Kenaikan harga plastik yang melambung hingga 100 persen mulai menekan pelaku usaha mikro di berbagai daerah, terutama pedagang yang bergantung pada kemasan harian. Dampaknya terasa langsung karena biaya produksi naik, sementara harga jual sering tidak ikut naik agar pelanggan tidak kabur.
Di Pasar Lenteng Agung, Jakarta Selatan, tekanan itu terlihat jelas pada pedagang beras dan penjual makanan kecil. Sejumlah pelaku usaha mengaku laba mereka menyusut antara 16 persen hingga 25 persen karena biaya plastik dan kemasan terus bertambah.
Biaya kemasan naik, margin usaha makin tipis
Timan, pedagang beras di pasar tersebut, mengatakan harga plastik yang biasa ia beli Rp 65.000 per ikat kini naik menjadi Rp 135.000 per ikat. Kenaikan itu membuat biaya tambahan tidak bisa dihindari, padahal harga beras tidak dapat ditambah karena terikat Harga Eceran Tertinggi atau HET.
“Keuntungannya yang seharusnya sekarung ibaratnya Rp 30 ribu, ya dikurangi Rp 5 ribu buat nambah ongkos itu, plastik itu,” kata Timan saat ditemui di kiosnya. Kondisi tersebut membuat pelaku usaha seperti dirinya harus menahan laba demi menjaga harga tetap bersaing.
Tekanan serupa dialami Sata, pedagang pukis di lokasi yang sama. Ia menyebut harga plastik kemasan yang biasa Rp 8.000 per pak naik menjadi Rp 12.000, sementara mika meningkat dari Rp 18.000 menjadi Rp 25.000.
Untuk bertahan, Sata memilih tidak menaikkan harga jual pukis. Langkah itu memang menjaga pelanggan, tetapi memangkas laba hingga seperempat dari pendapatan harian.
Pedagang plastik ikut terdorong oleh kenaikan beruntun
Kenaikan harga tidak hanya dikeluhkan pelaku UMKM, tetapi juga pedagang plastik di tingkat eceran. Halimah, pemilik toko plastik di Pasar Lenteng Agung, mengatakan harga bisa berubah hampir setiap hari sejak Ramadan atau awal Maret lalu.
Ia menuturkan bahwa harga dari distributor bahkan bisa berbeda pada siang dan malam hari. Dalam salah satu contoh, harga satu jenis plastik naik dari Rp 9.500 menjadi Rp 11.000 per pak hanya dalam sehari.
Situasi itu mendorong pembeli mengubah pola belanja mereka. Banyak pedagang kecil kini hanya membeli plastik untuk kebutuhan satu hari agar modal tidak terlalu berat.
- Membeli dalam jumlah kecil untuk menekan arus kas harian.
- Mengurangi stok kemasan agar risiko kerugian lebih rendah.
- Menahan kenaikan harga jual demi mempertahankan pelanggan.
Pola ini menunjukkan bahwa kenaikan harga bahan pendukung bisa langsung mengubah cara kerja usaha mikro. Bagi pedagang makanan, minuman, atau bahan pokok, plastik bukan sekadar pembungkus, melainkan komponen biaya yang memengaruhi margin.
Pemerintah mencari sumber pasokan baru
Menteri UMKM Maman Abdurrahman membenarkan adanya tekanan pada usaha kecil akibat lonjakan harga plastik. Pemerintah, kata dia, telah menerima banyak aduan soal keuntungan yang menipis karena pelaku usaha memilih tidak menaikkan harga jual.
“Jadi dia tetap harga dijaga sama dia, cuman akhirnya keuntungan mereka jadi menipis dong, karena kos produksi mereka menjadi naik, karena harga plastik ini naik gitu,” kata Maman di Kompleks Smesco Indonesia, Jakarta.
Di sisi pasokan, pemerintah bersama industri plastik tengah mencari bahan baku nafta dari negara selain Asia Barat atau Timur Tengah. Langkah ini ditempuh karena sekitar 70 persen pasokan nafta dunia berasal dari kawasan yang tengah terdampak konflik.
Maman menyebut industri plastik sudah mengidentifikasi sumber baru dari Afrika, India, dan Amerika Serikat. Namun, proses administrasi dan pengiriman masih berlangsung sehingga efeknya belum langsung terasa di pasar.
Opsi jangka panjang dan risiko bagi usaha kecil
Untuk jangka panjang, pemerintah mengkaji produksi plastik dari bahan baku domestik. Singkong dan rumput laut disebut sebagai alternatif yang potensial, sementara Wakil Menteri Perindustrian Faisol Riza menambahkan minyak sawit mentah atau CPO juga dapat menjadi bahan baku plastik.
Arah kebijakan ini penting karena usaha mikro sangat sensitif terhadap perubahan harga kemasan. Saat biaya plastik naik cepat, pedagang kecil sering tidak punya ruang untuk menyesuaikan harga tanpa kehilangan pembeli.
Dalam situasi seperti ini, ketahanan usaha mikro bergantung pada stabilitas bahan baku dan kelancaran distribusi. Jika tekanan harga kemasan terus berlanjut, pelaku usaha kecil berpotensi makin mengurangi volume produksi, membatasi stok harian, dan menahan ekspansi demi menjaga usaha tetap berjalan.







