Ketepatan Waktu Jadi Penentu Mudik Lebaran 2026, Garuda Unggul Saat Penumpang Tak Lagi Toleran Delay

Ketepatan waktu menjadi salah satu faktor paling menentukan dalam pilihan maskapai untuk mudik Lebaran. Survei Jakpat terhadap 338 responden menunjukkan bahwa penumpang domestik kini tidak hanya mencari penerbangan yang aman, tetapi juga jadwal yang presisi saat mobilitas meningkat di periode Lebaran.

Temuan itu memperlihatkan perubahan perilaku konsumen yang cukup jelas. Di tengah pilihan transportasi mudik, pesawat tetap menjadi moda umum paling diminati dengan 61 persen, melampaui kereta api 36 persen dan bus 31 persen, meski 70 persen pemudik masih mengandalkan kendaraan pribadi.

Ketepatan waktu naik kelas jadi kebutuhan utama

Dalam survei tersebut, aspek keamanan dan keselamatan menempati posisi teratas sebagai pertimbangan memilih maskapai, dengan 84 persen responden. Setelah itu, ketepatan waktu menyusul sangat dekat di angka 82 persen, disusul harga tiket yang ekonomis sebesar 80 persen.

Pola ini menunjukkan bahwa konsumen menilai maskapai tidak cukup hanya menawarkan tarif dan jaringan rute. Penumpang juga menuntut kepastian keberangkatan dan kedatangan, terutama saat musim mudik yang identik dengan jadwal padat dan risiko keterlambatan.

Delay masih jadi titik lemah maskapai

Head of Research Jakpat, Aska Primardi, menegaskan bahwa ketepatan waktu tetap menjadi faktor penting bagi pengguna maskapai penerbangan. Ia juga mengingatkan bahwa dalam praktiknya, indikator ini belum selalu terpenuhi, terutama ketika periode mudik memicu tingginya potensi delay.

Kondisi tersebut membuat penumpang semakin kritis dalam menentukan pilihan. Bagi banyak pemudik, keterlambatan bukan sekadar gangguan kecil, tetapi bisa memengaruhi rangkaian perjalanan lanjutan dan waktu berkumpul bersama keluarga.

Garuda Indonesia dan Citilink masih kuat di benak penumpang

Dari sisi penggunaan dan preferensi, Garuda Indonesia dan Citilink sama-sama berada di posisi teratas dengan tingkat penggunaan masing-masing 39 persen. Lion Air menyusul 38 persen, sementara Batik Air mencatat 29 persen dan AirAsia 21 persen.

Untuk rencana mudik berikutnya, preferensi responden terlihat relatif stabil. Sebanyak 58 persen menyatakan berniat menggunakan Garuda Indonesia, diikuti Citilink 51 persen dan Batik Air 43 persen, yang menandakan citra merek masih berperan besar dalam keputusan konsumen.

Citra ketepatan jadwal ikut mendukung pilihan penumpang

Dalam persepsi publik, Garuda Indonesia dinilai unggul pada aspek ketepatan jadwal dengan 70 persen dan keamanan 49 persen. Di sisi lain, Lion Air lebih kuat pada atribut harga terjangkau dengan angka 66 persen, sehingga persaingan antarmaskapai tetap ditentukan oleh keunggulan masing-masing.

Aska menyebut brand image Garuda Indonesia masih lebih unggul untuk atribut ketepatan waktu. Posisi itu kemudian dipertegas oleh asosiasi yang kuat pada keselamatan dan kenyamanan, dua hal yang menjadi perhatian utama penumpang saat periode perjalanan padat.

Kinerja operasional ikut memperkuat kepercayaan

Di lapangan, Garuda Indonesia mencatat on time performance atau OTP sebesar 92,08 persen pada puncak arus Lebaran 1447 H. Angka ini lebih tinggi dibandingkan OTP tahun 2025 yang sebesar 87,12 persen dan tahun 2024 sebesar 86,07 persen.

Direktur Operasi Garuda Indonesia, Dani Haikal Iriawan, menilai capaian tersebut mencerminkan perbaikan kinerja operasional di tengah lonjakan volume penumpang. Ia menyebut peningkatan itu sebagai indikator kuat konsistensi perusahaan dalam mengelola intensitas penerbangan tinggi saat peak season.

Data Kementerian Perhubungan juga memperlihatkan besarnya arus mobilitas Lebaran, dengan pergerakan orang pada 13 hingga 29 Maret 2026 mencapai 147,55 juta jiwa. Dari jumlah itu, angkutan udara melayani 4,77 juta penumpang atau naik 6,97 persen dibandingkan tahun sebelumnya, sehingga ketepatan waktu semakin menjadi pembeda penting di tengah padatnya kebutuhan perjalanan.

Terkait