Startup teknologi asal Nigeria, Terrahaptix Inc., tengah memperluas langkah bisnisnya dengan membangun pabrik manufaktur drone pertama di Accra, Ghana. Fasilitas ini disiapkan untuk memproduksi pesawat tak berawak kelas menengah dan sistem pertahanan, sekaligus menjadi basis manufaktur regional perusahaan di Afrika Barat.
Ekspansi tersebut lahir di tengah meningkatnya ancaman kelompok separatis di kawasan Sahel dan sekitarnya. Terrahaptix melihat kebutuhan yang semakin besar terhadap teknologi tandingan setelah drone komersial dimodifikasi untuk menyerang pos-pos militer secara lebih efektif.
Dorongan bisnis dan keamanan regional
Terrahaptix memandang pabrik di Ghana sebagai langkah strategis untuk memperkuat pasokan sistem udara tak berawak di kawasan. Perusahaan ini juga disebut baru mengumpulkan modal sebesar US$34 juta atau sekitar Rp583 miliar dari investor global, termasuk Lux Capital dan Joe Lonsdale.
Dana tersebut menjadi penopang penting bagi ekspansi produksi dan pengembangan sistem tempur udara. Dengan dukungan modal itu, Terrahaptix mempercepat pembangunan fasilitas di Accra agar dapat melayani kebutuhan pertahanan yang meningkat di Afrika Barat.
Ancaman baru di medan konflik
Kawasan Sahel kini menjadi salah satu titik rawan karena kelompok separatis memanfaatkan drone komersial yang dimodifikasi. Pola serangan itu dinilai membuat situasi keamanan berubah cepat dan memaksa pihak industri pertahanan menyesuaikan teknologi mereka.
Salah satu pendiri Terrahaptix, Nathan Nwachukwu, menyebut peningkatan penggunaan drone semacam itu terjadi sangat tajam. Ia menilai sistem pertahanan elektronik konvensional semakin sulit diandalkan ketika berhadapan dengan taktik baru, termasuk penggunaan serat optik.
“Kami kini melihat taktik dan teknologi dari konflik di Timur Tengah dan Eropa Timur mulai muncul di Afrika,” kata Nwachukwu. Ia juga menegaskan bahwa sistem serat optik membuat pertahanan elektronik tradisional menjadi kurang efektif.
Pabrik Accra digenjot menuju operasi penuh
Fasilitas manufaktur di Accra saat ini berada pada tahap akhir pembangunan. Terrahaptix menargetkan pabrik tersebut mulai beroperasi penuh pada akhir Juni 2026 untuk memenuhi permintaan dari Komunitas Ekonomi Negara-Negara Afrika Barat atau ECOWAS.
Perusahaan juga menyebut telah melakukan serangkaian uji coba sistem pencegat drone bersama sejumlah negara di Afrika Barat. Uji coba itu menunjukkan bahwa Terrahaptix tidak hanya membangun kapasitas produksi, tetapi juga menyiapkan solusi yang relevan dengan kebutuhan militer regional.
Dalam pernyataannya, perusahaan memproyeksikan produksi bisa mencapai 50.000 unit dalam dua tahun pertama. Target itu didorong terutama oleh permintaan militer di seluruh Afrika Barat, khususnya dari wilayah ECOWAS.
Persaingan teknologi pertahanan yang makin menajam
Langkah Terrahaptix menegaskan bahwa industri pertahanan di Afrika kini ikut terdorong oleh perubahan pola konflik. Drone yang dulu identik dengan perangkat komersial dan pengawasan sipil, kini berkembang menjadi alat serangan yang memaksa lahirnya sistem pencegatan baru.
Bagi Terrahaptix, kehadiran pabrik di Ghana bukan hanya soal kapasitas produksi, tetapi juga soal kesiapan menghadapi ancaman yang terus berevolusi. Dengan basis manufaktur di Accra, perusahaan berupaya memperkuat posisi di pasar pertahanan regional saat permintaan terhadap teknologi udara tak berawak terus meningkat di Afrika Barat.







