Patrick Walujo Angkat Kaki Dari DOID, Kendali Pindah Ke Manajemen Internal

Patrick Walujo resmi tidak lagi tercatat dalam konsorsium pengendali PT BUMA Internasional Grup Tbk (DOID) setelah struktur kepemilikan Northstar Tambang Persada Ltd berubah. Peralihan ini membuat kendali akhir konsorsium berpindah ke manajemen internal perusahaan, dengan Souls Humanity Pte Ltd sebagai pemegang penuh kendaraan investasi tersebut.

Perubahan itu menandai akhir peran Patrick sebagai investor melalui Northstar Tambang Persada Ltd, kendaraan yang selama belasan tahun memegang saham besar DOID. Konsorsium ini diketahui masuk pada 2009 dan membeli 40 persen saham DOID dengan nilai transaksi US$350 juta dari tiga pengendali lama, yakni Lion Trust, Amicorp Trustees, dan Credence Trust.

Perubahan Kendali di Tubuh Konsorsium

Direktur DOID Iwan Fuad Salim mengonfirmasi bahwa saham dalam konsorsium pengelola dana itu telah berpindah tangan. Ia menyebut pergeseran kepemilikan tersebut sebenarnya sudah dimulai sejak paruh pertama 2021 melalui perjanjian convertible note.

“Northstar Tambang Persada Ltd saat ini 100% dimiliki oleh Souls Humanity Pte Ltd, dengan Pak Ronald Sutardja dan Pak Ashish Gupta sebagai penerima manfaat akhir,” kata Iwan saat dikonfirmasi, Jumat (17/4/2026). Pernyataan itu sekaligus menegaskan bahwa struktur pengendali kini tidak lagi berada di bawah Patrick Walujo.

Souls Humanity Pte Ltd sendiri dikendalikan oleh Ronald Sutardja, yang menjabat Direktur Utama DOID, dan Ashish Gupta, yang menjadi komisaris perseroan. Keduanya juga tercatat memiliki saham atas nama pribadi masing-masing sebesar 2,91 persen dan 2,61 persen berdasarkan data pemegang saham per Maret 2026.

Posisi Saham DOID Masih Kuat di Tangan Konsorsium

Meski kepemilikan Patrick telah keluar dari konsorsium, Northstar Tambang Persada Ltd masih menjadi pemegang saham utama DOID. Berdasarkan data per Maret 2026, kendaraan investasi itu masih menggenggam 38,22 persen saham perusahaan.

Struktur ini menunjukkan bahwa perubahan terjadi pada siapa yang berada di balik konsorsium, bukan pada hilangnya posisi strategis konsorsium di emiten tambang tersebut. Dengan kata lain, peta kepemilikan DOID tetap memberi pengaruh besar pada kelompok yang kini dikendalikan Ronald Sutardja dan Ashish Gupta.

Kinerja DOID Tertekan pada 2025

Di saat perubahan struktur kepemilikan berlangsung, DOID juga menghadapi tekanan kinerja yang cukup besar. Perseroan membukukan rugi bersih US$116,2 juta atau sekitar Rp1,93 triliun sepanjang 2025, lebih dalam dibandingkan rugi US$61,31 juta pada periode sebelumnya.

Iwan menjelaskan bahwa awal tahun lalu operasional perusahaan mengalami hambatan besar. Penurunan volume produksi batu bara dan overburden menjadi penyebab utama turunnya pendapatan perseroan sebesar 16 persen.

“Gangguan yang kami hadapi pada kuartal pertama berdampak signifikan terhadap produksi dan pendapatan, sekaligus menunjukkan area-area di mana pendekatan kami dapat diperkuat,” ujarnya dalam keterangan resmi. Pernyataan itu menggambarkan bahwa tekanan operasional menjadi salah satu isu utama yang memengaruhi performa keuangan DOID.

Langkah Perusahaan Menahan Tekanan

Manajemen menyebut telah mengambil sejumlah langkah untuk meredam dampak penurunan tersebut. Fokus utama diarahkan pada pengetatan biaya operasional, penguatan pemeliharaan alat berat, dan upaya menjaga likuiditas perusahaan.

Iwan mengatakan perusahaan merespons kondisi itu dengan cepat melalui disiplin operasional yang lebih ketat dan pengendalian biaya yang lebih kuat. Langkah tersebut juga ditujukan untuk memperkuat neraca keuangan agar perusahaan lebih siap menghadapi tekanan bisnis yang masih mungkin muncul.

Di tengah tekanan laba, DOID mengklaim mulai menunjukkan pemulihan pada akhir 2025. Perusahaan mencatat arus kas bebas positif sebesar US$8 juta, berbalik dari arus kas negatif US$60 juta pada 2024.

Perubahan kendali di konsorsium yang dulu dikaitkan dengan Patrick Walujo kini berjalan beriringan dengan fase penyehatan bisnis DOID. Di sisi kepemilikan, kendali beralih ke Souls Humanity Pte Ltd, sementara di sisi operasional perusahaan masih berupaya menjaga stabilitas setelah setahun penuh dibayangi pelemahan produksi dan kerugian yang melebar.

Berita Terkait

Back to top button