BI Yakin Ekonomi Kuartal I 2026 Tembus 5,2 Persen, Saat Dunia Masih Tak Pasti

Bank Indonesia memperkirakan pertumbuhan ekonomi Indonesia pada kuartal pertama akan tetap berada di atas 5 persen, dengan proyeksi di kisaran 5,2 persen. Perkiraan ini disampaikan di tengah ketidakpastian ekonomi global yang masih membayangi, namun BI melihat daya tahan ekonomi domestik tetap menjadi penopang utama.

Deputi Gubernur Senior BI Destry Damayanti menyampaikan proyeksi tersebut dalam Central Banking Forum di Jakarta. Ia menilai konsumsi rumah tangga dan aktivitas produksi masih cukup kuat untuk menjaga laju pertumbuhan, meski angka proyeksi itu sedikit lebih rendah dibandingkan realisasi kuartal sebelumnya yang mencapai 5,39 persen.

Konsumsi rumah tangga masih menjadi jangkar utama

BI mencermati bahwa daya beli masyarakat menunjukkan perbaikan, terutama pada kelompok berpendapatan menengah ke atas. Salah satu indikator yang dipakai adalah Indeks Penghasilan Saat Ini atau IPSI, yang naik ke 129,2 pada Maret dari 125 pada bulan sebelumnya.

Jika dibandingkan dengan periode yang sama pada tahun sebelumnya, kenaikan itu terlihat lebih jelas. Pada Maret tahun lalu, IPSI tercatat 121,5, yang menunjukkan adanya penguatan persepsi masyarakat terhadap kondisi pendapatan saat ini.

Kelompok berpenghasilan tinggi menunjukkan optimisme lebih besar

Data BI juga memperlihatkan keyakinan konsumen terhadap penghasilan saat ini meningkat di seluruh kelompok pengeluaran. Kelompok dengan pengeluaran di atas Rp 5 juta mencatat angka tertinggi, yakni 135,9, yang menandakan tingkat optimisme yang lebih kuat.

Meski begitu, BI menilai perhatian tetap perlu diarahkan kepada kelompok berpendapatan rendah. Kelompok ini lebih rentan menghadapi tekanan ekonomi, terutama ketika harga kebutuhan pokok bergerak naik atau ketidakpastian pendapatan meningkat.

Industri dan produksi memberi sinyal positif

Selain konsumsi, BI juga melihat sisi produksi masih memberi ruang bagi pertumbuhan ekonomi. Purchasing Managers’ Index atau PMI diperkirakan membaik, sehingga membuka peluang kenaikan output di bulan-bulan berikutnya.

S&P Global sebelumnya mencatat PMI Indonesia di level 50,1. Angka itu memang menunjukkan ekspansi yang tipis, tetapi tetap menandakan sektor manufaktur belum kehilangan momentum secara keseluruhan.

Faktor yang menopang proyeksi pertumbuhan

Beberapa indikator utama yang menjadi dasar optimisme BI dapat diringkas sebagai berikut:

  1. Konsumsi rumah tangga masih kuat dan menjadi penopang utama ekonomi.
  2. IPSI meningkat dari bulan sebelumnya dan mencerminkan perbaikan penghasilan yang dirasakan masyarakat.
  3. Keyakinan konsumen menguat di seluruh kelompok pengeluaran.
  4. PMI memberi sinyal adanya potensi kenaikan produksi.
  5. Ekspektasi dunia usaha membaik meski tekanan global masih ada.

Dengan kombinasi faktor tersebut, BI menilai ekonomi Indonesia masih berada pada jalur pertumbuhan yang relatif solid. Di saat banyak negara menghadapi perlambatan, ketahanan permintaan domestik menjadi pembeda penting bagi Indonesia.

Tantangan tetap perlu diwaspadai

Meski proyeksinya positif, BI tidak menutup mata terhadap risiko eksternal yang masih tinggi. Ketidakpastian global, perubahan arah kebijakan suku bunga negara maju, serta perlambatan perdagangan dunia tetap dapat memengaruhi perekonomian nasional.

Di sisi dalam negeri, ketahanan kelompok berpendapatan rendah juga menjadi perhatian karena mereka paling mudah terdampak oleh tekanan harga dan perubahan biaya hidup. Karena itu, stabilitas konsumsi perlu dijaga agar pertumbuhan tidak hanya bertahan, tetapi juga merata.

Dalam konteks ini, proyeksi BI menunjukkan bahwa ekonomi Indonesia masih memiliki fondasi yang cukup kuat untuk tumbuh di atas 5 persen pada awal periode 2026, dengan konsumsi, produksi, dan ekspektasi pelaku usaha tetap menjadi mesin utama yang menjaga momentum.

Exit mobile version