PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk memastikan pelemahan rupiah terhadap dolar AS belum mengubah besaran cicilan KPR nasabah. Kepastian itu disampaikan di tengah pergerakan rupiah di pasar spot yang melemah 16 poin ke level Rp 17.143 per dolar AS.
Direktur Utama BTN Nixon LP Napitupulu menegaskan bahwa bisnis BTN pada dasarnya berputar di rupiah, baik untuk penyaluran kredit maupun sumber pendanaan. Karena itu, cicilan KPR tidak memiliki keterkaitan langsung dengan dolar AS.
Mengapa cicilan KPR BTN belum terdampak
BTN menyusun pembiayaan perumahan dengan mata uang domestik, sehingga perubahan nilai tukar tidak otomatis masuk ke perhitungan angsuran nasabah. Nixon menegaskan, “Sementara enggak (berpengaruh ke cicilan KPR BTN). Karena kita kan rupiah. Mau dollar AS berapa kita nggak ada urusan.”
Struktur ini membuat KPR BTN berbeda dari produk yang terpapar langsung pada pergerakan valuta asing. Dalam konteks perbankan ritel, nasabah biasanya lebih merasakan dampak dari perubahan suku bunga daripada fluktuasi kurs.
Faktor yang lebih menentukan cicilan
Menurut Nixon, skema KPR BTN jauh lebih sensitif terhadap perubahan BI Rate dibandingkan nilai tukar. Saat ini, BI Rate terpantau stabil di posisi 4,75 persen sejak September lalu, sehingga tekanan langsung ke cicilan belum terlihat.
Artinya, selama suku bunga acuan tetap bertahan, beban angsuran nasabah cenderung terjaga. Namun jika arah kebijakan moneter berubah, biaya kredit juga bisa ikut bergerak.
Risiko tidak langsung dari pelemahan rupiah
Meski belum berdampak langsung, BTN mengakui pelemahan rupiah yang berkepanjangan dapat memunculkan efek lanjutan. Bila tekanan kurs terus berlanjut, Bank Indonesia berpeluang mengambil langkah pengetatan untuk menjaga stabilitas nilai tukar dan inflasi.
Kondisi itu berpotensi mendorong kenaikan suku bunga acuan, lalu merembet ke bunga kredit perbankan nasional. Pada tahap ini, cicilan KPR bisa ikut menyesuaikan karena bank akan menghadapi biaya pendanaan yang lebih tinggi.
Pandangan dari industri perbankan
Senior Vice President Lembaga Pengembangan Perbankan Indonesia, Trioksa Siahaan, menilai perubahan cicilan KPR lebih banyak ditentukan oleh biaya dana bank. Biaya dana itu sangat dipengaruhi oleh kebijakan otoritas moneter dan kondisi likuiditas di pasar.
Trioksa juga menjelaskan bahwa jika pelemahan kurs memicu kenaikan bunga kredit, maka cicilan nasabah pada akhirnya dapat ikut naik. “Kenaikan cicilan bergantung pada kenaikan atau fluktuasi suku bunga, bila dampak dari kenaikan kurs dollar adalah bunga kredit juga ikut naik maka cicilan kredit juga akan naik,” ujarnya.
Ia menambahkan, saat nilai tukar tertekan, bank sentral umumnya memperketat kebijakan makroekonomi. Langkah tersebut membuat bank perlu membayar lebih mahal saat menghimpun dana dari masyarakat lewat tabungan dan deposito.
Hal yang perlu diperhatikan nasabah KPR
Berikut sejumlah faktor yang paling relevan bagi nasabah KPR BTN:
- Suku bunga acuan Bank Indonesia
- Biaya dana atau cost of fund perbankan
- Kebijakan suku bunga kredit dari bank
- Stabilitas nilai tukar rupiah dalam jangka panjang
- Kondisi likuiditas di pasar keuangan
Dengan demikian, pelemahan rupiah belum otomatis menaikkan cicilan KPR BTN karena skema pembiayaannya berbasis rupiah. Namun nasabah tetap perlu mencermati arah suku bunga, karena faktor itulah yang paling cepat memengaruhi besar kecilnya angsuran di sektor perbankan.
