Iran Buka Penuh Selat Hormuz, Harga Minyak Dunia Langsung Anjlok 11 Persen

Pemerintah Iran membuka kembali Selat Hormuz untuk seluruh lalu lintas komersial setelah ketegangan militer dengan Amerika Serikat dan Israel mereda. Keputusan ini langsung mengguncang pasar energi karena harga minyak mentah turun tajam sesaat setelah pengumuman itu muncul.

Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, menyampaikan bahwa jalur pelayaran itu kini “sepenuhnya terbuka” selama sisa periode gencatan senjata di Lebanon. Ia menegaskan bahwa pembukaan kembali dilakukan melalui rute yang sudah dikoordinasikan dengan otoritas pelabuhan dan maritim Iran agar kapal-kapal komersial dapat melintas dengan lebih aman.

Pembukaan selat dan sinyal meredanya ketegangan

Selat Hormuz memegang peranan penting dalam perdagangan energi dunia karena menjadi jalur strategis bagi kapal-kapal niaga. Saat akses di kawasan itu kembali dibuka penuh, pelaku pasar membaca langkah Iran sebagai sinyal bahwa risiko gangguan pasokan mulai menurun setidaknya untuk sementara.

Araghchi menyebut keputusan tersebut sejalan dengan kesepakatan gencatan senjata di Lebanon yang melibatkan Hizbullah dan militer Israel. Pernyataan itu menempatkan pembukaan selat bukan hanya sebagai kebijakan pelayaran, tetapi juga sebagai bagian dari dinamika diplomatik yang lebih luas di kawasan Timur Tengah.

Respons pasar minyak langsung melemah

Dampak paling cepat terlihat di pasar energi global. Harga minyak mentah Brent tercatat merosot lebih dari 11 persen ke sekitar US$88 per barel di London setelah pengumuman pembukaan Selat Hormuz.

Penurunan tajam ini menghapus sebagian lonjakan harga yang sebelumnya muncul sejak konflik pecah pada akhir Februari lalu, menurut laporan Bloomberg News. Bagi pasar, kabar bahwa jalur pengiriman energi utama kembali normal membuat kekhawatiran terhadap kelangkaan pasokan berkurang.

Pernyataan dari AS ikut menambah sentimen pasar

Presiden Amerika Serikat Donald Trump turut merespons kebijakan Teheran itu dengan nada positif. Melalui media sosial, Trump menyambut baik kesiapan Selat Hormuz untuk kembali melayani lalu lintas perdagangan internasional secara penuh.

Pernyataan singkat Trump, “SEPENUHNYA TERBUKA DAN SIAP UNTUK LALU LINTAS PENUH,” ikut memperkuat persepsi pasar bahwa situasi di jalur strategis itu berada dalam fase yang lebih stabil. Meski begitu, arah harga minyak tetap bergantung pada perkembangan lanjutan di kawasan dan kestabilan gencatan senjata yang sedang berjalan.

Negosiasi dan tenggat gencatan senjata masih menjadi perhatian

Pembukaan kembali selat ini juga tidak lepas dari rangkaian negosiasi yang berlangsung sepanjang pekan antara Iran dan Amerika Serikat melalui mediator Pakistan. Proses itu disebut terus berjalan hingga mendekati berakhirnya masa gencatan senjata pada 21 April 2026.

Kondisi tersebut membuat pembukaan Selat Hormuz dipahami sebagai langkah pragmatis untuk menjaga kelancaran perdagangan sekaligus menahan eskalasi lebih lanjut. Di sisi lain, pasar masih menilai apakah kebijakan ini akan bertahan setelah masa gencatan senjata selesai.

Bagi industri energi, keputusan Iran menjadi penanda penting karena setiap perubahan status di Selat Hormuz biasanya berdampak cepat pada sentimen harga minyak dunia. Selama jalur itu tetap terbuka penuh dan pengawasan keamanan berjalan sesuai koordinasi, tekanan terhadap harga minyak berpotensi tetap mereda.

Exit mobile version