Harga emas dunia mulai menunjukkan upaya pemulihan setelah terkoreksi pada perdagangan sebelumnya. Pergerakan ini terjadi ketika pasar mencermati peluang meredanya ketegangan geopolitik, terutama terkait harapan munculnya kesepakatan antara Amerika Serikat dan Iran.
Pada perdagangan terbaru, emas spot sempat ditutup di US$ 4.751,7 per troy ons setelah melemah 0,24% dari penutupan akhir pekan. Pelemahan itu datang setelah emas mencatat kenaikan selama tiga hari beruntun dengan akumulasi penguatan 2,41%, sehingga pelaku pasar kini menilai arah berikutnya masih sangat dipengaruhi oleh sentimen eksternal.
Dorongan dari isu AS-Iran
Pasar emas kerap bergerak berlawanan dengan sentimen risiko, sehingga kabar soal dialog geopolitik langsung mempengaruhi arah harga. Dalam kasus ini, harapan membaiknya hubungan AS-Iran menjadi salah satu faktor yang mendorong emas berusaha bangkit setelah tekanan jual sebelumnya.
Pembicaraan yang dilakukan di Islamabad, Pakistan, dilaporkan belum menghasilkan kesepakatan tertentu. Namun Presiden AS Donald Trump menyebut ada sejumlah pejabat Iran yang telah menghubungi pemerintahannya untuk “mencapai kesepakatan”, sebagaimana dikutip Bloomberg News.
Perkembangan tersebut membuat investor kembali menimbang kemungkinan perubahan arah kebijakan di pasar global. Jika tensi mereda, aset berisiko biasanya mendapat ruang lebih besar, tetapi emas tetap mendapat dukungan dari posisinya sebagai aset lindung nilai.
Harga minyak ikut melemah
Kabar dari jalur diplomasi juga berdampak ke pasar energi. Pada pukul 07:02 WIB, harga minyak Brent dilaporkan turun hampir 2% ke US$ 97,38 per barel.
Tekanan pada minyak muncul karena pasar menilai prospek kesepakatan AS-Iran bisa membuka peluang pasokan energi yang lebih longgar. Kondisi ini penting bagi emas, sebab pelemahan minyak dapat mengubah ekspektasi inflasi dan memperkuat spekulasi bahwa bank sentral memiliki ruang lebih besar untuk melonggarkan kebijakan moneter.
Ekspektasi suku bunga masih jadi penopang
Emas umumnya diuntungkan saat pasar melihat peluang penurunan suku bunga. Imbal hasil aset berbunga yang lebih rendah membuat emas lebih menarik karena logam mulia ini tidak memberikan kupon atau dividen.
Dengan ekspektasi kebijakan yang berpotensi lebih longgar, minat terhadap emas belum sepenuhnya hilang. Situasi ini membantu logam mulia tersebut bertahan di level tinggi, meski tekanan jangka pendek masih muncul dari aksi ambil untung setelah penguatan sebelumnya.
Sinyal teknikal masih campuran
Dari sisi teknikal, emas masih berada di zona bullish pada kerangka harian. Relative Strength Index (RSI) 14 hari berada di level 51, yang menunjukkan kondisi pasar masih netral cenderung positif.
Berbeda dengan itu, Stochastic RSI 14 hari berada di angka 98, yang menandakan kondisi jenuh beli. Sinyal ini menunjukkan ruang kenaikan masih ada, tetapi pasar juga rentan terhadap koreksi singkat jika tekanan jual meningkat.
Berikut level penting yang dipantau pelaku pasar:
- Support terdekat: US$ 4.740 per troy ons
- Pivot point: US$ 4.720 per troy ons
- MA-10: US$ 4.706 per troy ons
- Support terjauh: US$ 4.568 per troy ons
- Resistensi terdekat: US$ 4.764 per troy ons
Level-level tersebut menjadi acuan penting bagi trader yang membaca peluang pemulihan harga emas dalam jangka pendek. Selama pasar masih menimbang arah diplomasi AS-Iran dan ekspektasi kebijakan suku bunga, harga emas berpeluang tetap bergerak volatil dengan kecenderungan mencoba mempertahankan pemulihan di atas area support terdekat.
