
IHSG bergerak menguat pada perdagangan Senin dan menutup sesi di level 7.500,19 setelah naik 0,56 persen atau 41,69 poin di Bursa Efek Indonesia. Penguatan ini terjadi di tengah pergerakan pasar yang masih beragam, dengan nilai transaksi mencapai sekitar Rp 19,83 triliun, volume 42,09 miliar saham, dan frekuensi 2,54 juta kali transaksi.
Kenaikan indeks terjadi ketika saham-saham di sektor komoditas tampil dominan dan menopang sentimen pasar. Sebanyak 397 saham menguat, sementara 264 saham melemah, menandakan minat beli masih cukup kuat meski beberapa sektor utama tetap tertekan.
Sektor energi dan bahan baku jadi penopang utama
Penguatan paling besar datang dari sektor energi yang naik 2,64 persen. Sektor barang baku juga mencatat kenaikan 2,36 persen, sehingga dua kelompok saham berbasis komoditas ini menjadi pendorong utama kenaikan IHSG pada awal pekan.
Pergerakan tersebut selaras dengan sentimen global yang cenderung positif terhadap harga energi dan bahan baku. Ketika harga komoditas membaik, saham-saham yang terkait dengan produksi dan perdagangan sumber daya alam biasanya mendapat dorongan tambahan dari ekspektasi pendapatan yang lebih tinggi.
Tekanan masih terasa di sektor keuangan
Meski IHSG menguat, tidak semua sektor ikut bergerak positif. Sektor keuangan justru menjadi pemberat terbesar dengan penurunan 1,31 persen, padahal sektor ini selama ini dikenal memiliki bobot besar dalam pergerakan indeks.
Sektor kesehatan juga melemah 0,23 persen, sedangkan sektor transportasi turun tipis 0,02 persen. Kondisi ini menunjukkan penguatan IHSG belum didukung secara merata, melainkan bertumpu pada sektor-sektor tertentu yang memiliki katalis khusus.
Pergerakan saham unggulan di indeks LQ45
Di kelompok saham unggulan, PT Barito Pacific Tbk (BRPT) mencatat kenaikan paling tinggi di indeks LQ45 dengan lonjakan 14,36 persen. PT Medco Energi Internasional Tbk (MEDC) juga menguat 6,11 persen, mempertegas dominasi saham berbasis energi dalam mendorong pasar.
Sebaliknya, PT Trimegah Bangun Persada Tbk (NCKL) menjadi salah satu saham yang terkoreksi dengan penurunan 3,93 persen. Pergerakan saham-saham ini memberi gambaran bahwa investor masih melakukan seleksi ketat terhadap emiten, terutama di tengah dinamika harga komoditas dan prospek masing-masing sektor.
Gambaran perdagangan yang masih selektif
Data perdagangan menunjukkan pasar aktif, dengan transaksi besar dan volume tinggi, tetapi arah pergerakan tetap terpecah. Kondisi ini menandakan investor tidak hanya mengikuti indeks secara umum, melainkan juga membedakan peluang antar sektor berdasarkan sentimen dan kinerja emiten.
Bagi pelaku pasar, fokus ke depan akan tertuju pada keberlanjutan penguatan sektor energi dan bahan baku, terutama jika harga komoditas global tetap memberi dukungan. Di saat yang sama, pergerakan sektor keuangan akan menjadi perhatian karena bobotnya yang besar masih dapat memengaruhi arah IHSG pada perdagangan berikutnya.









