan tinggi.

Ekosistem startup bergerak ke fase yang lebih sehat

Endeavor Indonesia melihat perubahan arah ini sebagai tanda bahwa ekosistem startup sedang memasuki fase yang lebih disiplin. Pendanaan yang kini lebih selektif membuat perusahaan terdorong memperbaiki unit economics, efisiensi, dan struktur pertumbuhan sebelum mengejar skala yang lebih besar.

Secara global, daftar Outliers 2026 mencakup 238 perusahaan. Dari jumlah itu, terdapat 93 unicorn dan 5 decacorn yang menarik total pendanaan lebih dari 31 miliar dollar AS atau sekitar Rp 511,5 triliun dalam tiga tahun terakhir.

Kategori Outliers sendiri dibagi dalam beberapa tahap pertumbuhan, mulai dari Early Breakout dengan pendapatan 30 juta dollar AS hingga 50 juta dollar AS, Scaling Up 50 juta dollar AS hingga 100 juta dollar AS, Scaled & Growing di atas 100 juta dollar AS, dan Multipliers dengan nilai keluar di atas 500 juta dollar AS. Pembagian ini menunjukkan bahwa pertumbuhan kini tidak lagi dinilai dari kecepatan saja, tetapi juga dari ketahanan bisnis di setiap tahap perkembangan.

Indonesia masih punya ruang pertumbuhan besar

Dengan lebih dari 3.100 startup aktif, Indonesia tetap menjadi salah satu pasar terbesar di kawasan. Populasi lebih dari 270 juta jiwa dan kelas menengah yang terus berkembang memberi ruang bagi startup untuk menguji model bisnis yang relevan dengan kebutuhan pasar domestik.

Monika Rudijono menilai pertumbuhan ekonomi Indonesia yang stabil di atas 5 persen menjadi peluang penting bagi startup untuk memperkuat strategi jangka panjang. Kondisi ini membuat 2026 dipandang sebagai periode yang krusial bagi perusahaan rintisan yang ingin naik kelas dengan pondasi yang lebih kuat.

Di tengah tekanan global, startup Indonesia yang mampu bertahan tampak bukan hanya yang cepat tumbuh, tetapi juga yang sanggup beradaptasi, menjaga efisiensi, dan mengambil keputusan bisnis secara disiplin. Pola itu semakin mempertegas bahwa daya saing startup Indonesia kini bergeser dari sekadar mengejar valuasi menuju membangun bisnis yang tahan uji dalam jangka panjang.

Terkait