Kinerja rupiah pada kuartal I-2026 bergerak semakin berat dan membuat pasar memerhatikan langkah Bank Indonesia dengan lebih cermat. Sejak awal tahun hingga Senin (20/4/2026), rupiah sudah melemah 2,81% dan duduk sebagai mata uang kedua terlemah di Asia, hanya lebih baik dari rupee India yang turun 3,28%.
Tekanan itu belum mereda pada pekan ketiga April. Sejak awal April, rupiah berada di kisaran Rp17.000/US$ hingga Rp17.190/US$, yang sekaligus menandai level terendah sepanjang masa pada penutupan perdagangan Jumat (17/4/2026).
Ruang BI Makin Sempit
Pelemahan rupiah membuat ruang pelonggaran moneter mengecil, padahal perekonomian domestik masih membutuhkan dorongan. Dalam situasi ini, Bank Indonesia dinilai sulit leluasa menurunkan suku bunga acuan karena stabilitas nilai tukar menjadi perhatian utama.
Rapat Dewan Gubernur BI yang dijadwalkan pekan ini diperkirakan tetap mempertahankan BI Rate di 4,75%. Konsensus Bloomberg menunjukkan 22 ekonom yang disurvei kompak memperkirakan tidak ada perubahan pada tingkat suku bunga.
Sinyal tersebut menegaskan bahwa kebijakan moneter masih harus menunggu kondisi yang lebih stabil. Jika BI terlalu cepat melonggarkan kebijakan, tekanan pada rupiah bisa bertambah di tengah pasar yang masih sensitif terhadap risiko global.
Dolar AS Menguat, Minyak Mentah Kembali Mahal
Rupiah juga tertekan oleh menguatnya dolar Amerika Serikat dan naiknya kembali harga minyak mentah. Dua faktor ini memperburuk sentimen pasar karena mendorong permintaan terhadap aset aman dan meningkatkan kekhawatiran pada harga-harga energi.
Harga minyak mentah yang bertahan di atas US$90 per barel dinilai berpotensi mendorong inflasi utama menembus batas target BI pada kuartal II. Kondisi tersebut ikut memunculkan kekhawatiran stagflasi, yakni saat harga naik tetapi pertumbuhan ekonomi tidak bergerak kuat.
Sebelum lonjakan harga minyak, rupiah sebenarnya sudah lebih dulu menghadapi tekanan dari risiko fiskal dan potensi penurunan peringkat oleh sejumlah lembaga pemeringkat, termasuk Moody’s dan Fitch Ratings. Kombinasi faktor itu membuat investor semakin berhati-hati terhadap aset rupiah.
Tekanan Mulai Masuk ke Sektor Riil
Pelemahan rupiah kini tidak berhenti di pasar keuangan. Tekanan itu mulai merembes ke sektor riil lewat kenaikan biaya energi dan berpotensi menekan daya beli masyarakat.
PT Pertamina (Persero) pada akhir pekan lalu menaikkan harga sejumlah BBM non-subsidi. Pertamax Turbo naik dari Rp13.100 menjadi Rp19.400 per liter, Dexlite dari Rp14.200 menjadi Rp23.600 per liter, dan Pertamina Dex dari Rp14.500 menjadi Rp23.900 per liter.
Kenaikan harga energi ini bisa membebani kelas menengah yang berada di posisi serba tanggung. Kelompok ini tidak menikmati BBM subsidi, tetapi juga paling rentan ketika biaya hidup naik lebih cepat dari pertumbuhan pendapatan.
Di sisi lain, harga Pertalite tetap Rp10.000 per liter dan solar subsidi berada di Rp6.800 per liter. Namun, konsumen non-subsidi tetap harus menanggung dampak pelemahan rupiah dan mahalnya minyak dunia melalui harga yang lebih tinggi.
Inflasi Energi Jadi Perhatian
Data inflasi Maret tercatat 3,48% secara tahunan dan masih berada di bawah target inflasi BI di kisaran 1,5% hingga 3,5%. Meski begitu, sumber utama inflasi bulan lalu berasal dari biaya energi sebesar 9,08%, sehingga perubahan harga BBM berpotensi kembali mengerek inflasi pada bulan berjalan.
Situasi ini membuat BI berada dalam posisi yang serba terbatas. Di satu sisi, ekonomi domestik membutuhkan stimulus, tetapi di sisi lain pelemahan rupiah, kenaikan harga minyak, dan tekanan inflasi energi membuat bank sentral harus lebih berhati-hati menjaga stabilitas harga dan nilai tukar.
