PT Unilever Indonesia Tbk membantah kabar yang menyebut perusahaan akan menjual lini bisnis jus Buavita. Perseroan menegaskan bahwa merek Buavita masih sepenuhnya berada di bawah kendali Unilever Indonesia dan belum ada aksi korporasi divestasi yang berjalan.
Klarifikasi ini disampaikan untuk merespons spekulasi pasar yang sempat berkembang di tengah perhatian investor terhadap strategi penataan portofolio bisnis emiten konsumer tersebut. Dalam keterbukaan informasi, Corporate Secretary UNVR Mario Abdi Amrillah menegaskan, “Sampai saat ini bisnis jus Buavita milik perusahaan.”
Tidak Ada Perjanjian Jual Beli
Unilever Indonesia menekankan bahwa sampai saat ini belum ada kesepakatan tertulis dengan pihak eksternal terkait pengalihan bisnis Buavita. Perusahaan juga menegaskan belum menandatangani perjanjian jual beli divestasi apa pun dengan calon pembeli.
Pernyataan itu penting karena isu penjualan aset sering memicu reaksi cepat di pasar modal. Dengan membantah adanya transaksi yang sedang berjalan, perusahaan berupaya menjaga kejelasan informasi agar publik dan investor tidak bersandar pada rumor.
Kepatuhan pada Regulasi Pasar Modal
Manajemen Unilever Indonesia menyebut setiap keputusan strategis akan mengacu pada aturan pasar modal yang berlaku. Perseroan juga menyatakan akan menyampaikan informasi material melalui kanal resmi bila ada perkembangan yang benar-benar berdampak pada kinerja atau struktur bisnis perusahaan.
Mario kembali menegaskan, “Hingga saat ini tidak ada informasi atau kejadian material yang dapat mempengaruhi kelangsungan hidup maupun harga saham perseroan yang harus disampaikan kepada masyarakat.” Pernyataan ini menunjukkan bahwa perusahaan belum melihat adanya peristiwa yang wajib diumumkan sebagai aksi korporasi material.
Latar Belakang Munculnya Spekulasi
Isu pelepasan Buavita sebelumnya mencuat karena Unilever Indonesia dinilai tengah menata ulang portofolio bisnisnya. Langkah seperti ini lazim dilakukan emiten besar untuk memperkuat fokus pada produk yang dianggap memiliki daya saing lebih tinggi, margin lebih baik, atau prospek pertumbuhan yang lebih menarik.
Dalam konteks industri barang konsumsi, strategi semacam itu kerap menjadi bagian dari efisiensi dan penyederhanaan bisnis. Namun, hingga klarifikasi resmi disampaikan, tidak ada bukti bahwa Unilever Indonesia telah memutuskan menjual Buavita.
Pergerakan Saham Masih Tertekan
Di tengah isu tersebut, saham UNVR masih bergerak di area negatif. Pada penutupan perdagangan Senin, harga saham perseroan terkoreksi 0,52 persen ke level Rp 1.910 per lembar.
Tekanan itu memperpanjang pelemahan saham UNVR sepanjang tahun berjalan. Tercatat, nilai saham emiten konsumer ini sudah turun 26,54 persen sejak awal tahun 2026, yang menunjukkan sentimen pasar terhadap prospek bisnis perseroan masih belum sepenuhnya pulih.
Poin Penting dari Klarifikasi Unilever Indonesia
- Buavita masih dimiliki sepenuhnya oleh Unilever Indonesia.
- Belum ada kesepakatan tertulis dengan pihak luar untuk menjual bisnis tersebut.
- Perusahaan belum menandatangani perjanjian jual beli divestasi.
- Tidak ada informasi material yang dinilai dapat mempengaruhi kelangsungan hidup perusahaan saat ini.
- Manajemen akan menyampaikan perkembangan resmi melalui keterbukaan informasi jika ada aksi korporasi baru.
Klarifikasi resmi ini menjadi penanda bahwa rumor penjualan Buavita belum memiliki dasar transaksi yang dapat dipastikan. Di sisi lain, perhatian investor tetap tertuju pada arah strategi Unilever Indonesia, terutama setelah saham UNVR masih bergerak melemah di tengah perubahan preferensi pasar terhadap emiten konsumer.







